Sindhunata mengatakan bahwa sepak bola dan musik merupakan bahasa universal. Keduanya mampu membahasakan perdamaian dunia secara baik dan diterima secara luas oleh masyarakat dunia.

English Premier League (EPL) sudah berakhir dan juara untuk musim ini sudah dipastikan milik Manchester City. EPL tahun ini memang lebih menegangkan dan jauh lebih kuat tingkat persaingannya dibanding sejarah EPL sebelumnya. 

City dan Liverpool sama-sama bersaing habis-habisan hingga akhir kompetisi. Tapi pada akhirnya Liverpool harus mengalah dan merelakan gelar EPL jatuh ke tangan City. Liverpool dipaksa untuk melanjutkan puasa gelar EPL, entah sampai kapan.

Akan tetapi, di balik kegagalan Liverpool meraih gelar EPL, ada sekelumit kisah menarik yang bagi saya patut diangkat, yakni back to back-nya Mohamed Salah meraih sepatu emas. Sepatu emas adalah sebuah gelar individual yang berhak diperoleh seorang pemain yang menjadi pencetak gol terbanyak dalam satu musim di Liga Inggris.

Musim 2017/2018 lalu, Salah meraih gelar Top Score di Liga Inggris dengan koleksi 32 gol. Di Musim 2018/2019, dia kembali meraih gelar pencetak gol terbanyak, bersama rekan setimnya, Sadio Mane dan Pierre Emerick Aubameyang (Arsenal) dengan koleksi 22 gol.

Secara pribadi saya mengagumi Salah. Sedari musim lalu hingga saat ini, pemain Timnas Mesir ini mampu menunjukkan konsistensi dan eksistensinya sebagai sosok striker papan atas yang patut ditakuti pemain bertahan lawan. 

Selain kepiawaiannya mencetak gol, Salah adalah salah satu pemain Liverpool yang sangat dicintai fans The Reds, julukan untuk pendukung Liverpool. Bahkan, karena cinta yang begitu besar terhadap Salah, para fans Liverpool menyanyikan lagu khusus untuk Salah dengan lirik yang menjadi perbincangan: 

"Jika dia cukup baik untukmu, dia cukup baik untukku. Jika dia menciptakan gol-gol baru, aku pun akan menjadi Muslim. Duduk di mesjid, di situlah kuingin berada."

Bukan hanya dicintai fans liverpool, Salah juga dicintai banyak orang, termasuk saya, yang adalah fans Manchester United, rival terberat dan abadi Liverpool. Karena kecintaan ini pula, saya berusaha menulis tentang kehidupan Salah dan sekelumit nilai yang bagi saya relevan dengan konteks kehidupan kita saat ini

Mengenal Mo Salah

Mo Salah atau Mohamed Salah, lahir pada 15 Juni 1992. Berasal dari keluarga miskin di sebuah desa kecil di Mesir, Nagrig. Dikenal sebagai seorang yang pendiam dan disiplin. 

Di desa kecil itu, hanya ada satu lapangan bola. Di lapangan berdebu itulah Salah kecil biasa bermain sepak bola bersama teman serta ketiga saudaranya. Dia merupakan anak tertua dari empat bersaudara.

Bakat Salah memang sudah terlihat sejak kecil. Dia dikenal sebagai pemain kidal yang lincah. Kemampuan Salah mulai terdengar keluar Nagrig saat dia bermain dalam Liga Pepsi ketika masih berusia 14 tahun. 

Salah langsung mendapat undangan dari salah satu klub Mesir, El Mokawloon, untuk bermain di Kairo yang berjarak 200 mil atau sekitar 321 kilometer dari Nagrig. Rintangan harus 5 kali berganti bis dari desanya ketika sang ayah tak bisa mengantar tak menyurutkan tekad pria yang kerap disapa Hadi, pendiam dalam bahasa Arab, itu.

Salah kecil merupakan anak kecil dengan keinginan keras yang mengorbankan segalanya demi bermain sepak bola. Dia juga pendiam, penurut dan juga penuh disiplin. Dia rajin salat dan kemudian tidur lebih cepat.

Salah mengawali karier profesionalnya di salah satu klub Mesi El Mokawlon pada 2011. Di Tahun 2012 FC Basel meminang Salah. Hanya butuh satu tahun bagi Salah untuk menarik minat klub-klub Eropa lainnya. Dari Basel dia pindah Ke Chelsea, Fiorentina, dan Roma serta liverpool. Liverpool hanya membayar 42 juta euro atau sekitar Rp705,8 miliar, harga yang murah jika melihat torehan 30 gol yang telah dia buat musim ini.

Tak hanya di level klub, Salah juga sukses bersama Timnas Mesir. Dia sukses membawa Negeri Piramida itu ke putaran final Piala Dunia 2018 di Rusia. Itu merupakan keikutsertaan pertama kali Mesir sejak terakhir Piala Dunia 1990. Salah mencetak 5 gol dan dua assist dalam kualifikasi.

Di luar dan di dalam lapangan sosok Mohamed Salah rupanya tetap sama. Dia tak pernah merupakan desa yang menjadi asal muasalnya. Dia masih sering berkunjung ke desa tersebut dan membangun sebuah pusat kebugaran di balai desa. Dia juga membangun sebuah lapangan sepak bola yang layak untuk sekolah tempat dia dulu menimba ilmu, Mohamed Ayyad Al-Tantawy.

Banyak fans yang menyukainya, karena ketika dia datang dia selalu sabar memberikan tanda tangan, berfoto bersama. Mohamed Salah juga kerap memberikan sumbangan kepada pasangan muda miskin yang tak memiliki biaya untuk menikah. Bahkan, dia pernah memberikan uang serta kepada seseorang yang membobol rumah ayahnya. Salah juga membantu si pencuri itu untuk mencari pekerjaan.

