Bagi kebanyakan orang Indonesia, mantan Presiden ke-3 Republik Indonesia Bacharuddin Jusuf Habibie ialah rujukan sekaligus teladan bagi mereka yang hendak mencapai kecerdasan. Apa pun yang menjadi kebiasaannya, termasuk berapa jam dia tidur per malamnya dan olahraga favoritnya, menjadi berharga dan bahkan nyaris dikultuskan sebagai “jalan emas” yang selayaknya diimitasi menuju kecerdasan serupa dengan yang Habibie punyai.

Buat saya, di sinilah letak kekeliruan kebanyakan orang Indonesia dalam menyerap kehidupan Habibie guna mencapai kesuksesan di bidang apa pun yang digeluti. Sebagaimana pepatah yang mengatakan, “kecerdasan bukanlah bakat.” Habibie pun harus menempa diri dengan ketekutan dan ketelatenan agar dapat mencapai tingkat keilmuan yang berbuah prestasi yang tidak akan muat bila kita bahas di sini.

Ketika Habibie baru diangkat menjadi presiden menggantikan mantan presiden Soeharto dan saya masih kecil, majalah BOBO mengangkat secuil kisah kanak-kanak Habibie di Pare-Pare, Sulawesi Selatan. Habibie ialah sosok yang gemar membaca dan lebih memilih membaca ketimbang bermain bersama teman-teman sebayanya. 

Setengah mati susahnya membujuk Habibie kecil untuk bermain di luar rumah. Bahkan, Tuti Marini Puspowardoyo, almarhumah ibu Habibie, konon pernah menyatakan bahwa Habibie kecil bisa membaca di mana saja dengan penuh konsentrasi.

Kebiasaan membaca ini, bagi Habibie, bukan berangkat karena dia kesepian atau pelarian dari suatu masalah pribadi, melainkan karena Habibie selalu memiliki keingintahuan yang besar terhadap lingkungannya. Layaknya metode berpikir filsuf Yunani Kuno, kepalanya diisi oleh pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana” kemudian mencari jawabannya di dalam buku.

Mengapa sesuatu itu dibilang cantik dan indah atau bagaimana caranya suatu mesin bekerja misalnya. Demikian tertulis di dalam berbagai tulisan tentang dirinya. 

Bila ternyata dia hanya tidur dengan waktu yang amat sedikit, itu karena dia sepanjang malam belajar atau membaca untuk menambah pengetahuannya. Kepala suami dari almarhumah Hasri Ainun Habibie ini senantiasa bertanya.

Apakah maknanya? 

Artinya, Habibie telah mengasah semangat atau budaya ilmiah yang disertai berpikir kritis semenjak kecil. Habibie tahu apa yang ingin dia pelajari dan ke mana dia harus mencarinya. Mulai dari ensiklopedia ketika dia masih kecil hingga internet ketika sudah dewasa. 

Pengetahuan tidak turun diwahyukan dari langit. Tentu itu tidak lepas dari pengaruh orang tua yang sadar akan pentingnya pendidikan dan paham bagaimana cara mengarahkan keingintahuan anaknya itu.

Namun, bagaimana itu dapat terus dirawat? Jawabannya ialah Habibie memiliki pandangan yang penuh toleransi kepada orang lain. Dalam artian, Habibie menjunjung tinggi-dan-menghormati (embrace) keberagaman, khususnya di Indonesia. Bukankah dia berkata bahwa Indonesia adalah inspirasi terbesarnya?

Dimulai dari lingkungan keluarganya yang merupakan keturunan Bugis dari ayahnya dan ibunda berdarah Jawa, berkembang hingga masa SMA-nya yang dihabiskan di SMA Kristen Dago-Bandung. Namun, toh Habibie tidak meninggalkan iman Islam yang dia anut.

Dari masa kuliah di Jerman hingga menjabat sebagai presiden, Habibie pun bersahabat dengan seorang rohaniwan Katholik, arsitek, sekaligus budayawan yang kebetulan lulus dari almamater yang sama di Jerman: Y.B. Mangunwijaya. 

Begitu akrabnya Habibie dengan pastor ini sampai-sampai Mangunwijaya selalu dipanggil Habibie dengan sebutan “Mas Romo” hingga wafat sang pastor pada 10 Februari 1999. Kisah-kisah persahabatan dua alumni Rheinisch-Westfälische Technische Hochschule Aachen-Jerman lainnya dapat dibaca di dalam buku “Kata-Kata Terakhir Romo Mangun” yang terbit tahun 2014 lalu dengan editor Mohamad Sobary.

Jika toleransi yang dimaksud di atas ialah sebentuk penghormatan terhadap keberagaman, tentu memberikan manfaat terhadap pembentukan kemampuan berpikir seseorang pula, termasuk Habibie. Katherine W. Phillips menulis di Scientific American pada 1 Oktober 2014 tentang manfaat hidup dalam keberagaman.

