Matahari telah berada di atas kepala, aku baru saja usai menebas hutan yang nantinya akan kujadikan huma. Aku duduk diatas ranting yang kutebas tadi pagi, semilir angin hutan di siang itu bersama sejuknya oksigen dari pohon yang menaungiku. Terasa letih yang aku rasa, kurebahkan badanku yang dari tadi sudah penuh keringat, kupandangi langit lewat pucuk-pucuk pohon yang membuat aku teduh. Selang beberapa menit, datanglah kantuk yang tidak tahu dari mana datangnya, mungkin berasal dari aku semalam bergadang habis bermain gapleh bersama teman-temanku. Dalam hitungan detikpun aku sudah lupa dengan keadaanku. Tapi aku merasakan keringanan badanku akibat berat oleh angan-anganku. 

“Hai... perkenalkan namaku Cinta.” Kata seorang gadis menghampiriku.

Aku merasa kaget, kok ujug-ujug ada seorang gadis yang menghampiriku. Membuat aku tak habis pikir.

“Hai juga, iya salam kenal juga.” Balasku diiringi oleh senyumku.

“Kamu siswa baru ya di sekolah ini?” Kata Cinta yang namanya baru aku tahu. 

Aku merasa lebih kaget, sekolah? Kok sekolah? Emang aku sekolah? Timbul pertanyaan dari keherananku. Tapi iya memang betul, setelah ku perhatikan aku memang memakai baju SMP. Cinta pun sama mengenakan baju SMP. Dan kuperhatikan juga di sekelilingku, ada bangunan sekolah yang kokoh tapi sederhana, aku tidak tahu sekolah apa namanya. Dan banyak siswa-siswa lainnya yang melakukan aktifitasnya. Aku pun masih heran dalam alur cerita ini.

“Lho kok bengong?” Cinta memandangiku dengan tangannya mengibas-ngibaskan di depan muka ku.

“Ohh.. maaf. Eummm iya aku siswa baru di sini.” Jawabku, kata-kata itu spontan keluar dari lidahku.

“Aku juga sama siswa baru di sini.” Kata Cinta seolah sudah akrab saja dengan ku.

“Oh iya? Sama dong.” Kataku untuk menyakinkan.

“Sama iya kita sama.” Katanya yang aku tidak tahu maksudnya

Ting.... ting... ting... bel sekolah berbunyi. Iya mirip bel Sekolah Dasar ku yang sederhana. Kulihat siswa-siswa lain begitu sibuk akan masuk ke kelasnya masing-masing.

“Ohh sekarang sudah masuk.” Aku berkata kepada Cinta yang dari tadi ada di depanku.

“Iya, padahal aku masih ingin ngobrol sama kamu.” Cinta berkata sambil melihatkan wajahnya yang sedih tapi masih terlihat cantik.

“Nanti bisa disambung kok, kan kita satu sekolah?” Aku jawab dengan santai.

“Kapan tuh kita bisa ngobrol lagi?” Tanya Cinta

“Kapan ya?” Aku bertanya pada diriku sendiri.

“Begini aja gimana kalau nanti kamu main ke rumahku?” Tanya Cinta untuk memberikan solusi.

“Ohh boleh tuh.” Ku jawab dengan sepontan, aku telah terhanyut dalam drama ini.

Kami pun berpisah ke kelas masing-masing. Jelas ini heran yang aku rasakan, kenapa kok bisa begini? Sadar tidak sadar, terasa panas pada wajahku dalam keadaan mataku yang setengah sadar aku geserkan kepalaku dari sinar matahari yang terus bergerak dari tadi. Aku pun tidur lagi dalam ketidaksadaranku. 

“Hai... selamat datang di rumahku.” Cinta menyambutku dengan kebahagiaan.

Jelas membuat aku heran lagi. Tadi di sekolah sekarang ada di rumah Cinta. Entah dari mana aku tahu alamatnya.  Aku tak ingin berpikir panjang, aku nikmati saja alurnya.

“Ini rumahku, gak terlalu mewah tapi cukup sederhana.” Kata Cinta seraya menunjukan rumahnya.

Sederhana? Gak mewah? Bila kulihat itu sudah melebihi mewah bagiku. Rumah Cinta yang kokoh dengan menancap bumi. Atapnya yang kuat, bila hujan pun tak akan bocor. Di belakang ada perkarangan yang luas yang penuh dengan beraneka macam tanaman. Di sampingnya memiliki garasi mobil, dan mobilnya pun berbagai macam merk. 

Aku pun teringat rumahku. Yang hanya rumah panggung, dari empat tihang yang tidak menancap bumi bila ada angin kencang  mungkin akan terbawa terbang. Di sekelilingnya hanya tak memiliki apa-apa. Rumah yang ada di tengah kebun kopi yang berbuah dua kali dalam satu tahun sedangkan rumputnya  hidup dalam setiap detik. Itu hal yang sederhana bagiku.

“Ayo masuk kedalam.” Ajak Cinta kepadaku

“Oh iya....” Jawabku tanpa menolak.

Aku pun di persilahkan duduk di kursi yang empuk bagiku. Di tengah ruangan tamu yang begitu tertata rapi. Tak lama kemudian datang membawakan minuman dari dapur yang aku tidak tahu kapan cinta ke dapurnya.

“Maaf menunggu lama.” Maaf cinta kepadaku, padahal bagiku tidak begitu lama. “Ini silahkan diminum, cuma bisa ini yang bisa dituangkan.” Cinta mempersilahkan.

