Beberapa hari terakhir, jagat media sosial tertawa lepas sebab kehadiran Mukidi; tokoh dengan cerita gokil yang mengocok perut. Cerita tentang Mukidi tersebar di berbagai media sosial, bahkan jadi bahan perbincangan pula di warung kopi.

Satu hal yang patut dicatat atas kehadiran Mukidi akhir-akhir ini adalah kenikmatan tertawa di tengah berita-berita ‘serius’ yang dapat mengernyitkan dahi. Mukidi adalah ikon kegembiraan. Ia bisa dibilang terlahir kembali, mengisi hari-hari masyarakat kita.

Sebagaimana dilansir harian Jawa Pos (27/8) Mukidi adalah tokoh ciptaan Soetantyo Moechlas pada dekade 90-an. Kala itu ia sering mengirimkan cerita-cerita lucu ke salah satu radio, dan nama tokoh yang dipakai (dalam cerita) adalah Mukidi.

Dalam kisah Pak Yoyo –sapaan Soetantyo- nama Mukidi terinspirasi dari salah satu adegan dalam film Warkop DKI. Mukidi berasal dari Cilacap. Namun dalam cerita yang tersebar dan bisa kita nikmati secara gratis, Mukidi terkadang berasal dari daerah lain.

Usianya pun lain pula. Terkadang anak-anak, remaja, bahkan orang yang sudah berkeluarga. Barangkali saking enjoy-nya para penikmat cerita hidup Mukidi, sampai-sampai turut menyumbang pula untuk menceritakan kehidupan Mukidi.

Terlepas dari apa pun status yang disandang dan siapa pun yang ‘melahirkan kembali’, yang terpenting Mukidi berhasil memantik selera kita untuk tertawa. Ini pertanda baik bahwa ternyata kita masih bisa tertawa. Arus ejek-mengejek, sesat-menyesatkan, nampaknya tidak begitu berpengaruh pada selera humor kita.

Kehadiran Mukidi mengingatkan saya pada salah satu buku karya Emha Ainun Nadjib berjudul: Kagum Kepada Orang Indonesia. Buku satire yang mengajak kita untuk tertawa bersama, menertawakan diri kita sendiri, juga tentang kecerdasan dalam menyikapi sesuatu.

Umpama pada bagian Bangsa Bibit Unggul kita disuguhi sentilan tentang keadaan kita.

“…Bahkan Indonesia menunjukkan kepada dunia mampu menjadi importir beras meskipun lahan persawahan dan peradaban padi suku bangsa Jawa tidak ada tandingannya di dunia. Itu bukan karena orang Jawa pemalas dan bukan karena manajemen pemerintahan Indonesia bodoh, melainkan karena bangsa kita tidak perlu cemas; sewaktu-waktu bisa menanam padi sambil tidur dan memanennya sambil mengantuk-sebagai rasa syukur kepada Allah atas anugerah alam subur indah dari-Nya.” (hlm. 3)

Apa kaitannya dengan cerita Mukidi ? Jika ditelisik lebih dalam, akan kita temukan ilmu yang bisa diambil dari cerita hidup Mukidi yang penuh keceriaan. Umpama pada cerita Mukidi dan Raport.

Diceritakan menjelang penerimaan raport, Mukidi meminta untuk dibelikan sepeda oleh bapaknya. Sepeda yang diminta Mukidi, disanggupi oleh bapaknya dengan syarat bahwa di raport Mukidi harus ada angka 9 sebanyak tiga. Benar. Syarat yang diajukan bapaknya dipenuhi oleh Mukidi, dengan angka 9 sebanyak tiga kali. Yakni angka 9 pada kolom Sakit, Ijin, dan Alpha.

Secara tidak langsung ini adalah gambaran keadaan yang acapkali kita temui. Permasalahan terjebak pada sisi dzahir, formalitas, yang tampak, dan tidak memahami substansi. Emha dengan Kagum Kepada Orang Indonesia-nya menyikapi dengan santai, cerdas, penuh humor atas segala kejadian.

Kehadiran Mukidi juga bisa kita gunakan sebagai titik tolak, bahwa kita bisa menyikapi sesuatu dengan cerdas, santai, penuh humor, dan asik. Mukidi patut kita catat sebagai orang berpengaruh tahun ini, sebab kegembiraan yang ia hadirkan. Iya, yang terpenting adalah selera humor kita masih ada.