Pesantren merupakan lembaga pendidikan islam tertua di Indonesia yang telah berhasil mencetak generasi agamawan yang nasionalis dan religius. Dari Pesantren telah lahir para ahli di bidang ilmu tafsir, hadist, fiqih, bahkan siyasah (politik) negara. Namun hari ini, pesantren dihadapkan pada sebuah fakta perubahan dunia yang lebih kompetitif dalam hal ekonomi. Dan hanya lembaga pendidikan yang memberikan ruh kreatifitas ekonomilah yang dianggap mampu membekali peserta didiknya ketrampilan untuk bertahan hidup.

Pesantren diharapkan mampu menjadi perantara jalur pendidikan yang mampu memberdayakan potensi santri dan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Dengan mengasah ketrampilan, para santri dan masyarakat yang bernaung di bawah pola asuh pesantren diharapkan bisa hidup sejahtera dan mewarisi dakwah secara mandiri dan bermartabat.

Banyak contoh sejarah pada masa kolonial dimana para tokoh agama yang ikut melawan penjajah juga berprofesi sebagai pedagang; sebut saja KH. Wahab Chasbullah, KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy’arie, dsb. Bahkan dahulu terbentuk wadah organisasi bernama Nahdlatut Tujar (Kebangkitan para pedagang) yang mewadahi pengusaha-pengusaha santri dengan tujuan dakwah dan perjuangan melawan penjajah.

Di dalam Pesantren, seorang pengasuh, bisa menjadi mediator, dinamisator, dan sekaligus motivator bagi para santrinya dalam menjalankan aktifitas ekonomi. Dengan usaha-usaha demikian, para pengasuh pesantren telah berperan besar dalam membangun mental bisnis dan berani mengambil resiko dalam aktifitas bisnis santrinya.

Ada beberapa alternatif yang bisa diambil para pengasuh pesantren dalam mengembangkan bisnis. Pertama, pengasuh memberikan pendidikan kewirausahaan secara individu kepada para santrinya. Kedua, pengasuh membangun usaha di pesantren tersebut, bisa berbentuk koprasi atau usaha publik lainnya dengan melibatkan para santri dalam usahanya. Ketiga, pengasuh bisa menitipkan para santrinya kepada pengusaha-pengusaha sukses dengan harapan ada transfer pengetahuan terkait seluk beluk dunia bisnis.

Dari sebagian usaha pengajaran kewirausahaan yang dijalankan pesantren, nampaknya poin nomor dua lebih dominan, karena usaha yang dimiliki penuh oleh pesantren lebih mudah dikendalikan dan santri yang terlibat di dalamnya lebih mudah dikontrol. Setali tiga uang, santri yang terlibatpun lebih nyaman karena lebih mudah menjalankannya dengan adanya petunjuk langsung dari pemilik bisnis itu yang tidak lain adalah pengasuh pesantren itu sendiri.

Hal demikian sah-sah saja, namun yang sering terjadi, ketika santri sudah keluar dari pesntren, mereka sering kehilangan arah karena kehilangan “pegangan” untuk berbisinis, tidak seperti ketika mengikuti kyainya. Padahal, prinsip dari pendidikan kemandirian adalah menumbuhkan mentalitas kedalam diri santri untuk berani mengeluarkan seluruh potensi bisnisnya tanpa takut dengan resiko yang menghadang.

Motivasi Spiritual

Praktek-praktek bisnis yang dipercontohkan kepada para santri harus bisa membuat santri termotivasi. Salah satu cara yang paling ampuh untuk menumbuhkan motovasi bagi para santri adalah dengan melepas santri di pasar dan mengetesnya untuk melakukan percobaan-percobaan jual beli. Santri akan merasakan sendiri bagaimana mengelola modal, mengelola komoditas, dan mengelola hasil dari jual-beli yang dia lakukan. Percobaan ini penting agar menghilangkan rasa ketergantungan kepada pengasuh pesantren.

Salah satu unsur terpenting untuk memunculkan kemandirian adalah dengan melepaskan rasa ketergantungan santri kepada kyainya, dalam hal ini ketergantungan ekonomis. Karena sering terjadi pula para santri yang ikut membantu aktifitas usaha keyainya menjadi amat tergantung dengan bayaran yang diberikan dari usaha itu. Hal ini membuat mental inferior santri semakin membesar.

Kita harus objektif melihat mentalitas santri yang sangat inferior dengan kondisi dinamika persaingan ekonomi dunia. Ketrampilan-ketrampilan yang diberikan, fungsi dasarnya adalah meminimalisir mental inferior dan memotivasi para santri untuk siap berkompetisi dalam arus ekonomi global. Sedemikian pentingnya sebuah motivasi, para pengasuh pesantren dituntut untuk betul-betul memperhatikan perkembangan mental dan skill para santrinya.

Optimalisasi Skill dan Ketrampilan

Dengan skill yang mumpuni dan motivasi besar, diharapkan para santri mampu merubah tatanan sosial-ekonomi menjadi lebih baik. Selanjutnya mampu melahirkan generasi mandiri dan sejahtera.

Demi mencapai cita-cita tersebut para pengasuh pesantren bisa membuat model-model pengajaran ke-ekonomi-an yang memfokuskan kepada tutorial, modulasi, dan praktek di lapangan. Hubungan antara motivasi spiritual dan keuletan santri dalam membangun usaha menjadi menu utama dalam kurikulum ke-ekonomi-an. Pengasuh pesantren juga diharapkan bisa menjadi penghubung atau komunikator antara santri dan masyarakat yang bakal melakukan transaksi ekonomi.

Bagaimanapun, aktifitas ekonomi tidak bisa dilepaskan dari kemampuan komunikasi dan jaringan masyarakat yang luas. Ujung tombak dari aktifitas ekonomi adalah pasar, dengan pemasaran yang baik, pelaku ekonomi mejadi lebih siap untuk memperkenalkan komoditas ekonominya; baik itu barang ataupun jasa. Kemahiran komunikasi santri perlu ditingkatkan. Seperti yang dikatakan di atas, mental inferior santri perlu diminimalisir. Para santri harus dibangun rasa percaya dirinya untuk melakukan aktifitas-aktifitas perekonomian agar mampu bersaing. Di sini sangat dibutuhkan peran pengasuh pesantren dalam memotovasi para santrinya.

Dapat kita simpulkan bersama bahwa, motivais spiritual sangat berkorelasi dengan kepercayaan diri santri. Kemudian kepercayaan diri itu mampu meningkatkan ketrampilan individual santri ketika mempraktekkan langsung ditengah-tengah masyarakat. Pembentukan-pembentukan karakter “petarung” dalam ruang ekonomi menjadi sangat mendesak bagi dunia pesantren modern. Para pengasuh pesantren tidak bisa lagi mengabaikan orientasi duniawi demi kesuksesan para santri yang diasuhnya.