Manusia tak selalu membutuhkan digital paper ataupun internet,

Sebagaimana ia juga tak selalu membutuhkan kertas. 

Peradaban tertingi tulis-baca adalah ketika ketiganya berdamai.

Pengaruh faktor teknologikal dalam suatu kebudayaan atau dalam bentuk lebih luasnya suatu peradaban tak dapat dipisahkan. Dari peradaban Sumeria Kuno (messopotamia) sampai peradaban modern, dari zaman batu sampai zaman internet, faktor teknologikal sangat menentukan arah peradaban manusia.

Pada era kontemporer ini, tak berlebihan jika dikatakan bahwa tingkatan lebih maju atas perkembangan dan penggunaan teknologi telah menjadi prasyarat utama dari sebuah peradaban yang lebih tinggi. Dengan kata lain, jika sebuah peradaban ingin lebih maju dari peradaban lainnya, maka kebutuhan akan pengembangan teknologi menjadi keharusan.

Pada idealnya, semua usaha pengembangan tersebut diarahkan untuk kesejahteraan kehidupan umat manusia. Ketika suatu peradaban berkembang, ia akan terus mengembangkan berbagai pengetahuan, teknologi serta keahlian yang akan menjadikannya semakin berperadaban (civilized).

Semakin berperadaban bermakna semakin modern, yang dicirikan dengan penuh kemudahannya dalam segala aktivitas manusia. Dengan hadirnya teknologi, telah banyak membantu dan memfasilitasi manusia dalam memenuhi kebutuhannya.

Lewat teknologi pula, slogan olympiade citius, altius dan fortius (makin cepat, makin tinggi dan makin kuat) tidak hanya tinggal sebagai mimpi para atlet, tetapi kini telah membayang-bayangi juga dunia keseharian manusia. Teknologi memungkinkan manusia untuk menaklukkan kekurangan, tantangan dan hambatannya dalam kehidupan.

Kemunculan, perkembangan, pencapaian-pencapaian, keterhubungan, kemunduran dan kejatuhan pelbagai peradaban masa lalu sedikit banyak telah mewarisi pengetahuan-pengetahuan berguna dan teknologi-teknologi sederhana. Seiring dengan munculnya peradaban baru, warisan pengetahuan dan teknologi tersebut terus dibangun dan dikembangkan sampai pada tinggkatannya yang lebih mutakhir.

Kemajuan yang dicapai oleh peradaban barat hari ini misalnya, tak terlepas dari hubungannya dengan warisan peradaban Islam dan Yunani Kuno sebelumnya. Transformasi pengetahuan-pengetahuan dari dua peradaban sebelumnya, mengantarkan peradaban barat menjadi peradaban yang superior diera kontemporer ini.

Berikut ini beberapa contoh terjadinya transformasi teknologi antar peradaban. Alat cetak ditemukan di Cina pada abad ke VIII M, dan alat tulis yang dapat digerakkan pada abad ke XI M dan teknologi ini mencapai eropa pada abad ke XV M. Kertas dikenal di Cina pada abad ke II M, memasuki jepang pada abad ke VII M dan dikenal di bagian barat Asia Tengah pada abad ke VIII M, Afrika Utara pada abad ke X M, spanyol pada abad ke XII M, Eropa Utara pada abad ke XIII M.

Dalam proses transformasinya, alat cetak, alat tulis dan kertas yang disebut diatas telah melewati perjalanan panjang lintas geografis dan lintas waktu berabad-abad. Terus mengalami perkembangan dan meniscayakan untuk sampai pada bentuk sempurnanya (jika boleh dikatakan demikian) di abad modern ini.

Salah satu contohnya kertas, sebagai sebuah teknologi, kertas terus mengalami perkembangan. Sebelum manusia menemukan kertas, kulit-kulit hewan, pelepah-pelepah pohon, dan lain-lain telah menjadi medium tulis. Setelah menemukan kertas, pada perkembangannya telah banyak mengalami transformasi, untuk kemudahan memenuhi kebutuhan manusia. Baik soal efisiensi maupun soal efektifitasnya.

Jika kita perhatikan lebih jauh, kebutuhan manusia akan kertas sebenarnya hanyalah kebutuhan turunan dari kebutuhan manusia akan informasi. Mengapa manusia menulis dan membaca, tak lain karena kebutuhan manusia untuk saling berbagi dalam konteks memberi (menulis) informasi dan menerima (membaca) sebuah informasi.

Terlepas dari menulis informasi untuk diri sendiri atau orang banyak. Informasilah yang menjadi alasan mendasar kenapa kertas dibutuhkan.

Dalam perkembangannya, kertas telah mengalami konversi. Dari kertas biasa yang terbuat dengan sedemikian rupa dari serat-serat kayu menuju kertas digital (digital paper) yang terkomputerisasi (mekanis-otomatis). Tak berhenti sampai disitu, kertas terus mengalami perkembangan dan kini telah sampai pada kertas yang terkoneksi (internet).

Ketiganya (kertas biasa, kertas digital dan internet), mempunyai fungsi yang sama; yaitu sama-sama sebagai medium untuk saling berbagi informasi. Apa yang diperankan oleh kertas biasa sebelumnya kini dapat juga diperankan oleh kertas digital, apatah lagi internet. Tetapi kesamaan fungsi dan peran ini tak serta merta membuat kertas biasa tereliminasi dari peradaban modern.

Jika dianologikan, posisi kertas biasa terhadap kertas digital dan internet sama dengan posisi jenis-jenis alat transportasi satu terhadap yang lainnya. Hadirnya alat transportsi udara (pesawat terbang) tidak dimaksudkan untuk meniadakan alat transportasi laut (kapal laut) dan hadirnya alat transportasi laut tidak dimaksudkan untuk meniadakan alat transportasi darat (mobil). Kendatipun memiliki fungsi dan peran yang sama.