Salah Menginspirasi

Menarik menelusuri sejarah hidup Mo Salah. Dari situasi kemiskinan ia mengais rezeki lewat sepak bola. Dia memulai segalanya dari bawah. Dia seperti kita, orang biasa-biasa, dengan karier naik turun, tidak stabil. Berapa kali Salah berganti klub. Pelatih menolak bahkan menyiakan bakatnya bermain bolanya.

Akan tetapi, usaha keras tak kenal serta selalu setia dengan proses memberi Salah jalan untuk menaklukkan ketatnya kompetisi di Eropa. Bersama Liverpool, Salah jadi top skor liga, mendapatkan sepatu emas plus mengantar Liverpool sampai ke puncak final Champions Eropa tahun ini.

Apa yang kita pelajari dari kesaksian hidup Salah adalah nilai kehidupan tentang proses yang tidak akan mengkhianati hasil. Kemiskinan bukan merupakan realitas yang terberikan begitu saja kepada kita. Terlepas dari kemiskinan sebagai produk ketidakadilan sistem serta struktur yang sewenang-wenang, situasi kemiskinan mesti dilihat sebagai peluang. 

Seperti Salah, kita tidak boleh menyerah begitu saja dengan nasib. Kemiskinan meninggalkan kesempatan yang seluas-luasnya untuk kita berusaha mengembangkan diri, bakat serta kemampuan sambil berusaha membebaskan diri dari situasi kemiskinan yang membelenggu.

Selain merupakan pesepak bola yang pernah alami situasi miskin, Mo Salah juga merupakan seorang muslim yang tetap mempertahankan jati dirinya sebagai muslim sejati. Sekularisme dan modernisme yang sedang melanda dunia, khusus Eropa memang membuat agama tersingkir ke ranah privat dan tidak lagi dianggap relevan untuk membawa kebaikan bersama. Tetapi, keberadaan Salah seperti menjadi oase di padang gurun bagi dunia.

Salah menunjukkan bahwa agama itu masih relevan bagi dunia modern sebagai kekuatan moral untuk mendorong orang bersatu dan dalam semangat toleransi bersama-sama mengusahakan solidaritas dan perdamaian dunia. Salah melawan Islamphobia yang marak melanda Eropa dan dunia bukan dengan kekerasan tapi dengan jalan elegan, menunjukkan kesaksian hidup dan sikap positif serta prestasi yang menginspirasi banyak orang.

Harus diakui, Mo Salah berbeda dengan kebanyakan pemain bola top lainnya. Di tengah kegemilangan harta dan pola hidup yang serba ada dan glamor, Salah tetap menjadi seseorang rendah hati. Karakter yang lahir dari hidup keagamaan yang mendalam dan taat ini membuat dia mampu mencapai sukses yang hari ini didapatkan hari ini. Mo Salah bahkan tak segan-segan menunjukkan ekspresi imannya dengan berdoa serta sujud di atas lapangan.

Ekpresi iman Salah tidak hanya tampak di lapangan. Dia juga mengekspresikan imannya di luar lapangan dengan tindakan konkret menyumbang untuk kemanusiaan. 

Di tahun 2018, ia pernah memberikan ganjinya untuk membiaya warga Mesir yang mengidap kanker tulang. Ia juga menyumbang untuk 70 pasang pasangan kawin massal di Mesir. Di tahun 2017, ia juga memberi bantuan dana kepada para mantan pemain nasional Mesir yang mengalami masa sulit pasca pensiun. Karena tindakannya ini, di Mesir, Salah dijuluki pahlawan kemanusiaan.

Konteks Beragama di Indonesia

Hari ini penghayatan agama kita saya yakin tidak setaat serta sebaik Salah. Sering kali berhadapan dengan budaya glamor serta globalisasi yang masuk dalam kehidupan, penghayatan agama kita alih-alih menawarkan budaya tanding (alternatif seturut ajaran agama), malahan jatuh dalam kompromi dengan arus budaya global yang ada dalam bentuk privatisasi iman. 

Iman yang harusnya diterjemahkan dalam tindakan kasih dalam bentuk karya karitatif dan perjuangan untuk keadilan, tidak berperan banyak, di hadapan situasi kemiskinan masyarakat di sekitar kita.  

Bahkan dalam konteks kita, agama sering kali dijadikan alat untuk membenturkan perbedaan. Agama sering kali dijual demi kepentingan politis atau ekonomis tertentu. Dengan tindakan seperti itu, agama alih-alih menjadi kekuatan pemersatu malahan menjadi pemecah belah sekaligus sumber konflik.

Mo Salah melampaui segala kecenderungan beragama seperti itu. Sebagai figur publik yang populer dan berpengaruh bagi kehidupan banyak orang, Salah menunjukkan sebaliknya, beragama yang baik di tengah arus zaman mesti diekspresikan tanpa kemunafikan.  

Beragama yang baik harus membuat kita dicintai dan diterima semua orang. Dengan kehadiran dan kesaksian hidupnya, Salah membongkar sekat-sekat ideologi atau penghayatan agama yang sempit.

Keberadaan Salah menginspirasi sekaligus menyatukan banyak orang. Sebagai salah satu pemain top dan juga penganut Islam yang baik, Salah menyadari bahwa dirinya adalah panutan banyak orang. Karena itu, Salah menyadari sepenuhnya tanggung jawab untuk menunjukkan bagaimana beragama itu seharusnya dijalankan. 

Islam yang dihayati secara baik dan benar oleh salah dalam ruang privat diterjemahkannya dengan baik dan benar pula di ruang publik. Benar, kata seorang teman: mungkin baik sekali-kali kita berguru pada sepak bola untuk menjadi penganut agama yang baik dan benar.