Sudah lama kedua organisasi ini (Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah) menghiasi nuansa keagamaan Islam di Indonesia. Progresivitas kader-kadernya sampai saat ini juga telah memberikan warna baru bagi keagamaan Islam di Indonesia.

Dua organisasi yang dipelopori oleh KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan ini tak hanya mencerahkan masyarakat Islam di Indonesia, terutama di Jawa, namun juga mampu mengubah pola struktur sosial antara si jongos dan si tuan. Di mata kedua organisasi ini, Islam tidak membedakan manusia dari background sosial kecuali ketakwaannya kepada Tuhan.

Namun, sayangnya, prinsip kerukunan antara NU dan Muhammadiyah tidak dipahami secara fundamental oleh warganya. Sampai hari ini masih ada mempertentangkan, seolah-olah musuh NU adalah Muhammadiyah, begitu pun sebaliknya, terutama di kalangan masyarakat grassroots.

Tulisan ini tidak hendak membahas soal kontribusi NU dan Muhammadiyah bagi bangsa Indonesia, melainkan di sini penulis hendak menggambarkan bagaimana kondisi masyarakat grassroots dari kedua ormas ini sekarang.

Kondisi Masyarakat Grassroots (akar rumput)

Dalam sebuah perjalanan pulang dari Kota Batu, dengan menggunakan aplikasi Grabcar, saya, bapak saya, dan tiga orang saudara saya hendak pulang ke penginapan─kebetulan kedatangan bapak saya ke Malang saat itu untuk menghadiri sebuah kegiatan di kampus.  

Setelah mendapatkan oleh-oleh untuk keluarga di rumah, kebiasaan bapak saya, ketika dalam perjalanan di mana pun, selalu mengajak berdiskusi atau hanya sekadar ngobrol dengan orang-orang sekitarnya, termasuk mengajak saya berdiskusi.

Saat itu pembicaraan kami berdua adalah masalah tauhid. Bapak sering sekali menasihati saya untuk tetap memgang teguh prinsip tauhid bagaimana kondisi dan situasi kita, karena merasa khawatir dengan saya yang berada di perantauan.

Seketika itu saya hanya mendengarkan bapak saya berbicara. Sampai pada satu pembicaraan, bapak bertanya kepada saya, “Tauhid apa yang dipelajari di perkuliahan?” Seketika saya menjawab, “Tauhid Sosial.”

Jawaban itu sebenarnya bukan saya dapatkan di perkuliahan, melainkan karena bacaan buku tentang tauhid saya adalah Tauhid Sosial yang pernah ditulis Amin Rais (1998). 

Dengan pemahaman saya, saya coba menjelaskan kepada bapak bahwa Tauhid Sosial bukan hanya mengajarkan kita tentang beriman kepada Allah Yang Esa, melainkan lebih dari itu, yaitu berhubungan baik dan beramal saleh kapada seluruh manusia. Singkatnya, menyinergikan antara prinsip Hablumminallah dan Habluminannas. 

Saya juga mencoba memberikan kutipan ayat Alquran yang selalu mengaitkan kata amanu (orang beriman) dengan waamilussholihat (beramal saleh). Kutipan ayat ini mengindikasikan bahwa orang beriman itu harus senantiasa berbuat baik.

Tak hanya penjelasan itu, saya juga memberikan contoh kepada bapak saya, bagaimana KH Ahmad Dahlan menerapkan konsep Tauhid Sosial lewat amal usahanya. Kemudian beliau juga pernah mengajarkan muridnya konsep amal melalui surat Al-Maun, tentang peringatan Allah bagi orang-orang salat tapi tidak menampakan welasasih-nya kepada orang miskin.

Mendengar pembicaraan kami berdua, seorang supir Grabcar yang kami tunggangi sontak bertanya─walaupun pertanyaannya agak tidak nyambung dengan pembahasan kami. Dengan nada tinggi, ia seolah menolak penjelasan saya tentang Muhammadiyah.

Ia bertanya, “Kenapa orang Muhammadiyah tidak pernah ikut Tahlilan walaupun diundang?” Asumsi saya, sepertinya si Bapak Sopir ini seorang warga NU, karena saya melihatnya dari bentuk pertanyaannya tentang tahlilan.