Setelah aku minum, nikmat aku rasa. Aku pun tidak tahu minuman apa, berwarna putih susu tapi rasanya tidak seperti susu. Iya nikmat karena aku belum pernah merasakan mungkin selama ini aku hanya dapat menikmati air putih saja. Itu pun minuman yang sudah mewah bagiku.

“Tadi gimana di sekolah?” Cinta membuka pembicaraan.

“Eummm gimana apanya?” Aku balik bertanya karena tidak tahu maksudnya.

“Yaa rasanya masuk awal-awal gitu.” Kata Cinta memperjelaskan maksudnya.

“Iya menyenangkan banyak teman baru walaupun awalnya agak canggung.” Jawabku.

Kami ngobrol dengan sepuasnya, kadang tertawa dengan gurauan dalam obrolan kami. Di tengah-tengah asyiknya kami ngobrol timbul pertanyaan dalam pikiranku. Kok aku ngobrol sama Cinta dari tadi gak lihat orang tuanya? Maka dengan spontan aku mempertanyakan hal itu kepada Cinta.

“Cinta?” Kataku memanggil Cinta walaupun kami saling berhadapan.

“Iya ada apa?” Tanya Cinta dengan wajah manisnya.

“Dari tadi kita ngobrol kok gak lihat orang tua mu?” Aku bertanya.

“Ohh orang tuaku lagi pada bekerja.” Jawab Cinta dengan jelas.

“Bekerja di mana memang?” Aku kembali bertanya entah karena penasaran entah karena apa. Spontanitas semua yang aku lakukan.

“Kalau ayah sedang bertugas di pulau sana karena dia seorang Polisi.” Jawab Cinta. “Sedangkan ibu sedang bekerja di Kantor Bank, nanti sore juga pulang.” Lanjut Cinta.

“Ohhh... iya iya ya...”  Aku berkata. Entah apa seolah-olah membuat aku lesu.

“Kamu sendiri gimana? Orang tua mu bekerja apa?” Tanya Cinta membalas pertanyaanku tadi.

“Bapak ku seorang petani yang tiap hari bekerja di hutan, ladang dan huma.” Aku menjawab dengan sedih dan lesu.

“Ohh begitu.” Kata Cinta yang muka nya datar aja. “Kalau ibu mu?” Cinta bertanya lagi.

“Emak ku sudah meninggal sejak aku berumur tiga tahun.” Jawabku begitu tak bergairah.

“Ohh begitu yaaa..” Kata Cinta yang tidak ada rasa iba.

“Kamu beruntung ya Cinta.” Aku berkata kepada Cinta yang sedang asyik mempermainkan barang yang aku tudak tahu.

“Maksud kamu?” Tanya Cinta seraya menoleh kepadaku.

“Iya kamu beruntung lahir dengan keadaan orang tua yang lengkap.” Kataku. “Dan kamu dengan mudah meminta apapun dengan keadaan orang tua yang begitu berkecukupan. Sedangkan aku yang harus bekerja membantu orang tua demi makan kami sehari-hari.” Lanjutku.

“Ohh ha ha ha ha.” Cinta malah tertawa. “Gak juga ahh.” Lanjut Cinta.

“Lho kok bisa? Apakah dengan kekayaan mu masih kurang bahagia?” Tanyaku entah kenapa intonsiku agak naik.

“Bukan begitu. Maksudku, itu hanya penilaian mu aja bahwa dengan memiliki banyak harta aku bahagia. Padahal tidak seperti yang kamu menilaiku.” Jawab Cinta dengan tegas. “Kamu harus tahu, harta bukan kunci kita bahagia. Harta adalah titipan sekalipun cobaan. Apakah dengan harta manusia akan tetap bersyukur atau akan menjadi sombong.” Lanjut Cinta dengan bersemangat.

Aku tertunduk malu dengan pernyataan Cinta seolah-olah aku tahu maksudnya.

“Jadi apapun yang kita miliki harus tetap syukuri. Dengan rasa syukur kita akan bahagia karena merasa cukup dengan yang kita miliki.” Kata Cinta menasihatiku.

“Iya iya.. maaf saja kalau aku salah menilai.” Kataku yang penuh penyesalan.

“Iyaa aku pun sering merasa sedih, takut dengan harta yang orang tua miliki membuat aku sombong. Padahal itu adalah milik usaha orang tuaku.” Kata Cinta. “Iya aku yakin kamu pun nanti akan sukses dengan kerja keras mu sendiri. Tapi kalau kamu sudah sukses dan tercapai yang kamu inginkan, kamu jangan lupa diri dan tetap dalam jalannya.” Lanjut nasihat Cinta.

“Iya terimakasih banyak.” Kataku yang masih tertunduk.

“Ohh iya jangan lupa makan juga ini ya. Ini enak lho, ini bikinan ibu ku.” Cinta menyuruhku memakan makanan yang ada di meja. Aku juga heran sejak kapan makanan ada di meja? Kan tadi Cinta Cuma membawa minuman saja. Entahlah, nikmati aja.

Dalam tanganku memegang makanan itu, aku dikejutkan dengan suara mamangku memanggilku, yang dari tadi pagi bareng-bareng bekerja. Ya mamangku menggangu tidur aja. Kulihat matahari ternyata sudah menggelintir beberapa derajat dari tengah kepalaku. Aku harus pulang karena akan melanjutkan membantu bapak membawa buah kopi di kebun. Huhh ternyata ini adalah cerita dalam mimpi yang penuh makna, ya iya ‘MIMPI DI SIANG  BOLONG’.

 

Bandung, 15 April 2018