Keragaman adalah anugerah dan kehendak Tuhan. Jika Tuhan menghendaki, tentu tidak sulit membuat hamba-hamba-Nya menjadi seragam dan satu jenis saja. Tapi Dia memang Maha Menghendaki agar manusia beragam, bersuku-suku, dan berbangsa-bangsa, dengan tujuan agar kehidupan menjadi dinamis, saling belajar, dan saling mengenal satu sama lain. 

Dengan begitu, bukankah keragaman itu sangat indah? Betapa kita harus bersyukur atas keragaman bangsa Indonesia. 

Kendati demikian, Indonesia sebagai negara yang plural dan multikultural, konflik berlatar agama sangat potensial terjadi di Indonesia. Inilah mengapa kita perlu moderasi beragama menjadi solusi, agar dapat menjadi kunci penting untuk menciptakan kehidupan keagamaan yang rukun, harmoni, damai, serta menekankan pada prinsip keadilan dan keseimbangan, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, maupun dalam kehidupan sesama manusia secara keseluruhan.

Adil dan Berimbang

Salah satu prinsip dasar dalam moderasi beragama adalah selalu menjaga keseimbangan di antara dua hal, misalnya, keseimbangan antara akal dan wahyu, antara jasmani dan rohani, antara hak dan kewajiban , dan seterusnya. Begitulah inti dari moderasi beragama, adalah adil dan berimbang dalam memandang, menyikapi, dan mempraktikkan semua konsep yang berpasangan.

Dalam KBBI, kata adil dimaknai dengan; tidak berat sebelah/tidak memihak; berpihak kepada kebenaran; dan sepatutnya tidak berbuat sewenang-wenang. 

Sedang dalam terminologi Alquran, kata adil bisa kita jumpai dengan istilah “wasath” yang dimaknai dengan ‘tengah’. Jika kata “wasath” menunjuk kepada seseorang yang menghadapi dua pihak yang berseteru, maka ia dituntut untuk menjadi “wasith” (wasit), yaitu berada pada posisi tengah agar berlaku adil, tidak berat sebelah, melainkan lebih berpihak pada kebenaran.

Di sisi lain, yakni keseimbangan, adalah istilah untuk menggambarkan suatu sikap dan komitmen yang mengarahkan untuk selalu berpihak pada keadilan, kemanusiaan, dan persamaan. 

Dari sini, keseimbangan dapat dianggap sebagai satu bentuk cara pandang untuk mengerjakan sesuatu secukupnya, tidak berlebihan dan juga tidak kurang, tidak konservarif dan juga tidak liberal.

Dalam hal ini, Mohammad Hashim Kamali (2015) menjelaskan bahwa, prinsip adil (justice) dan berimbang (balance) dalam konsep moderasi (wasathiyah) berarti bahwa, dalam beragama seseorang tidak boleh ekstrem pada pandangannya, melainkan harus selalu mencari titik temu (kalimat sawa’).

Kiranya mesti kita garisbawahi di sini pula bahwa, moderasi bukan hanya diajarkan oleh agama Islam saja, tapi juga agama-agama lain. Lebih jauh, dalam perspektif agama, moderasi merupakan kebajikan yang mendorong terciptanya harmoni sosial dan keseimbangan dalam kehidupan secara personal, keluarga dan masyarakat hingga hubungan antarmanusia yang lebih luas

Menuju Keberagamaan Inklusif

Dari kedua nilai tersebut, yakni adil dan berimbang, akan lebih mudah diwujudkan apabila seseorang memiliki keluasan ilmu pengetahuan agama yang memadai sehingga dapat bersikap arif dan bijaksana, tahan godaan sehingga bisa bersikap tulus tanpa beban, serta tidak egois dengan tafsir kebenarannya sendiri sehingga berani mengakui tafsir kebenaran orang lain, dan berani menyampaikan pandangannya yang berdasarkan pada ilmu pengetahuan.

Jika disederhanakan, maka syarat untuk terwujudnya moderasi beragama ini menuntut akan ilmu pengetahuan yang luas, akhlak yang berbudi pekerti luhur, dan sikap keberhati-hatian dalam menilai sesuatu.

Dengan melalui syarat tersebut, maka tiap-tiap pemeluk agama akan dengan mudah memiliki sifat terbuka, khususnya dalam menyikapi keragaman dan perbedaan. Dan inilah sesungguhnya salah satu hakikat dari moderasi beragama. 

Bagi masyarakat yang plural dan multikultural seperti Indonesia, cara pandang moderasi beragama menjadi sangat penting untuk dikedepankan, agar masing-masing dapat mendialogkan keragaman, baik ragam agama, kepercayaan, filsafat hidup, ilmu pengetahuan, hingga ragam tradisi dan adat istiadat lokal.

Maka hadirnya moderasi beragama ini, meniscayakan bagi tiap-tiap umat beragama untuk tidak mengurung diri, tidak eksklusif (tertutup), melainkan inklusif (terbuka), melebur, beradaptasi, bergaul dengan berbagai komunitas, serta selalu belajar di samping memberi pelajaran. 

Dengan demikian, moderasi beragama akan mendorong masing-masing umat beragama untuk tidak bersifat ekstrem dan berlebihan dalam menyikapi keragaman, termasuk keragaman agama dan pendapat atau tafsir agama, melainkan selalu bersikap adil dan berimbang sehingga dapat hidup dalam sebuah kesepakatan bersama.

Oleh karena itu, moderasi beragama menjadi muatan nilai dan praktik yang paling relevan dalam mewujudkan kemaslahatan di bumi Indonesia. Sikap mental moderat, adil, dan berimbang menjadi kunci untuk mengelola keragaman kita, demi menciptakan kehidupan keberagamaan yang tenteram dan menenteramkan. 

Bila ini dapat kita wujudkan bersama, maka setiap warga negara dapat menjadi manusia yang menjalankan agama dengan seutuhnya.