Biarlah air itu turun, menahan langkah untuk pergi.
Terlihat menyebalkan, namun tidak untuk saat ini.
Jikalau bicara dapat mencairkan suasana.
Maka janganlah menyalahkan hujan, yang tak reda.

Pembicaraan yang tak usai sampai tengah malam.
Gemerlap bulan bintang, kami terus menguntai kata.
Bersaut kata, pendapat, dan beberapa dalil menjadikan suara indah.
Tak terdengar merdu mungkin, namun tetap jadi kata.
Kata yang tak ada habisnya.

Hujan meresapi permukaan bumi, kata-kata kami juga ikut teresap ke hati.
Hati yang semoga tak ternodai.
Dan semoga semakin tercerah dengan untaian kata.
Pun jadikan secercah cahaya bagi semua.

Kami berbeda, itulah pelangi.
Berwarna, dan saling memberi penyegar mata hati.
Kebencian bisa terusir, dengan secuil api.
Api yang tak hanya membakar, namun bisa jadi senyuman.
Semakin jadikan suasana bergairah, nyaman.

Iya, ini hanya untaian sajak yang tak bisa dikatakan bagus mempesona.
Karena ini hanyalah ungkapan tuk melegakan tangan yang lelah.
Gambar dan teks yang tak berkesinambungan, terserah apa mau dikata.
Terpenting hadiah untuknya, tersampaikan.
Semoga saja.

Kawan, tak ada terimakasih di depan mata.
Cukup tulisan dan kata dalam do'a untuk kita, satu saudara.
Dan sampai kapanpun itu akan berlanjut, tak berhenti.
Jarak dan waktu yang berbeda, masih bisa satukan kita.
Terakhir pesan, lupakan kebencian, karena kita kan terlarut dalam kopi yang sama, meski terlihat beda.