Keragaman menyemai dan menumbuhkan gagasan baru dan inovasi serta kreativitas sehingga menghasilkan kualitas kerja yang baik. Dalam forum ilmiah, mereka yang bekerja sama dengan berbagai perbedaan latar belakang rasial/geografis dan disiplin ilmu akan menghasilkan laporan ilmiah dengan referensi yang lebih banyak daripada mereka yang bekerja sama dengan kesamaan ras.

Hal itu mengindikasikan bahwa keragaman memberikan manfaat betapa keberagaman memberikan kekayaan alternatif sudut pandang. Akhirnya, kita akan memahami salah satu poin penting dari penelitian Phillips berikut, “It seems obvious that a group of people with diverse individual expertise would be better than a homogeneous group at solving complex, nonroutine problems.”

Oleh sebab itu, adalah suatu keniscayaan bila orang yang terbiasa hidup dalam alam pikiran yang menghormati keberagaman akan dapat menghargai segala pendapat dan menempatkannya dalam bobot kebenaran yang sama hingga diuji melalui metode ilmiah. 

Masalah tidak ditinjau dari satu aspek yang menjadikannya serba dogmatis yang mensyaratkan alternatif-alternatif yang monoton, melainkan dengan berpikir komprehensif; yakni menimbang berbagai aspek dan perspektif dan memecahnya sebagai keterpaduan dari berbagai anasir.

Otak Habibie bukan otak yang terbelah menjadi kompartemen-kompartemen otak kiri dan otak kanan atau otak apa pun, berlawanan dengan pandangan umum orang-orang zaman sekarang.

Mungkin saja, berkat kemampuan berpikir di atas, Habibie mampu memilih bahwa dia harus berkuliah di Fakultas Teknik (FT) untuk mengejar keingintahuannya yang besar pada pesawat. Namun, berbeda dengan kebanyakan orang tua maupun mahasiswa zaman sekarang yang mengejar kuliah di perguruan tinggi sebagai simbol status sosial belaka, Habibie menyadari bahwa hanya di perguruan tinggi terkhusus di FT-lah ilmu kedirgantaraan dipelajari secara serius.

Bila mengamati kebiasaan-kebiasaan dan cara hidup Habibie di atas dan membandingkannya dengan kehidupan kebanyakan orang Indonesia dewasa ini, sangatlah sulit–kalau tidak mustahil–untuk melahirkan dan menempa orang Indonesia menjadi seperti dia dan merintis segala dedikasi yang membanggakan. Kini kita hidup dalam alam yang dipenuhi absolutisme aliran politik, atasan, dosen, dan guru.

Tidak mudah juga bicara toleransi beragama akhir-akhir ini atau lebih tepatnya: hampir sangat sulit bagi sistem sosial dan kemasyarakatan kita kebebasan individu dan toleransi sosial. Apa dasar argumennya?

Menurut survei dan penelitian The Legatum Prosperity Index dalam lamannya, dalam tahun 2018, Indonesia berada di peringkat ke-115 dari 149 negara dalam hal kebebasan individu, yang meliputi seberapa besar kemajuan suatu nasion menghormati hak-hak dasar, kebebasan individu, dan toleransi sosial. Kalah jauh dari Kanada di peringkat 1 dan Selandia Baru di peringkat 2, serta Nepal di peringkat 44 dan Jepang di peringkat 46.

Belum lagi bila di keluarga-keluarga tradisi membaca dan berdiskusi secara kritis telah lama semakin langka dan justru merasa cerdas dengan hoax. Masih ingatkah Anda bahwa pada April 2018 yang lalu Habibie sendiri pernah diisukan wafat?

Budaya literasi kita pun sudah lama dirasakan memprihatinkan sekali. Kita tidak boleh lupa bahwa menurut studi yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada tahun 2016 yang melaporkan bahwa minat baca orang Indonesia menduduki peringka 60 dari 61 negara yang disurvei. Kita unggul dari Botswana yang ada di peringkat ke-61 (The Jakarta Post, 12 Maret 2016). Betapa memalukan!

Jangan mengeluh juga bila gebrakan orang macam Habibie belum lagi menyeruak dengan menonjol termasuk dari kampus sains dan teknik, sebab kampus sains dan teknik nyaris jenuh dengan mereka yang berkuliah atas dorongan orang tua yang dipenuhi angan-angan memiliki karir yang mapan dan berkuliah hanya sebagai persiapan masuk ke lapangan kerja. Jangankan untuk bicara tentang perguruan tinggi yang ideal, mahasiswa saja masih banyak yang titip absen kok.

Maafkan saya karena pesimis terhadap bangsa sendiri, namun bangsa dan negeri kita sepertinya semakin jauh dari situasi yang melahirkan Habibie baru.