Menarik sekali menyimak obrolan atau mungkin sentil-sentilan antara Editor Qureta Maman Suratman dengan sebuah akun Facebook bernama Roy Murtadho.

Sentil-sentilan status tersebut mungkin berawal dari sebuah tulisan yang berjudul Wisata Qureta ke Penambangan Emas di Banyuwangi. Adapun penambangan yang dimaksud adalah PT Bumi Suksesindo (BSI). 

Tentunya pihak Qureta mempunyai kepentingan yang lebih esensial terhadap tradisi literasi yang dapat dijadikan sebagai media penyampai aspirasi sekaligus pengawasan tidak langsung terhadap dinamika pertambangan dan hal-hal penting lainnya yang ada di sekitar lokasi penambangan emas.

Sedang si penyentil terlihat alergi terhadap penambangan tersebut. Padahal Indonesia memiliki deposit berbagai jenis bahan tambang yang cukup melimpah yang harus dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan perekonomian nasional ataupun daerah. Kenapa alergi?

Kegiatan penambangan memang sering dikonotasikan sebagai salah satu kegiatan yang merusak lingkungan. Termasuk pabrik kertas, sering menjadi kambing hitam perusakan lingkungan. Mungkin perlu juga membaca tulisan yang berjudul Fobia Tebang Hutan?

Mungkin resensi atau review atau apalah namanya tulisan ini memilih film drama disaster lingkungan yang berjudul Mine 9 (2019) sebagai pemantik permasalahan di atas. Film indie ini dirilis pada April 2019. Ini mengisahkan tentang kehidupan dari penambang batu bara yang ada di Appalachia, Amerika Serikat.

Sebelum masuk ke pembahasan, ada baiknya menengok kembali para pendahulunya seperti film-film di bawah ini.

Film-film ini kesemuanya menggambarkan dan menyajikan keseruan visual dramatis kerasnya kehidupan penambang. Di mana penambang merupakan salah satu profesi yang membutuhkan tenaga dengan stamina yang prima dan tentu memiliki risiko yang sangat besar.

Emas yang dinikmati para ibu, gadis-gadis, dan sebagian pria, kemudian ada batu bara yang menggerakkan turbin-turbin raksasa, dan lainnya, seperti logam, berlian, dan semua aneka bahan tambang yang kita nikmati, yang tersaji, adalah hasil usaha dan kerja yang keras dan mematikan. 

Sebagaimana dalam petikan di dalam film ini, Mine 9 (2019), di mana pekerja sering mengalami halusinasi karena saking kerasnya medan kerja.

But men do hallucinate,
the methane gets to 'em.
Heaven, Hell, angels, demons,
I don't know men seen 'em all.

Sangat lucu sekali bila sebagian kita alergi dengan penambangan, sementara kita menikmati hasil-hasil tambang tersebut.

Seperti halnya pada film The 33 (2015) yang bercerita kisah nyata dari aksi heroik dari para penambang di Chile yang terjebak di dalam kecelakaan tambang San Jose pada Agustus 2010 di Gurun Atacama, di mana kesemua 33 penambang yang terjebak tersebut berhasil diselamatkan.

Kemudian ada film Deepwater Horizon (2016) yang sudah dirilis pada 30 September 2016 lalu yang berkisah mengenai kecelakaan tambang minyak lepas pantai di Teluk Meksiko pada 2010 yang menyebabkan 11 orang pekerja tewas.

Ada juga film North Country (2015) yang mengisahkan seorang perempuan di Minnesota yang mendapatkan tawaran bekerja di tambang. Film yang dirilis pada 21 Oktober 2005 ini mengangkat kehidupan penambang perempuan dengan berbagai macam kekerasan yang mereka alami.

Setiap kegiatan penambangan pasti akan menimbulkan dampak lingkungan, baik bersifat positif maupun negatif. Dampak positif perlu dikembangkan, sedangkan dampak negatif harus dihilangkan atau ditekan sekecil mungkin.

Untuk mengurangi dampak negatif tersebut, maka kegiatan penambangan harus dikelola dengan baik sejak awal hingga akhir kegiatan.

