“Ada Kajati yang bicara pakai Bahasa Sunda, Pak. Ganti, Pak.”

Rasanya tidak perlu lagi menjelaskan siapa pemilik kalimat tersebut. Seketika, gairah kesukuan tatar Sunda langsung tersulut. Hanya karena tidak paham Bahasa Sunda, bukan berarti bahasa tersebut adalah ancaman. Demikian halnya untuk berbagai keberagaman di tengah masyarakat kita.

Manusia Indonesia kadang-kadang punya keunikan sendiri, yang bagi saya menggelikan alih-alih menunjukkan kejantanan. Terhadap sesuatu yang asing di telinga, antipasti bisa muncul seketika. Bahkan, tak jarang dengan mengambil tindakan sewenang-wenang.

Stigma “menyeramkan” pada Bahasa Sunda menurut Pak Arteria Dahlan adalah salah satu contoh. Barangkali beliau yang keturunan Sumatera selama ini merasa kesulitan belajar Bahasa Sunda, sehingga menunjukkan ekspresi takut pada bahasa tersebut.

Ayo coba ingat, dulu ketika sekolah kita pasti sering menghindari kontak mata ketika guru bertanya. Apalagi kalau yang bertanya adalah guru matematika atau fisika. Lalu timbul di dalam benak kita bahwa pelajaran tersebut termasuk guru-gurunya adalah ancaman yang menakutkan.

Lain cerita Pak Dahlan, lain juga di Kalimantan. Bulan Januari ini masih menjadi mimpi buruk bagi saudara-saudara kita di Sintang, Kalimantan Barat, yang hatinya sudah tertaut kukuh dengan ajaran Ahmadiyah. Sebuah organisasi Islam yang difatwa sesat hanya oleh ormas, namun karena anggotanya para ulama jadi banyak yang patuh secara buta.

Akhir tahun 2020 kemarin masjidnya sudah dibakar oleh massa tanpa logika. Upaya hukum dilakukan dengan me-meja hijau-kan para provokator, namun tak disangka majelis hakim justru mencecar pertanyaan kepada para Ahmadi dengan fatwa MUI. Lucu sekali.

Perjuangan saudara-saudara Ahmadi di sana ternyata belum berakhir, meskipun wakil bupati yang menandatangani SK Pembongkaran Masjid sudah meninggal sesuai takdir. Pertengahan bulan Januari ini kabarnya menjadi tenggat waktu untuk mengalihfungsikan Masjid MIftahul Huda menjadi rumah tinggal.

Semakin tidak masuk akal, ketika perintah alih fungsi tersebut datang dari pemerintah sebagai lembaga yang seharusnya memberikan perlindungan penuh kepada warganya dalam segala hal. Maka ini adalah contoh lain “alergi”-nya seseorang pada hal baru yang seharusnya dipelajari sampai tahu.

Masjid Sintang dan Bahasa Sunda versi Pak Arteria adalah dua hal yang menunjukkan bahwa masyarakat kita, bahkan sampai ke level pemerintah, dipenuhi oleh orang-orang yang malas ribet. Bahkan lebih dari itu, masih malas belajar.

Hal yang baru dan sulit dipelajari, serta berbeda dengan kebiasaan akan dikatakan sebagai ancaman yang harus diganti bahkan dihancurkan. Perbedaan diibaratkan monster menakutkan yang akan memakan habis kebiasaan lama.

Banyak orang yang lebih memilih solusi termudah dan tercepat, tanpa berpikir apakah akan ada pihak yang dirugikan atau tidak. Di level pemerintah, pejabat yang “tidak sehati” bisa dengan mudah main ganti menteri. Di kelas rakyat pun, tetangga yang “nyleneh” pasti akan dikucilkan dari grup arisan.

Gambaran inilah yang harus kita renungkan sebagai wajah toleransi di Indonesia. Membicarakan toleransi di negara yang katanya “Bhineka Tunggal Ika” ternyata sebatas simbol saja. Faktanya, toleransi cuma mimpi.

Orang masih berharap siapapun yang jadi pimpinan haruslah se-agama. Demikian halnya yang menjadi teman-temannya haruslah orang-orang yang seragam. Sampai pada pekerjaan atau profesi, bapak politikus harus punya generasi anak-cucu yang jadi politikus.

Ketika ada hal yang berbeda, alih-alih belajar dan mencari tahu dari sumbernya, tindakan yang diambil justru menghancurkan, membakar, mempersekusi, atau minimalnya mem-bully. Lebih parah lagi, bagi para pemangku jabatan hal semacam ini seperti menjadi kesempatan “cari dukungan” untuk agenda pemilihan wakil rakyat periode mendatang.

Keyakinan saya ketika melihat fenomena lucu ini mengarah pada pendapat sekelompok orang yang pernah mendefinisikan toleransi secara bebas tapi absurd. Dikatakan bahwa toleransi boleh saja bersemai, tapi jangan mengganggu yang sudah paten.

Toleransi bukanlah didefinisikan sebagai sikap menghargai perbedaan, tetapi lebih pada wajib menghormati dan tidak boleh menyimpang dari yang sudah ada. Kalau berbeda dari yang sudah ada, maka namanya berganti jadi penista.

Sebuah kelompok agamis yang menempatkan Agama Islam sebagai patokan ajaran yang baku, maka jika ada yang berbeda tafsir seketika distempel sesat dan menyesatkan. Tidak ada bedanya dengan orang yang menjunjung tinggi berbahasa Indonesia, dengan cara tidak mau lagi bersentuhan dengan bahasa daerah.

Lucu bukan? Apa bedanya dengan kalimat semacam ini, “kamu boleh jadi apa saja, asal sesuai keinginan saya.” Kalau begitu di mana letak toleransinya? Ternyata tidak ada bedanya negara otoriter dengan negara pemilik slogan khas kebhinekaan.

Kita selalu menginginkan orang lain menerima kita dengan segala perbedaannya, namun di saat yang sama tidak rela juga melihat perbedaan yang ada di seberang sana. Semoga para pembakar masjid di Sintang tidak melakukan ini hanya karena uang belaka, karena masjid yang dibakar juga menggunakan uang juga, pengorbanan para keluarga yang belum tentu berkecukupan harta.

Sekali lagi, mari sejenak renungkan tentang perbedaan yang sejatinya juga fitrat Tuhan. Bayangkan kalau seisi dunia punya wajah dan bentuk tubuh yang sama semua, bukankah akan jauh lebih sulit bagi kita untuk saling mengenal.

Bagi para kaum agamis yang menginginkan keseragaman, bukankah surga dan neraka juga memiliki pintu dan tingkatan yang berbeda-beda? Bahkan Tuhan membebaskan umat-Nya untuk memilih dari pintu mana kita ingin memasukinya.