Agaknya begitulah asumsi pertama yang ada di pikiran saya. Dalam paradigma common sense (akal sehat), pengetahuan yang paling murni muncul dari penulis adalah yang awal. Dan itu wajar, karena masih muda.

Mengapa mimpi basah? Langkah awal seseorang melakukan rencana jangka panjang ke depan tidak lain dengan angan-angan, bahkan bisa jadi sampai kebawa mimpi. Betapa membahagiakannya seseorang itu apabila mimpinya berujung pada mimpi basah.

Konotasi mimpi basah ini kental akan seks. Namun saya tidak bermaksud menggiring kepada perihal seksual. 

Asumsi seks itu nikmat, memang iya. Namun, sebelum nikmat itu muncul, ada proses spekulasi yang runtut sehingga mampu menimbulkan kenikmatan yang luar biasa. Jangan harap akan mimpi basah apabila ketika sedang bersenggama anda ditikung orang.

Apabila seseorang ingin menikmati sesuatu yang luar biasa, maka cobalah berspekulasi secara runtut sekaligus imajinatif-kreatif. Silakan overthinking, namun perlu diimbangi dengan more over-action.

Anda Seorang Pemuda?

Dalam Undang-undang No. 40 Tahun 2009, pemuda adalah warga negara Indonesia yang berusia 16 sampai 30 tahun. Rentang usia ini memasuki periode penting dalam hal pertumbuhan dan perkembangan.

Laporan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2017, total pemuda di Indonesia sebanyak 63,36 juta jiwa (sex rasio: 102,36%) dari 265 juta jiwa (laki-laki: 133,17 juta jiwa & perempuan: 131,88 juta jiwa). Itu artinya, dari sekitar 102 orang pemuda laki-laki terdapat 100 pemuda perempuan.

Apabila berkaca pada sejarah, khususnya Indonesia, peran pemuda sudah cukup memberikan deskripsi yang begitu kuat sebagai agen perubahan dunia.

Lahirnya Politik Etis Belanda (1900-1924) mengawali peluang bangsa Indonesia untuk bangkit melalui gerakan para pemuda. Pada saat itu muncul gerakan R.A. Kartini (1879-1904), pergerakan Budi Utomo tahun 1908, Sumpah Pemuda tahun 1928, sampai dengan pergerakan mahasiswa meruntuhkan kekuasaan Orde Baru pada tahun 1998 (BPS, 2018: 3).

Masing-masing peristiwa tersebut membawa Indonesia mencapai kemerdekaannya dari penjajah hingga menjadi negara berkembang. Lalu apa kontribusi pemuda masa sekarang untuk bisa membuat Indonesia menjadi negara adidaya?

Apabila melihat laporan data Susernas tahun 2017, hampir tidak ada pemuda yang tidak bisa membaca dan menulis (buta huruf). Hal ini tercatat sekitar satu dari empat pemuda adalah seorang pelajar; kelompok umur 16-18 tahun (71,42%), 19-24 tahun (24,77%), dan 25-30 tahun (2,93%).

Dari sini, sebenarnya syarat untuk menjadi negara maju bisa teraplikasikan dengan kemampuan mereka dalam membaca dan menulis atau istilah populernya literasi. Sayangnya, tidak seremeh itu dan negara tidak begitu bangga akan hal itu.

Pesatnya persaingan global, baik pendidikan, ekonomi, dan infrastruktur akan bisa diimbangi dengan kualitas pembacaan secara jeli, teliti, dan kritis. Bukan hanya dibaca secara konsumtif, namun bisa berdampak produktif.

Di sisi lain, telepon seluler menjadi primadona bagi para pemuda untuk menggali informasi melalui akses internet. Sebesar 93,42% para pemuda mengakses internet melalui telepon seluler. Tingkat penetrasi internet tertinggi di kalangan pemuda ada pada kelompok umur 16-18 tahun (72,86%), disusul kelompok umur 19-24 tahun (67,63%), dan kelompok umur 25-30 tahun (54,17%).

Dan tampaknya, akhir-akhir ini, para pemuda masih saja gemar sekadar membaca, tanpa adanya sikap kritis yang konstruktif. Sehingga muncullah informasi-informasi yang bermuatan hoaks. Di mana unsur daripada munculnya berita hoaks sangat beragam, di antaranya; kepentingan pribadi, misinformasi, disinformasi, kebencian, dan guyonan yang merendahkan.

Berdasarkan data dari Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) tahun 2017, yang melakukan survei terhadap partisipan dari SD hingga Strata 3, menemukan sebanyak 44,30% menerima berita hoaks setiap hari.

