Sejak dulu Nusantara memang sudah memikat dunia dengan seni tradisinya, namun tak mampu bicara banyak dalam keilmuan musik tradisi karena posisi nusantara yang dikuasai bangsa lain. Tak terelakkan, Sunda pun menjadi bagian yang tak bisa menghindari kedatangan Belanda, tepatnya sejak kebijakan tanam paksa diberlakukan.

Meski di bawah bangsa lain, terbukti musik tradisi masih hidup subur, hanya dengan mengandalkan tradisi oral dan minim literatur atau partitur-partitur.

Musik dan atau unsurnya selalu ada dalam setiap budaya, baik dalam tradisi Barat, tradisi Timur, ataupun Timur Tengah. Di Barat, pengaruhnya jelas dapat kita rasakan karena industri musik dunia berkiblat pada musik diatonis.

Di sisi lain, musik-musik dengan tangga nada pentatonis (kecenderungan pada tradisi non barat), jarang sekali terakomodir oleh industri dan media. Diatonis telah diteorikan sejak jaman Phytagoras (abad 5 SM).

Naskah musik Yunani kuno, meski hampir tidak ada, namun keberadaannya dapat ditelusur dari musik Romawi melalui musik gereja abad pertengahan. Sampai saat ini, kemudahan bermain musik dapat kita nikmati melalui software musik termutakhir berkat pengembangan teori musik dan sains.

Di duniat Timur Tengah, musik telah diyakini ada sejak 300-an masehi. Namun, partitur-partitur musik baru ditemukan ketika kepemimpinan Ummayah.

Musik Arab yang dikenal dengan istilah “Al Musiqa Al arabia” telah mencatat beberapa nama besar, di antaranya Al Kindi (801-873), Abu Al Faraj Al Isfahani sebagai penulis ensiklopedi puisi dan musik (kitab Al Aghani), dan yang sangat populer adalah Al Farabi (abad ke 9-10) yang menulis kitab Al Musiqi Al Kabir (Buku besar musik) serta satu nama yang tidak asing bagi kita adalah Avicena atau Ibnu Tsina.

Selain musik, Avicena juga berperan besar dalam dunia kedokteran. Musik Arab, yang terkenal dengan sistem interval “Maqam”, pernah mempengaruhi Eropa sekitar tahun 711-1492M. Saat itu, Eropa dipengaruhi secara besar-besaran oleh kebudayaan Islam (kebudayaan Moor atau Moresko).  

Musik Tradisi di Nusantara

Perkembangan musik di Nusantara, khususnya musik tradisi, sebenarnya tak pernah berhenti. Pada 1900-an awal, Nusantara yang sudah kedatangan Belanda pun mampu menyumbang keilmuan musik yang cukup berpengaruh di dunia.

Paparan etnomusikolog Franki Raden dalam esainya yang berjudul “Modernisme Musik dalam Abad 20”, mengetengahkan fakta bahwa Ki Hajar Dewantara dan R.M Soerja Poetro menjadi komposer yang berpengaruh bagi modernisme musik dunia abad 20.

Nasionalis-nasionalis kita telah menjadikan musik sebagai ekspresi perlawanan. Musik merupakan suatu arena untuk pertempuran ideologi. Musik juga sebagai narasi politis untuk melawan kolonialisme.

Lebih dari itu, RM Soerja Poetra yang meninggal di usia 35 tahun tersebut merupakan etnomusikolog dan musikolog dunia dari Indonesia. Beliau melakukan banyak kajian mendalam tentang musik Jawa, klasik Barat dan Asia. Tulisan-tulisannya banyak dterbitkan di Belanda.

Perkembangan keilmuan karawitan tumbuh subur di Surakarta sejak 1800-an. Pakubuwana X, Warsadiningrat adalah tokoh yang fokus pada bidang kajian musik Jawa. Tak hanya Surakarta (Jawa Tengah), Jawa Barat pun memiliki tokoh besar bidang musik tradisi Sunda, yaitu R, Machjar Angga Kusumadinata. Jika terasa masih asing, kita dapat sedikit mengandalkan Wikipedia untuk menggali informasi tentang Machjar, meski tidak terlalu banyak.

Seperti halnya gamelan Jawa, gamelan Sunda pun sejak dulu telah menghirup udara Eropa. Dituturkan oleh jurnalis kawakan Her Suganda (alm) dalam Para Priangan Planter, Gamelan Sunda dibawa oleh orang-orang Belanda keliling dunia untuk promosi teh dari tanah Priangan.

Gamelan Sunda telah dibawa ke Eropa sejak tahun 1800-an, bahkan sebelum menara Eiffel diresmikan. Gamelan Sunda telah menginspirasi para etnomusikolog dan komposer dunia saat itu, Debussy misalnya. Nada dan intervalnya yang asing bagi telinga orang Eropa menjadi daya pikatnya.

Jaap Kunst seorang etnomusikolog pemerintah Belanda, yang dikenal sebagai pencetus etnomusikologi pun tak luput dari daya pikat gamelan. Kunst tinggal di Priangan lebih lama ketimbang di Jawa. Kunst membina hubungan erat dengan Mangkunegara melalui surat. Kunst juga memiliki kedekatan dalam persolan musik dengan Machjar. Tentu saja, karena Kunst saat itu tinggal di Bandung yang tak jauh dari Sumedang, kediaman Machjar.

R Machjar berjuang pada masa Ki Hajar Dewantara dan R.M Soerjo Poetro di awal 1900an. R. Machjar sangat menguasai musik Barat, khususnya gitar, juga cukup menguasai karawitan Sunda. Di usia 18 tahunan, Machjar akhirnya membuat notasi sendiri untuk mempermudah dalam mengingat saat mempelajari rebab Sunda.

Di kemudian hari, Machjar-lah yang membuat Serat Kanayagan, salah satu buku teori dalam gamelan Sunda. Notasi Da Mi Na Ti La yang sampai saat ini digunakan sebagai media pembelajaran di tatar Sunda, juga salah satu karya Machjar.

Machjar bukan saja bergerak pada bidang pendidikan seni musik di Sunda. Temuan-temuannya tentang sistem penghitungan frekuensi telah dipelajari secara khusus oleh Jaap Kunst sejak 1920-an dan menjadi mata kuliah yang diajarkan pada murid-muridnya bidang etnomusikologi di Amsterdam kala itu.

Kiprah Machjar sendiri sampai saat ini masih menjadi kontroversi. Ada yang mendukung teorinya, ada juga yang menolaknya. Salah satunya dalam tulisan Mariko Sasaki “Laras pada Karawitan Sunda”, yang menyatakan bahwa teori Machjar tidak benar karena tidak sesuai dengan keadaan laras musik dalam karawitan Sunda di lapangan.

Bagi saya sendiri, Machjar dan teorinya adalah bagian dari gelombang pengetahuan yang sangat jarang ditemukan dalam dunia musik tradisi, yang terus membutuhkan penyempurnaan. Namun, dalam hal perjuangan, Machjar, Ki Hajar Dewantara, maupun R.M Soerja, memiliki misi yang searah, yaitu menjadikan bidang musik sebagai salah satu alat gerak untuk mengekspresikan pembebasan bagi bangsanya saat itu.