“It's Carrick you know, hard to believe it’s not Scholes.” Itu adalah lagu dari para penggemar Manchester United untuk Michael Carrick. Ya, mereka tidak percaya bahwa Carrick bukanlah Scholes.

Jelas siapa yang tak mengenal Paul Scholes. Gelandang MU ini merupakan gelandang terbaik yang pernah dimiliki oleh united, pemain seperti Andrea Pirlo, Zinedine Zidane dan Xavi Hernandez mengakui pemain bernomor punggung 18 itu di United, adalah gelandang terbaik dunia, bahkan Xavi mengatakan, penyesalannya dalam sepak bola adalah tidak pernah bermain satu tim dengan Scholes.

Lalu siapa Michael Carrick, pemain yang didatangkan dari Tottenham Hotspurs dengan banderol 18 jt Pounds tahun 2006 silam, sejatinya bukanlah sosok pengganti yang dianggap mampu menggantikan Roy keane, Kapten terlama Manchester United merupakan gelandang bertahan yang keras dan lugas di lini tengah. Keane memutuskan untuk hengkang dari MU pada 2005 ke Glasgow Celtic dan pensiun setahun kemudian dari dunia sepak bola.

Mewarisi nomor punggung 16 milik Roy Keane, tentu Sir Alex Ferguson tidak main-main mendatangkan Carrick ke Old Traford waktu itu. Memiliki gaya bermain yang berbeda dengan gaya petarung ala Roy Keane, Carrick lihai dalam membaca arah bola dan memberikan passing-passing yang cermat.

Tentu gaya bermain seperti Carrick tidak begitu disukai oleh publik inggris yang lebih suka terhadap tackle-tackle keras dari pada intersept ala Carrick.

Meskipun begitu Michael Carrick tetap berbeda di mata Sir Alex Ferguson. Sejak didatangkan tahun 2006 hingga 2013 Carrick tetap sebagai pilihan utama bahkan dalam biografi SAF. Ia mengatakan bahwa Carrick adalah pemain yang rendah hati dan tidak mau menunjukkan kemampuannya yang luar biasa di depan Steven Gerard dan Frank Lampard.

Ya, begitu ia ungkapkan yang sedikit kesalnya terhadap timnas Inggris yang selalu menempatkan legenda Liverpool dan Chelsea itu jadi punggawa lini tengah three lions. Tidak seperti di United, Carrick sedikit tidak beruntung di timnas Inggris. Hampir di semua kompetisi yang diikuti oleh timnas Inggris, Carrick hanya bisa menjadi penghangat bangku cadangan atau tidak dipanggil.

Satu era dengan Gerard dan Lampard tentu Carrick kalah pamor dari mereka. Namun, mungkin dari hati kecil Carrick ia bisa tersenyum sedikit karena dengan Gerard dan Lampard, Inggris tak mampu bermain maksimal dan tak pernah memenangkan piala apapun.

Selain itu juga Carrick masih bisa tersenyum lebar dengan 5 trofi EPL, 1 UCL, 1 FA dan trofi lainnya yang hanya mampu di imbangi oleh Frank lampard dan berbanding terbalik dengan Gerard yang tak pernah sekali pun meraih trofi EPL.

Penerus Roy Keane

Roy Keane memutuskan hengkang dari United pada 2004 membuat SAF harus memutar otak dan mencari sosok penggantinya di lini tengah. Sempat mencoba Alan Smith di posisi itu hingga 1 musim, barulah pada 2006 sosok tersebut akhirnya datang. Ya, Michael Carrick didatangkan untuk mengganti peran Roy Keane. Gaya main dan karakter yang beda membuat banyak pihak yang meragukan pembelian ini.

Tetapi tidak butuh waktu lama Carrick langsung menjadi punggawa penting United. Tiga gelar EPL berturut-turut (2006-2007/2007/2008/2008/2009) dan trofi UCL pada musim 2007-2008. Peran vital Carrick bersama Paul Scholes di lini tengah membuat United mengalami masa keemasan di rentang tahun tersebut.

Gaya yang berbeda dengan Roy Keane yang lugas, keras tidak membuat united mempunyai prestasi yang menurun dengan Michael Carrick sebagai Jendral lapangan tengah united. Terbukti Carrick sukses menyapu gelar-gelar penting buat united seperti EPL, FA, UCL dan gelar lainnya.

Michael Carrick di Antara Gelandang Mewah United

Musim ini sudah merupakan musim ke-11 Carrick berseragam United. Ya betul 11 tahun sudah Carrick bermain untuk Manchester United. Carrick tentu sudah bermain dengan gelandang terbaik dunia yang didatangkan untuk mendampingi atau nantinya menggantikannya.

Pada masa kepelatihan SAF sampai musim 2012-2013 praktis hanya ada nama-nama seperti Legenda united Paul Scholes, Anderson, Cleverly, Fletcher. Pada masa ini Carrick tak tergantikan. Pada masa David Moyes tak banyak hal yang berubah hanya sosok Fellaini yang didatangkan sebagai kekuatan baru di musim itu.

Barulah pada Masa Louis van Gaal terjadi banyak perombakan di Lini tengah United, Ander Herrera, Schweinsteiger dan Schinerdlin didatangkan untuk semakin memperkuat lini tengah United seiring semakin menuanya Michael Carrick, akan tetapi pada periode ini United masih kesulitan di lini tengah sehingga Carrick masih memiliki peranan yang sangat penting dan menghadirkan trofi FA 2016 ke Old Traford.

Pada musim ini Manchester United memiliki skuat lini tengah yang sebenarnya cukup mumpuni sepeninggal LVG. Masih ada Fellaini, Ander Herrera, Schinerdlin yang baru saja dilepas ke Everton dan mantan kapten timnas Jerman, Schweinsteiger yang masih belum jelas keberadaannya di MU tapi masih bertahan. Dan yang paling fenomenal adalah kembalinya si anak yang hilang, Paul Pogba, si pemilik pemain termahal dunia.

Kembalinya pemain asal Prancis yang kerap bergonta-ganti rambut itu diharapkan mampu mengembalikan lini tengah United yang terkenal kuat pada masa kejayaan Roy Keane, Paul Scholes, Nikki Butt dan tentu Michael Carrick sendiri.

Namun, skenario manis yang akan dibangun awal musim ini tidak berjalan dengan mulus. Memulai duet lini tengah dengan menempatkan Fellaini dan Paul Pogba, masih belum membuat Jose Mourinho puas. Sehingga, yang terjadi adalah saling bergantinya Ander Herrera dan Fellaini atau kerap memainkan ketiganya sekaligus.

Prediksi Carrick akan dikesampingkan seperti apa yang terjadi pada Schinerdlin dan Scheweinsteiger ternyata salah. Jose Mourinho harus mengakui bahwa Michael Carrick harus bermain untuk membimbing Pogba dan Herrera di lapangan tengah United.

Carrick masih menjadi pilihan utama berada di antara gelandang-gelandang hebat dan mewah milik United. Sosoknya sebaik pengatur dan pembaca alur bola belum begitu sempurna dilakukan baik oleh Pogba atau Herrera sehingga United masih membutuhkan jasanya hingga musim ini berakhir. Di usianya yang sudah 35 tahun, Carrick masih menjadi punggawa penting bagi United bersama Paul Pogba, Ander Herrera dan Fellaini.