Begitupun dengan hadirnya internet, sebagai salah satu varian medium untuk berbagi informasi tidak dimaksudkan untuk meniadakan kertas digital dan hadirnya kertas digital tidak dimaksudkan untuk meniadakan kerta biasa. Semua itu tergantung pada kebutuhan manusia.

Relasi antar manusia dan teknologi adalah relasi fungsional. Teknologi memberikan “kemudahan” yang dibutuhkan manusia, sementara manusia memberi “kebutuhan” yang dimudahkan oleh teknologi. Oleh itu, peradaban modern tak lain adalah peradaban yang dimana manusia dalam memenuhi kebutuhannya ter-mudah-kan berkat perkembangan teknologi.

Hal ini mengantarkan kita pada kenyataan bahwa, kecenderungan manusia untuk memilih kertas biasa, kertas digital dan internet tergantung pada kebutuhan yang ingin dipenuhi dari penggunaannya. Posisi masing-masing varian medium berbagi informasi tersebut memiliki kekurangan dan kelebihannya tersendiri. Ciri khususnya ini menjadi dasar bagi manusia untuk menyesuaikan kebutuhannya dengan tujuan yang diharapkannya.

Pada kenyataannya, penggunaan kertas biasa dalam peradaban modern tak benar-benar kehilangan peranannya. Kendatipun generasi terbaru dari varian kertas telah hadir. Dengan kemajuan teknologi industri, kertas biasapun terus mengalami perubahan bentuk menuju kualitasnya yang terbaik.

Hal demikian sudah menjadi keharusan, bukan saja sebagai usaha untuk mempertahankan eksistensi kertas ditengah gempuran kemajuan teknologi elektronik. Tetapi yang mendasari masih menjadi pilihannya kertas biasa karena kesesuaiannya dengan beberapa kebutuhan manusia, yang terlalu “merepotkan” (tidak ter-mudah-kan)  lagi jika digunakan kertas digital ataupun internet.

Kebutuhan yang dimudahkan berkat teknologi – termasuk kertas biasa, kertas digital dan internet – tak lain  untuk mencapai kepuasan maksimal. Umumnya manusia berusaha dengan menggunakan beberapa (tak hanya satu) dari alat pemenuhan kebutuhan akan sesuatu. Demikian juga dengan pemenuhan kebutuhan akan informasi.

Pendekatan yang lebih holistik dalam usaha untuk memenuhi kebutuhan akan informasi benar-benar menjadi alternatif untuk menjawab peran kertas diabad modern ini. Dengan pendekatan ini, kita dapat menegaskan bahwa kertas biasa masih relevan untuk digunakan dan varian lain dari kertas hadir bukan untuk mengeliminasi kertas biasa.

Kesimpulan ini lahir dari asumsi bahwa pada kenyataannya tak ada satupun alat pemenuhan akan informasi – termasuk kertas biasa, kertas digital dan internet – yang benar-benar mampu mengantarkan manusia sampai pada kepuasan maksimal tanpa membutuhkan model yang lain. Penggunaan secara proporsional dan paralel dari ketiga varian medium berbagi informasi inilah yang manusia butuhkan.

Kita semua tahu, manusia tak selalu membutuhkan kecepatan sebagaimana tak juga selalu membutuhkan kelambatan. Tak selalu membutuhkan keluasan sebagaimana tak selalu membutuhkan kesempitan dan juga tak selalu membutuhkan kekompleksitasan teknologi sebagaimana juga tak selalu membutuhkan kesederhanaan.

Kesadaran ini pada akhirnya akan membantu membentuk kebudayaan dan peradaban masyarakat modern. Semakin modern suatu masyarakat ditandai dengan semakin termudahkannya pemenuhan segala kebutuhan. Dengan kata lain, telah terfasilitasinya dengan baik apa yang dibutuhkan.

Pada saat untuk berbagi informasi yang membutuhkan keluasan, teknologi memudahkannya dengan internet. Pun juga sebaliknya, pada saat untuk berbagi informasi yang membutuhan lokalitas,  teknologi juga memudahkannya dengan kertas biasa.

Hingga akhirnya sampai pada puncak tertinggi peradaban, yaitu ketika tak ada lagi benturan atau pertentangan diantara elemen-elemen konstituen yang membentuk peradaban. Salah satu elemen konstituen pembentuk peradaban adalah faktor teknologikal. Termasuk dalam penggunaan teknologi pemenuhan kebutuhan akan informasi.

Jika kita perhatikan lebih jauh lagi, tak ada benturan dan pertentangan diantara kertas biasa, kertas digital dan internet yang akan mengeliminasi satu dengan yang lainnya. Ketiga bentuk teknologi tersebut memfasilitasi manusia dengan ukurannya masing-masing.

Memilih modern adalah memilih kemudahan dan menghindari segala kesusahan. Dan menjadi modernitas tak lain pada umumnya untuk dapat meningkatkan taraf kesejahteraan peradaban umat manusia. 

Berdasarkan penjelasan diatas, tak dapat dihindari bahwa manusia modern juga karena kertas.

------------------------------------------

Referensi :

Samuel P. Huntington. The Clash Civizations and the Remaking of World Older, terj. M. Sadat Ismail, Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia. Jakarta: Penerbit Qalam, 2012.

Fritjof Capra. The Turning point: science, society and thr rising culture, terj. Titik Balik Peradaban. Pustaka Promethea, 2014.

Karlina Supelli "Ruang Publik Dunia Maya" dalam Ruang Publik; Melacak 'Partisipasi Demokratis' dari Polis Sampai Cyberspace. Yogyakarta: PT. Kanisius, 2010.