Saat itu saya sebenarnya ingin menjawab pertanyaan si Bapak Sopir itu. Tapi melihat suasana yang agak begitu tegang, apalagi ini persoalan kepercayaannya, saya akhirnya hanya menjawab pertanyaanya dengan simpel, “Itu persoalan sikap keberagamaan yang tidak bisa dipaksakan.”

Menurut saya, kondisi berdialektika atau berdiskusi dalam perbedaan dengan mengedepankan sikap emosional yang tinggi hanya akan memperkeruh suasana dan tidak akan mendapatkan substansi diskusinya. Ditambah lagi, setiap forum diskusi yang saya ikuti, jika mengedepankan sikap emosi, saya tidak pernah mendapatkan apa-apa. Itulah kenapa saya hanya menjawab dengan simpel.

Namun, sepertinya si Bapak Sopir itu masih tak terima dengan jawabnnya, dengan mengulang-ulang pertanyaannya, “Iya, kenapa gak pernah ikut tahlil padahal sudah diundang?” dengan nada agak tinggi sembari menolak jawaban saya. Karena tujuan tempat kami sudah sampai, akhirnya diskusi itu tidak selesai.

Sesampainya di penginapan, saya mulai merenunggkan peristiwa baru yang saya alami. Ternyata, sampai saat ini warga NU dan Muhammadiyah masih ada yang mempersoalkan masalah tahlillan. Bahwa orang Muhammadiyah yang tidak mengikuti tahlil itu berbeda dalam kegamaannya. Seolah-olah “NU vs Muhammadiyah”.

Berdamai dengan Perbedaan

Peristwa yang baru saya alami ini memberikan pelajaran yang berharga bagi saya, terutama mengenai kondisi kegamaan Islam di masyarakat grassroots. Bahwa ternyata masyarakat Islam kita masih belum terbiasa untuk berbeda, terutama masalah keagamaan yang agak sensitif jika dibicarakan di tempat yang berbeda.

Saya membayangkan, jika suatu saat masyarakat kita, semisalnya berpergian ke suatu tempat, di mana mazhab keislaman yang digunakan berbeda dengan tradisi mazhab yang ada di Indonesia, semisalnya di Maroko atau di Iran yang wargannya menganut doktrin Syiah, jika tidak terbiasa melihat perbedaan keagamaan, tentu mungkin akan terasa aneh melihatnya.

Padahal, dalam Islam, kita mengenal empat aliran mazhab fikih─Imam Malik, Imam Syafe’i, Imam Hambali, dan Imam Hanafi─yang secara umum, jika ada persoalan fikih, baik ibadah maupun muamalah, keempat Imam ini mempunyai cara atau metodologi tersendiri dalam menentukan suatu hukum.

Jadi tradisi berbeda dalam Islam itu hal yang biasa. Tak ada yang perlu dipermasalahkan, termasuk perbedaan pandangan keagamaan NU dan Muhammadiyah di Indonesia. Hari ini, jika ada yang mempersoalkan NU dan Muhammadiyah dalam pandangan keagamaannya, berarti membuka luka lama sejarah keagamaan Islam di Indonesia.

Seperti kita ketahui, di Indonesia, sekitar tahun 90-an, banyak sekali yang mempersoalkan sikap kegamaaan antara NU dan Muhammadiyah, semisal dalam penggunaan qunut di waktu salat subuh dan yasinan. Atau bahkan sampai saat ini masih ada yang mempersoalakannya, padahal itu masalah khilafiyah yang tidak perlu diperdebatkan panjang atau merasa benar dengan sikap keagamaannya.

Indonesia dengan pluralitas masyarakatnya yang terdiri dari berbagai golongan, dalam 70 tahun kita merdeka, seharusnnya kita sudah mampu membiasakan untuk bersikap berbeda, baik intra agama maupun antaragama. Sayangnya, saat ini kita belum mampu belajar dari sejarah.

Terakhir, mengutip apa yang pernah dikatakan Ahmad Syafe’i Ma’arif (2018), “Berbeda dalam persudaraan dan bersaudara dalam perbedaan.” Prinsip ini yang harusnya kita pegang dan diimplementasikan juga dalam kehidupan sehari-hari di negara yang plural ini.