Jurnalisme, pada dasarnya, lahir atas kebutuhan informasi yang bisa jadi adalah perkara-perkara yang mencemaskan manusia. Kecemasan yang berkabut, samar-samar, atau bahkan gelap yang menutupi daya pandang manusia mendapatkan sebuah kelegaan, kesiapan – atau dengan itu, ia mampu membuat keputusan yang tepat akan suatu hal.

Informasi dalam jurnalisme dengan demikian adalah cahaya yang mampu memberikan terang dalam kegelapan manusia. Dalam fungsi seperti itu, jurnalisme tentu membutuhkan syarat sebagai sebuah 'kebenaran'. Dengan kebenaran tersebut, sistem informasi dalam jurnalisme mampu diandalkan sebagai petunjuk.

Tuntutan kebenaran itulah, kemudian, bagi seorang jurnalis, harus menjadi ikatan nilainya. Karena, tentu saja, ketika jurnalis tidak memiliki disiplin verifikasi atas informasi yang disebarkannya sebagai sebuah fakta, dan lebih lanjut sebagai kebenaran, maka sama halnya ia tengah mendorong manusia menuju tragedi kemanusiaan karena kesalahan informasi.

Walter Lippman dalam bukunya Public Opinion (1921) menyebut opini publik dibentuk oleh sedikit realitas yang dicampur dengan imajinasi atau fiksi dalam kepala orang yang terbatas akses informasinya. Kecondongan orang adalah mengambil satu fakta untuk seluruh fakta, atau ia sebut sebagai streotip membuat opini publik memiliki risiko besar.

Fiksi dan streotip dalam unsur opini publik juga pada dasarnya dibentuk oleh berita atau informasi yang disebarkan. Maka, berita, menurut Walter Lipmman, hanyalah sekumpulan fakta untuk menandai kejadian. Ia belum menjadi kebenaran. Verifikasi kemudian menjadi tuntutan disiplin seorang wartawan. Sementara investigasi adalah cara untuk mendapatkan kebenaran.

Pada zaman postfordisme, di mana bisnis dikendalikan sepenuhnya oleh sistem media, baik cetak, elektronik, dan cyber, informasi seolah merupakan badai cahaya yang menyilaukan. Ia tak lagi memberikan sekadar terang dalam kegelapan, tetapi justru menciptakan kegelapan.

Melalui sistem yang disebut jurnalisme warga, misalnya, setiap orang dengan ringan dan serampangan memberikan informasi yang secara serampangan pula (tanpa verifikasi) ia sebarkan melalui media sosial yang berkuasa mengangkangi gambaran kepala manusia. Demikian pula media-media berita online yang tumbuh seolah jamur di musim cendawan yang sering hadir dengan semangat tanpa ilmu dan moral.

Informasi tak lagi tersaring dan bersarang dalam setiap kepala manusia sebagai gosip dan mitos. Kombinasi antara ketidaktahuan dan semangat 'sekadar' mendapatkan keuntungan atau sekadar kesenangan itulah yang kemudian bersenyawa sebagai badai cahaya yang membutakan. Bukan lagi menerangkan. Fitnah menyebar sebagai sebuah kebenaran atau imajinasi yang direalitaskan sebagai kebenaran.

Di tengah badai cahaya informasi tersebut, media berita, baik cetak atau online yang mengatasnamkan Islam, sering disebut sebagai salah satu yang paling dituntut untuk mampu memberikan informasi yang dapat diandalkan sebagai kebenaran. Tentu saja, karena jurnalisme Islam merupakan jurnalisme transendental (seharusnya).

Artinya, ia memiliki tanggung jawab kepada manusia dan tuhannya secara langsung. Meskipun jurnalisme Islam, secara akademik, belum pernah dibahas secara khusus, namum pada dasarnya jurnalisme Islam 'ada' dan tidak berselisih dengan pemahaman moral jurnalisme modern yang harus mengandalkan verifikasi untuk mendapatkan kebenaran.

Bila kita membaca Alquran surah Al Hujurat (49:6), akan terbaca sebuah perintah: "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka periksalah (verifikasi) dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keaadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu."

Dengan berdasarkan perintah dalam Alquran tersebut, jurnalis Muslim sudah barang tentu dituntut menyampaikan informasi yang benar tanpa kecuali karena ia tidak saja berhadapan dengan sanksi moral secara sosial, tetapi ia juga berhadapan dengan sanksi atas keyakinan agamanya bila menyebarkan informasi hoax.

Dengan menganut prinsip moral agama tersebut, media-media Islam dan jurnalisnya, dengan demikian, seharusnya menjadi sumber informasi yang dapat diandalkan bagi masyarakatnya yang plural.