Moral merupakan pengertian pada stimulus-stimulus manusia yang berkaitan dengan orang lain tentang bagaimana dan cara untuk mengucapkan, mengatakan, dan mengerjakan sesuatu.

Begitu pun dengan intelektual, digunakan untuk menjelaskan bahwa manusia adalah satu-satunya pengertian yang memiliki gelar/sebutan sebagai makhluk intelektual.

Jika keduanya digabungkan, maka yang ingin dijabarkan/dijelaskan (definition) mengenai penggunaan atau makhluk intelektual yang dipraktikkan dengan batas-batas moral yang dihasilkan atau yang sudah digunakan dalam kehidupan antarmanusia, baik itu sebagai makhluk individu/sosial maupun sebagai makhluk intelektual.

Penulisan ini yang menjadi titik perhatiannya, maupun yang ingin penulis gambarkan pada pembaca adalah mengenai bagaimana dan penggunaan moral intelektual dalam kehidupan sebagai tanggung jawab sesama manusia.

Kaum intelektual atau makhluk intelektual pada umumnya digunakan untuk menyebutkan orang-orang yang telah melakukan atau berproses dalam dunia pendidikan sehingga dapat dibedakan antara makhluk terdidik dan tidak terdidik.

Namun kalau disadari bahwa pendidikan pada dasarnya merupakan kepekaan yang dihasilkan dari interaksi antara manusia dan alam, maka dengan sendirinya makhluk/manusia intelektual sesungguhnya tidak dapat sekadar diberikan pada manusia yang pernah duduk di bangku sekolah atau dunia sekolahan; melihat bahwa dalam kehidupan masyarakat bahkan pendidikan sudah ada sejak manusia itu ada di bumi ini, maka pendidikan maupun makhluk intelektual itu sendiri mendefinisikan manusia yang memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan alam atau manusia yang dapat mempergunakan kemampuan-kemampuan maupun mampu menjalankan fungsinya sebagai manusia.

Dapat diambil satu contoh untuk menjelaskan makhluk intelektual, misalnya:

Seorang berangkat sekolah atau terdaftar dalam dunia sekolah sebagai siswa (peserta didik) di sana dengan seseorang yang berangkat ke sawah/ladang untuk menyangkul dan menanam tanaman buah-buahan.

Pertanyaannya, mana yang dapat disebut sebagai makhluk intelektual?

Untuk menjawab kemungkinan ini, bila dipahami secara mendalam, kita menemukan kemungkinan dari dua jawaban yang sama-sama memiliki bobot yang dapat digunakan untuk menjelaskan pertanyaan di atas. 

Pertama, seseorang yang berangkat ke sekolah atau terdaftar dalam daftar siswa mengikuti pembelajaran yang diberikan oleh sekolah. 

Ini menunjukkan pemahaman yang umumnya dipahami masyarakat awam bahwa kaum intelektual adalah mereka yang mendapatkan/mengikuti proses pembelajaran yang diberikan atau dilaksanakan di sekolahan. Sebutan untuk kaum intelektual karena dengan pembelajaran dari sekolah tersebut ia juga mengikuti dan beraktivitas maupun berinteraksi dengan alam.

Kedua, adalah orang yang berangkat ke sawah/ladang untuk menanam buah-buahan, ia juga melakukan interaksi dengan alam.

Umumnya ini dipahami sebagai pendidikan non-formal, berarti pendidikan yang berkaitan dengan alam bebas dan tidak dilaksanakan secara formal dengan membentuk panitia pelaksana atau pertanggungjawaban ketua yang melaksanakan pendidikan pada orangtua wali (orangtua dari peserta didik).

Namun kalau disadari, yang didapatkan bahkan ilmu yang digunakan nantinya adalah yang berkaitan dengan alam bebas bukan sekadar teori. Dengan kata lain, perbedaan dari kedua model pendidikan ini akan lebih memperhatikan antara pengetahuan yang lebih melaksanakan praktik atau teori.

Teori adalah gambaran pelaksanaan, sedangkan praktik adalah pelaksanaan itu sendiri.

Antara teori dan praktik memiliki keterkaitan sehingga banyak dalam masyarakat dipahami bahwa teori tanpa praktik adalah buta, sedangkan praktik tanpa teori adalah ngawur.

Dari sedikit penjelasan di atas, kini kita dapat menggarisbawahi antara kaum intelektual merupakan suatu kehidupan manusia yang memiliki kemampuan untuk menggunakan sifat manusianya dalam berinteraksi dengan alam. Hasil dari interaksi itulah kemudian menghasilkan manusia atau makhluk yang dikenal dengan intelektual.

Sekarang, dalam bagian ini, penulis akan mengajak pembaca untuk memasuki pada inti dari tulisan ini, yakni moral intelektual.

Moral intelektual adalah penggunaan kecerdasan, pengalaman, pengetahuan yang dimiliki manusia untuk berhubungan dengan orang lain. Dalam melakukan hubungan tersebutlah dibutuhkan moral intelektual yang telah disepakati. 

Moral sendiri memiliki asal-usulnya, baik itu merupakan kebiasaan maupun kesepakatan.

Sejauh ini, yang menjadi kesepakatan adalah ilmu pengetahuan seharusnya memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan. Kecerdasan seseorang bukan berarti dapat dengan bebas digunakan untuk membohongi, mencerdik, atau mengeksploitasi orang lain.

Moral menjadi perhatian khusus yang tidak dapat ditinggalkan dalam setiap aktivitas sebagai kaum atau manusia yang berintelektual. Karena dengan itu pulalah tujuan dari pendidikan diberikan manusia dan dengan intelektual pula manusia dapat dibedakan dengan makhluk yang berjenis hewani. 

Dengan memperhatikan moralitas (moral), manusia berpendidikan (terdidik) dapat melakukan praktik interaksi bersama orang lain.

Melihat moralitas manusia dapat melakukan praktik kehidupan yang harmonis, dan pendidikan menjadikan manusia bermanfaat antar-hubungan manusia dan alam sebagai perwujudan sebagai manusia yang memiliki keyakinan dengan penciptaan alam sebagai tempat hidup manusia.

Manusia menduduki tempat interaksi yang dapat digunakan untuk melakukan, berbuat dan berkerja yang tidak dapat terlepas dari moral sebagai pencipta keharmonisan dan kekeluargaan yang hidup dan berkesinambungan sebagai makhluk (manusia) yang berperadaban.