Di film Mine 9, ada peristiwa-peristiwa heroik yang paling tidak menjadikan kita peduli dan simpati terhadap usaha keras mereka dalam menghidangkan kenyamanan kepada kita dari usaha penambangan. Kisah tersebut mengenai sembilan penambang yang berusaha untuk bertahan hidup setelah terjadi ledakan gas metan di lokasi tambang yang menyebabkan mereka terjebak dengan oksigen yang terbatas. 

Hampir semua kegiatan pertambangan selalu diawali dengan penyelidikan umum, seperti sektor eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, pengangkutan/penjualan, dan diakhiri dengan rehabilitasi lahan pasca-tambang. Termasuk yang dilakukan oleh PT Bumi Suksesindo (BSI).

Lihat! Betapa heroiknya mereka terhadap profesinya!

You wanna be a miner? Eh, ya know what, why don't you study in school and see how good you can do there? That mine goes a hell of a lot deeper underground than the water table is. What's the water table again?
It is the lowest point to where the water sits.  It's geology.

Kegiatan penambangan yang tidak berwawasan atau tidak mempertimbangkan keseimbangan dan daya dukung lingkungan, serta tidak dikelola dengan baik, dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.

Dalam film Mine 9 (2019) yang disutradarai oleh Eddi Mensore ini, dalam kisahnya terlihat terjadi pelanggaran hingga terjadi bencana. Mari kita lihat petikannya:

"When those pumps give out, and they will, then my men are gonna drown two miles in, unless an ignition burns us up first. What are you gonna do? Are you gonna call MSHA? And what happens if I call MSHA, huh? What happens when MSHA shows up here? They're gonna shut us down and we're all screwed."

Dampak positif kegiatan penambangan dalam film ini, antara lain: meningkatkan kesempatan kerja, meningkatkan roda perekonomian sektor dan sub-sektor lain di sekitarnya.

Dampak negatif penambangan dalam film ini, antara lain: terjadinya gerakan tanah, hilangnya daerah resapan air, rusaknya bentang alam, pelumpuran sungai, intensitas erosi di daerah perbukitan yang digambarkan jelas di dalam sorotan-sorotan singkat dan menarik dalam film ini. 

Film yang didukung oleh para pemain seperti Terry Serpico, Mark Ashworth, dan Kevin Sizemore ini sepertinya memberikan pelajaran juga tentang pertimbangan topografi. Kajian ini berguna untuk mendapatkan gambaran mengenai letak atau lokasi deposit bahan tambang, apakah terdapat di daerah pedataran, perbukitan bergelombang, landai, atau terjal.

Film yang berdurasi satu jam lebih ini memberikan pengetahuan tentang sifat fisik dan keteknikan tanah/batuan. Kajian sifat fisik tanah/batuan yang antara lain meliputi warna, tekstur, dan kondisi batuan apakah padat, berongga, keras atau bercelah.

Akhirnya film Mine 9 (2019) ini atau film-film tentang tambang lainnya telah memberikan pelajaran berharga kepada kita tentang pertambangan.

Selain kasus topografi di atas, penambangan juga harus memperhatikan aspek lainnya, seperti hidrogeologi atau deposit bahan tambang tersebut, apakah terletak di daerah imbuhan air tanah atau dekat dengan mata air yang penting bagi kebutuhan masyarakat sekitar. 

Juga perlu diperhatikan kondisi air tanah di sekitarnya, apakah bahan tambang tersebut terdapat pada aliran sungai yang merupakan salah satu sumber daya alam penting bagi lingkungan.

Kebencanaan geologi juga penting untuk kegiatan ini guna mengetahui apakah lokasi bahan tambang tersebut terletak di dekat daerah rawan gerakan tanah, jalur gempa bumi, daerah bahaya gunung api, daerah rawan banjir, daerah mudah tererosi, dan sebagainya. 

Hal lainnya, seperti kajian kawasan lindung untuk melihat apakah lokasi bahan tambang tersebut terletak pada Kawasan Lindung Geologi atau tidak.

Dan jangan lupa tentang aspek Sosekbud yang meliputi jumlah dan letak pemukiman penduduk di sekitar lokasi penambangan, adat-istiadat, dan cagar/situs budaya, termasuk juga tempat atau kawasan yang dikeramatkan.