Bentuk hoaks yang sering diterima adalah kebanyakan bersumber dari telepon seluler (smartphone) dengan rincian; tulisan (62,10%) dan gambar (37,50%) melalui sosial media (92,40%) dan aplikasi chatting (62,80%). Jenis hoaks yang sering diterima adalah masalah politik (91,80%) dan SARA (88,60%).

Adapun alasan diteruskannya berita penyebaran hoaks karena dapat mempengaruhi opini publik (40,60%), suka informasi yang menghebohkan (28,90%), minimnya tindakan hukum (22,90%), dan bisa dimanfaatkan sebagai bisnis (7,60%).

Apabila peran pemuda di sini tidak bisa meminimalisasi maraknya berita hoaks, maka jangan harap suatu negara akan bisa adidaya dan hanya sekadar lamunan yang berujung mimpi basah tak berguna.

Pesatnya Perubahan Dunia

Arus globalisasi yang terus-menerus memobilisasi segala aktifitas manusia, khususnya melalui teknologi, memunculkan istilah Revolusi Industri 4.0 di abad 21. Revolusi ini ditandai dengan maraknya kemajuan teknologi di segala bidang, khususnya kecerdasan buatan (artificial intelligence).

Beberapa waktu yang lalu (04/03/2019), sebagaimana dilansir oleh CNN Indonesia, Presiden Jokowi dalam orasi ilmiahnya yang ditujukan kepada siswa SMA Taruna Nusantara mengingatkan untuk bisa beradaptasi dengan perubahan dunia. Hal ini disebabkan cepatnya arus teknologi yang menjadi tolak ukur kemajuan negara.

Jokowi juga menceritakan pengalamannya yang bermain bola pingpong dengan menggunakan teknologi virtual reality di Kantor Facebook, Amerika Serikat. Dia diajak oleh pendiri Facebook Mark Zuckerberg bermain pingpong dengan memakai kacamata besar.

Betapa menakjubkannya ketika tidak ada meja dan bola pingpong, tapi bermain pingpong sungguhan 100 persen. Menurut Jokowi, Mark menyampaikan bahwa teknologi itu bisa digunakan dalam permainan apapun, termasuk sepakbola.

Teknologi semacam itu menjadi lamunan panjang bagi para pemuda yang asing lagi awam dengan teknologi, bahkan bisa jadi sampai mimpi basah. Sebuah mimpi yang hanya antusias tinggi untuk memiliki tanpa ikut berkontribusi bersaing yang menjadikan negara lain juga dibuat mimpi basah.

Peran Pemuda sebagai Agen Perubahan Dunia

Ada dua hal yang bisa menjadikan pemuda ikut berkontribusi mengubah dunia hingga menjadikan negara lain jadi mimpi basah, yaitu kesadaran (consciousness) dan penasaran (curiosity) yang tinggi akan ilmu pengetahuan.

Menurut Pawlik (1997), ada dua rumusan kesadaran yang penting direfleksikan, yaitu (a) aspek fenomenologis kesadaran, dalam pengertian perhatian dan kesadaran mental (awareness); dan (b) aspek fenomenologis kesadaran, dalam pengertian kesadaran diri (self-awaraeness dan self-consciousness) yang mendeskripsikan terhadap pengalaman kesadaran internal seorang diri (Hastjarjo, 2005).

Tentunya, kesadaran seseorang tidak akan tumbuh besar tanpa adanya sikap penasaran tinggi akan ilmu pengetahuan. Seseorang yang haus akan ilmu pengetahuan, bisa dipastikan dia ingin memosisikan dirinya untuk bisa beradaptasi dengan dunianya dan menyiapkan masa depannya yang lebih terjamin.

Menurut Cambridge Dictionary, penasaran (curiosity) is an eager wish to know or learn about something. Something that is interesting because it is rare and unusual. Untuk mengetahui sesuatu yang membuat orang sadar bahwa itu benar-benar baik dan benar-buruk, perlu ada kombinasi kuat antara penasaran (curiosity) dan kesadaran (consciousness).

Dan keduanya merupakan modal dasar bagi para pemuda untuk mendobrak taklid buta pada teknologi yang semakin canggih. Kita sadar bahwa virtual reality yang digambarkan oleh Jokowi is so amazing. Namun apabila kita tidak mencari tahu dengan rasa penasaran tinggi, kita masih saja terbelakang.

Dari sini kita boleh bermimpi setinggi langit, bahkan sampai mimpi basah yang sebasah-basahnya. Namun, bangun mimpi itu dengan proses dengan imajinasi dan kreasi yang berkelas, sehingga bisa kita nikmati secara luar biasa.