“Muhammadiyah sekarang ini, lain dengan Muhammadiyah yang akan datang. Maka, teruslah kamu bersekolah, menuntut ilmu pengetahuan dimana saja. Jadilah guru, kembalilah kepada Muhammadiyah, jadilah master, insinyur dan lain- lainnya dan kembalilah kepada Muhammadiyah." (K.H. Ahmad Dahlan).

Sudah saatnya Muhammadiyah merealisasikan ungkapan Kyai Haji Ahmad Dahlan di atas dengan meminta meminta dan menghimpun semua kader-kader ahli, yang profesi nya sebagai dokter, serta berpartisipasi aktif di bidang kesehatan untuk meneliti secara mendalam terkait Covid -19 dengan tujuan menciptakan obat penawar (vaksin).

Disisi lain merupakan suatu kewajiban bagi kader-kader Muhammadiyah yang sadar akan identitas nya sebagai warga Muhammadiyah serta yang ahli di bidangnya untuk benar-benar mendedikasikan diri, menawarkan solusi terhadap setiap permasalahan yang ada. Terutrama sekarang dimana  masalah yang dihadapi bangsa dan umat begitu kompleks akibat pengaruh Covid-19.

Dari terputusnya mata pencarian yang berdampak pada krisis ekonomi, terbatas dan terhalang nya keteladanan yang bisa di contohkan oleh para pendidik karena peralihan pembelajaran, hingga merambat pada terhambatnya aktivitas ritual ibadah sebagai pondasi dasar tertibnya kehidupan manusia.

Kutipan dari ungkapan KH. Ahmad Dahlan di atas sudah cukup menerangkan bahwa masalah yang dulu dihadapi Muhammadiyah tidak sama  dengan sekarang. Muhammadiyah dari sisi historisnya sudah mendedikasikan diri untuk mencerahkan dan membantu kehidupan sosial masyarakat melalui pembangunan berbagai lembaga amal usahanya.

Maka dari itu, sekarang sudah saatnya Muhammadiyah solutif dan selangkah lebih depan membaca atau memperkirakan persoalan yang muncul di kemudian hari untuk dianalisis terlebih dahulu bagaimana mengatasi bahkan mengetahui jalan keluarnya.

Apabila melihat perkembangan Muhammadiyah selama 1/satu abad lebih dengan mengaca kepada sejarahnya, bisa dikatakan bahwa perkembangan Muhammadiyah saat ini tidak lebih dari kelanjutan perkembangan pada masa hidup Kyai Haji Ahmad Dahlan. Dalam arti lain, Muhammadiyah saat ini masih mempertahankan pola gerak yang lama dan belum mampu menemukan inovasi-inovasi segar sebagai solusi sekian banyak persoalan, perkembangan atau kemajuan zaman.

Hal ini salah satunya dapat dibuktikan dengan melihat banyaknya rumah sakit yang telah didirikan dengan mengatasnamakan sekaligus sebagai amal usaha Muhammadiyah. Dari sekian banyaknya itu hanyalah kelanjutan dan penambahan jumlah dari rumah sakit yang ada sebelumnya. Untuk piranti, teori dan praktik pengobatan didalamnya masih dalam kategori standar, mengadopsi peralatan, obat serta teori modern dari barat.

Sejauh ini belum ada alat, teori serta obat-obatan orisinal tercipta dari buah karya kader Muhammadiyah yang berkencimpung pada bidang kesehatan. Sehingga tidak heran kalau Muhammadiyah kerap kali gagap menghadapi persoalan-persoalan baru yang bermunculan dihadapannya. Belum lagi membaca masalah yang akan datang.

Oleh karena kompleksnya permasalahan yang ada sebagaimana di atas, sekarang ini merupakan saat yang tepat untuk kader-kader Muhammadiyah yang ahli, berprofesi sebagai dokter, bahkan yang berkencimpung di dunia kesehatan, baik yang ada di Indonesia maupun di negara lain untuk kembali kepada Muhammadiyah.

Mendedikasikan diri mereka dengan mengatasnamakan Ormas (Muhammadiyah), dan demi semata-mata mengharapkan Ridho Allah SWT. untuk meneliti dan menciptakan vaksin sebagai solusi dari keresahan bangsa juga umat yang semakin hari semakin membumbung tinggi.

Tentunya perlu dipertegas kembali bahwa semua ini bukan untuk membanggakan  Muhammadiyah sebagai Ormas Islam garda depan, berinovasi hangat dan tak hentinya mengabdi kepada bangsa dan umat semata, Melainkan untuk mengimplementasikan kepribadian Muhammadiyah (sebagaimana yang disahkan pada muktamar yang ke 35).

Serta sebagai upaya terwujudnya ciri khas  Muhammadiyah seperti yang tertuang dalam buku Ideogi Muhammadiyah (UMJember)  bahwa;

"Muhammadiyah telah mempunyai cara perjuangan yang khas. Muhammadiyah bergerak bukan untuk “Muhammadiyah” sebagai golongan. Muhammadiyah bergerak dan berjuang untuk tegaknya Islam, untuk kemenangan kalimat Allah, untuk terwujudnya masyarakat utama, adil dan makmur yang diridhoi Allah Subhanahu wata ’ala."

Tegaknya Islam, kemenangan kalimat Allah dan masyarakat utama, adil dan makmur tidak akan terwujud apabila Covid-19 masih terus bertahan dan memakan banyak korban ditengah kehidupan. Tegaknya Islam, kemenangan kalimat Allah tentunya tidak hanya sebatas pada ucapan, melainkan perlu di implementasikan dalam tindakan nyata.

Sebab itulah, dengan mengacu pada ungkapan, sikap dan pribadi KH. Ahmad Dahlan, akan menjadi dasar yang kuat bagi kader untuk mewujudkan gagasan-gagasan pembaharuan.. Hendaknya sebagai kader Muhammadiyah kita harus berkemauan kuat, sungguh-sungguh dan tidak kenal lelah dalam merealisir cita-cita.

KH. Ahmad Dahlan sendiri telah mencontohkan hal demikian dengan ungkapan dan tindakan langsung. Sebagaimana dalam kisahnya ketika pertama merintis dan mendirikan Muhammadiyah. Dengan kondisinya yang lemah beliau bekerja seraya berkata:

"Saya mesti bekerja keras untuk meletakkan batu pertama dari amal yang besar ini. Kalau sekiranya saya lambatkan atau saya hentikan lantaran sakit ku ini maka tidak ada orang yang sanggup meletakkan dasar itu. Saja merasa bahwa umur saya tidak akan lama lagi. Maka jika saya kerjakan selekas mungkin, maka yang tinggal sedikit itu, mudalah yang dibelakang nanti untuk menyempurnakannya."