Foto Mohammad Mohiedine Anis, pria berusia 70 tahun, mengisap pipa di kamarnya yang hancur di Aleppo, menjadi viral.

Duduk di tepi tempat tidur dengan menyilangkan kaki sambil mendengar musik di pemutar rekamannya, Abu Omar sekilas terlihat sebagai karikatur introspeksi dalam dunia seni - komposit dari berbagai potret akan subjek yang sedang bernostalgia sambil memegang bagian pipa yang halus, tulis Kelly Grovier.

Perang bukan hanya menyisakan duka nestapa, tapi juga mengalirkan himne yang sunyi di tengah kehancuran puing-puing yang luar biasa.

Manusia hidup dalam polarisasi menang-kalah—dan perang adalah gejolak nafsu paling purba dalam kebudayaan manusia. Manusia mendambakan kemenangan-kemenangan untuk mengalahkan manusia lainnya. Manusia berhimpun dalam komando kekuatan bukan untuk sekadar mengalahkan tapi juga untuk menindas dan menguasai.

Menang dan kalah menjadi dua fakta yang dikotomis. Yang menang menguasai yang kalah, dan yang kalah memberontak yang menang. Terhadap nyaris segala hal manusia terbelah dan dibelah oleh garis dikotomi. Malam adalah lawan siang. Putih lawan hitam. Tinggi lawan rendah. Kuat lawan lemah. Toleran lawan intoleran.

Kata “lawan” itu, hingga manusia memasuki abad milenium ini, menemukan puncak pertentangan: malam melawan siang, putih melawan gelap, tinggi melawan rendah dan seterusnya.

Peradaban digital pun menyokong semua itu. Media sosial menjadi ajang pro melawan kontra. Kaum toleran melawan kaum intoleran. Kelompok anti kekerasan melawan pendukung kekerasan. Masing-masing pihak berdiri di seberang kanan dan kiri. Lawan dan melawan menjadi absolutisme.

Pojok dunia saling terhubung dengan sisi pojok lainnya, namun manusia semakin tercekik cara dan sikap berpikirnya. Kita berpikir dan berperilaku sebagai lawan dan melawan pihak manapun yang berbeda dengan kita. Akal setiap orang terkurung dalam gelembung-gelembung.

Berpikir dan bersikap sebagai gelembung. Berbicara dan berdebat atas nama gelembung. Menang dan kalah dalam gelembung. Berjuang di dunia gelembung.

Manusia mahir menciptakan gelembung untuk dirinya, masuk dan bediam diri di dalamnya, membangun dunia dalam gelembung.

Kalau mereka menang, kemenangan itu adalah kemenangan dalam gelembung. Sebaliknya, kalau mereka kalah, kekalahan itu adalah kekalahan dalam gelembung. Tidak terlintas di benak mereka imajinasi menang dalam kekalahan, kalah dalam kemenangan. Tidak terdetik di kesadaran mereka menang yang dimuati hakekat kekalahan, atau kalah yang dihakekati kemenangan.

Bagi manusia yang berpikir liner, menang ya menang, dengan muatan 100 % berisi kemenangan. Yang kalah pun sama saja. Kalah ya kalah, dengan muatan 100% berisi kekalahan.

Ah, alangkah picik dan sempit hidup seperti itu. Padahal, hidup dan mati mengandung kematian dan kehidupan sekaligus. Bergantung dari sudut pandang sebelah mana kita memandangnya. Bergantung pada akar substansi apa kita menilainya.

Maka, berpikir kalah atau menang adalah fakta absolut, merupakan fenomena gelembung dimana hidup kok selinier dan sesederhana itu.

Hidup memang bermuatan kompetisi, namun hasil akhirnya bukan sekadar menang atau kalah. Dalam setiap kemenangan pasti mengandung kekalahan, dan sebaliknya. Bersama datangnya kemenangan datang pula kekalahan.

Anies yang dinyatakan menang dalam hitungan cepat Pilkada DKI 2017, sejatinya memendam pula kekalahan. Kemenangan itu terkait dengan momentum ruang dan waktu, sekaligus mengusung kekalahan apabila dalam “perang besar” saat menjabat sebagai Gubernur DKI Anies kalah oleh sikap yang koruptif.

Jadi, hidup bukan pertarungan apalagi peperangan untuk mengalahkan pihak lain. Hidup tidak terutama diindikatori oleh kemenangan dan kekalahan eksternal. “Perang besar” yang saya maksud pada konteks “kemenangan” Anies adalah konsistensi dan keteguhan mengalahkan pertarungan internal agar tidak berbuat korup. Menang adalah menaklukkan egoisme benere dhewe.

Kalau kita dinyatakan sebagai pemenang, itu adalah awal dari pertempuran dan peperangan yang sesungguhnya. Perang melawan nafsu destruktif yang laten bersemayam dalam diri kita.

Namun, manusia modern kadang tidak percaya dengan kemenangan semu, karena absolutisme telah membelah dan mencacah keutuhan diri menjadi gelembung-gelembung, dikemas dalam bilik-bilik akademik fakultatif.

Spesialisasi yang diagungkan sebagai lorong profesionalisme untuk menemukan solusi justru menyisakan persoalan substansial yang tidak gampang diurai. Bukan karena para spesialis gagal secara akademik fakultatif, melainkan lorong-lorong profesionalisme itu tidak saling bertegur sapa dalam harmoni keutuhan manusia.

Alih-alih menyelesaikan masalah, devision of labour itu justru menciptakan masalah. Dan salah satu “keberhasilan” pejabat yang dibayar rakyat adalah menciptakan masalah di tengah tumpukan masalah.

Tapi, tenang saja, rakyat Indonesia itu manusia tangguh. Tidak mudah kalah dan dikalahkan oleh tumpukan masalah. Daya hidup dan daya juang bangsa Nusantara ini sudah teruji. Para penindas akan bosan dan capek sendiri. “Hanya seperti ini penindasanmu pada kami!” teriak mereka.

Sebuah ilustrasi ketangguhan mental yang juga kita tangkap pada foto Mohammad Mohiedine Anis di Aleppo. Di tengah kerusakan akibat peperangan pria 70 tahun itu menang di tengah kekalahan ambruknya harkat kemanusiaan.

Terkait menang dalam kekalahan, kaya dalam kemiskinan, gembira dalam penderitaan, rakyat Indonesia adalah juaranya.