Bangsa hari ini sedang menuju ke sebuah jenjang politik paling bergengsi. Perjalanan menuju ke sana pasti akan dilalui dengan berbagai macam tantangan. 

Jika diibaratkan, tahun 2019 adalah tahun paling gelap. Kita akan menyaksikan, merasakan, dan mungkin akan terseret dalam arus kegelapan tersebut. Sebentar lagi, bahkan sudah mulai, masyarakat sudah saling menyerang opini, menyebarkan hoax, ujaran kebencian, membongkar masa lalu kelam kandidat, dan saling menghujat satu sama lain. 

Gempuran fenomena seperti ini mengancam struktur sosial masyarakat. Jangan heran, pengalaman beberapa kontestasi pemilu tahun ini membuat banyak kelompok masyarakat terkotak-kotak, terberai, dan mungkin ada juga yang menyimpan dendam untuk dilampiaskan tahun depan.

Ancaman di atas saya ibaratkan kegelapan yang butuh diterangi. Salah satu pelita penerang bagi kegelapan politik 2019 adalah menguatkan social capital (modal sosial). 

Francis Fukuyama dalam sebuah jurnal berjudul Social Capital and Development: The Coming Agenda (2002) menerangkan modal sosial sebagai sebuah norma dan nilai yang dibagikan untuk mendorong kerja sama sosial masyarakat secara kolektif. Namun, mendorong kerja sama sosial masyarakat bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan dalam waktu yang singkat ini.Tetapi, kita juga tidak bisa menjauhkan diri atau lepas tangan dari kemungkinan masalah yang akan terjadi.  

Masa depan politik 2019 ditentukan oleh seluruh masyarakat di semua lapisan dan masa depan masyarakat Indonesia bergantung pada hasil proses politik 2019. Jadi, mau tidak mau, berbuat atau diam, tetap akan berdampak bagi keberlangsungan hidup msyarakat.

Capital Social

Pada banyak literatur ilmu sosial, konsep social capital dipercaya dapat menangkal dan menyembuhkan berbagai jenis penyakit sosial masyarakat. Karena itu, konsep ini banyak digunakan sebagai rujukan kebijakan publik dan program pembangunan masyarakat. Meskipun kita sudah memasuki fase “kegelapan” seperti yang saya uraikan sebelumnya, namun masih ada waktu berbenah diri menuju masa depan yang lebih baik.

Penguatan social capital bisa dilakukan oleh siapa saja, baik individu maupun organisasi masyarakat. Karena itu, peluang berbenah masih sangat mungkin jika dilakukan secara kolektif. Di samping itu, tujuan social capital dikuatkan, selain menerangi perjalanan pilpres ke depan, juga untuk menguatkan fondasi bangsa untuk jangka yang panjang. Jadi, bonusnya ada dua!

Elemen modal sosial yang paling memungkinkan untuk kita kerja bersama ada tiga. Seperti yang ditulis oleh Robert Putnam dalam bukunya Making Demoracy Work: Civic Traditions in Modern Italy (1993) di antaranya, kepercayaan sosial, norma, dan jaringan sosial. 

Ketiga elemen ini berlaku di Indonesia dan kita termasuk bangsa yang menjunjung tinggi ketiganya, seperti bangsa ketimuran lainnya. Konstruksi yang sudah ada itu harus dimanfaatkan, jadi bukan proses politik yang menguatkan kepercayaan, norma, dan jaringan sosial tersebut, melainkan sebaliknya.

Jalan menuju 2019 sangat padat dan menyesakkan. Fenomena kebohongan, ujaran kebencian, sweeping antara pendukung A dan B mewarnai perjalanan ke depan, dan itu sangat menjijikkan. Pro-kontra yang terjadi sangat sporadis dan jauh dari produktivitas. 

Saat ini, kepercayaan sosial bangsa kita rapuh dan sangat mudah dirasuki. Ini merupakan efek struktural yang ditradisikan oleh lembaga pemerintah maupun non pemerintah melalui pelayanan sosial dan program-programnya. Kerapuhan sistem kepercayaan tersebut membuat banyak masyarakat awam lebih waspada dan cenderung eksklusif untuk menerima program maupun kandidat tertentu. 

Hal itu membuat distribusi proses politik di desa-desa maupun di perkotaan dalam rangka meningkatkan partisipasi pendukung kadang harus disokong oleh uang. 

Selanjutnya, norma dan nilai sosial yang dianut masyarakat kini sedikit demi sedikit tergerus. Kebiasaan berbohong, mencuri, dan maksiat yang banyak dilakukan oleh orang-orang yang mereka kagumi dan percayai di lembaga pemerintah memberi hidden meaning bahwa itu bukanlah dosa/pelanggaran keji. 

Fenomena inilah yang memungkinkan timbulnya kesadaran dan ingatan kolektif masyarakat hingga mereka cenderung apatis terhadap kejahatan yang sama di lingkungannya. Di sinilah norma dan nilai sosial kita berdiri bagai sebuah benteng yang rapuh, kerapuhannya adalah sebab dari matinya nalar dan hati manusia hingga melukai, menyinggung, dan menjatuhkan pendukung atau kandidat tertentu adalah hal yang biasa-biasa saja. 

Komponen terakhir adalah jaringan sosial. Secara umum, masyarakat Indonesia masih menjadikan dialog/musyawarah sebagai jalan untuk memecahkan masalah. Dan, bagi saya, proses dialogis itu adalah kunci untuk membuka pintu-pintu jaringan dalam kelompok masyarakat. 

Sejauh ini, keretakan hubungan sosial melebar karena tidak terkoneksinya kekuatan jaringan masing-masing kelompok atau tujuan dari segelintir pemimpin-pemimpin lokal dalam masyarakat. Hal inilah yang membuat sosialisasi politik kandidat tertentu menjadi buntu, informasi penting pun rawan dipreteli sehingga dapat menimbulkan pro-kontra yang tidak mendidik.

Menerangi Tahun Politik

Kegelapan seperti yang saya jelaskan sebelumnya merupakan tanda-tanda kehancuran demokrasi. Kita harus bekerja keras memompa pelita-pelita peradaban agar hidup kembali dan menerangi perjalanan politik ke depan. Seperti yang saya ulas, salah satu pelita yang butuh dibantu oleh gerakan kolektif dan masif adalah social capital

Ketiga modal sosial di atas dapat ditumbuhkan melalui, pertama, penguatan jaringan-jaringan kelompok masyarakat dengan memfasilitasi ruang dan panggung di publik. Kedua, mengaktifkan dialog keluarga dan sekolah. Ketiga, penguatan institusi lokal melalui program pemberdayaan masyarakat berbasis tetangga.

Keempat, lembaga penyelenggara pemilu sesering mungkin berinteraksi dengan jaringan maupun kelompok masyarakat. Kelima, pemanfaatan media sosial sebagai sarana untuk menjembatani hadirnya wacana modal sosial di ruang publik. Keenam adalah membangkitkan semangat kearifan lokal masyarakat melalui kegiatan kesenian dan kebudayaan.

Proses di atas sedapat mungkin bisa dikerjakan dalam waktu-waktu yang sempit ini. Dengan demikian, kita sudah berusaha agar pelita peradaban yang redup itu bisa terang kembali dan menuntun mimpi besar bangsa Indonesia menjadi sebuah bangsa yang besar dan berkedaulatan.