Akhir-akhir ini, studying from home membuat penulis punya lebih banyak waktu luang. Bahasa anak sekarangnya gabut. Dengan kegabutan ini, penulis menjadi makin sering menghibur diri. Salah satunya adalah menikmati lagu-lagu lady rockers 80an dan 90an. 

Semua lagu-lagu mereka sedap didengar. Lengkingan sang penyanyi ketika mencapai nada tinggi begitu membangun semangat. Begitu pula dengan irama musik yang menghentak. Akan tetapi, penulis menyukai dua di antara mereka; Nike Ardilla dan Anggun Cipta Sasmi.

Kesukaan/fanhood ini sudah terjadi sejak SMP. Dari pendengaran pertama, kesan yang unik langsung tercipta. Mengapa unik? Suara Beliau-Beliau ini memiliki sebuah kualitas yang jarang dimiliki penyanyi masa kini, yaitu kharisma. Gelombang suara mereka seakan menjadi image projectors dari kepribadian yang kuat.

Selain karismatik, keduanya memiliki karakteristik yang berbeda. Bahkan, bisa dikatakan keduanya adalah polar opposites. Perbedaan ini tercermin dari corak suara, musik, dan berpakaian dari dua legenda ini.

Suara Teh Nike lembut, jernih, dan mendayu. Apalagi jika kita mendengar debut pertamanya yang berjudul Hanya Satu Nama. Lagu yang diproduksi tahun 1988 memang mengusung tema musik cengeng ala 1980an. Apalagi dia direkam di bawah bendera JK Records. Sebuah label yang menjadi simbol poten lagu cengeng. Bahkan, lagu ini baru diluncurkan pada tahun 2013 karena dianggap "tidak cocok" dengan suara Beliau

Akan tetapi, intervensi tangan dingin seorang Deddy Dores membuat berlian ini bersinar. Lagu-lagu seperti Seberkas Sinar, Bintang Kehidupan, sampai Sandiwara Cinta berhasil mengeluarkan power dan dinamika suara seorang Nike Ardilla. Hal ini tak terlepas dari corak lagunya yang dinamis pula.

Menurut penulis, alurnya macam sebuah gelembung emosi. Bagian awal diisi dengan warna yang lembut. Pendengar seperti diajak menggalau bersama liriknya yang sedih. Seiring durasi, emosi dipompa dengan menguatnya suara musik dan Teh Nike. Akhirnya, gelembung itu pecah pada bagian refrain.  That's where the power kicks in. Semua rasa tercurah bagai gelombang pasang menghempas pesisir pantai.

Sementara, suara Mbak Anggun menggelegar bagai guntur. Penuh semangat, menggebu, dan melengking. Dengar saja lagu-lagu seperti Takut, Tua-Tua Keladi, dan Dunia Aku Punya. Apalagi Beliau diasuh dan dipoles oleh Ian Antono dan Teddy Sudjaja, gitaris dan drummer God Bless. Sehingga, muncul karakter seorang penyanyi yang berani dan menonjol. Apalagi dengan lagunya yang mayoritas upbeat.

Jika lagu-lagu Nike adalah gelembung emosi, maka lagu Anggun adalah roller coaster. Sebuah roller coaster yang lebih banyak naik daripada turunnya. Sejak awal, adrenalin kita sudah dipacu oleh intro bertempo cepat. Lantas, suara Anggun masuk bagai guntur yang menyetrum semangat para pendengarnya. Sampai detik terakhir, lagu-lagunya membuat pendengar bernyanyi sembari bergerak mengikuti irama. 

Kecuali untuk lagu Mimpi. Lagu yang meledak di pasaran ini memberikan sensasi roller coaster yang berbeda. Maklum, lagu ini beraliran slow rock. Sesuai refrain-nya, lagu ini adalah lautan emosi yang lembut namun bergelombang. Menurut penulis, kesan lagu ini mirip dengan Total Eclipse of the Heart dari Bonnie Tyler. Kita serasa diombang-ambing oleh ekspresi emosi yang dicurahkan sang penyanyi.

Selanjutnya, perbedaan yang lebih kentara terlihat dari gaya berpakaian mereka. Nike Ardilla berpenampilan seperti usianya. Seorang gadis Sunda tomboy berambut pendek yang selalu tampil eye-catching dan matching. Beliau selalu pantas dengan berbagai mode pakaian dan aksesoris hingga menjadi trendsetter di era 90an. Tak ayal, Beliau dipandang sebagai ikon kecantikan hingga saat ini. 

Lain halnya dengan Anggun. Beliau memilih jalan yang ditempuh lady rockers sebelumnya. Pakaian dan gayanya nyentrik, cadas, dan punya aksesoris khas. Pokoknya rocker banget deh. Dengan rambut keriting dan topi baret yang ikonik, penampilannya serasa mengajak kita, "lets rock together!"

Pada masanya, kedua perempuan hebat ini sering dianggap rival oleh para tabloid. "Dulu tuh kita sering dirival-rivalin... Biasa lah majalah-majalah begitu," terang Anggun. Bahkan, sebagian rivalitas itu masih terbawa hingga kini. Tak percaya? Tengok saja komentar-komentar yang muncul di video klip Anggun/Nike di YouTube. Ada yang mengatakan Nike lebih unggul dari Anggun, begitu juga sebaliknya. Ini membuat penulis heran.

Bagi penulis, keduanya bagai Yin dan Yang. Nike Ardilla mengungkap sisi kesedihan dalam hidup dengan gaya rock yang ciamik. Sementara, Anggun menyajikan sisi yang ceria dan energik dengan lengkingan dan iramanya yang bersemangat. Kita sebagai pendengar sama-sama butuh kedua sisi itu. Ibarat peribahasa kata Betawi, "Ade senang tentu ade sedih, seperti roda pedati..."

Nike Ardilla adalah the tomboy beauty with a soft voice. Anggun adalah the iconic storm with a powerful voice. Keduanya adalah legenda yang patut dibanggakan oleh kita semua. Batu-batu pualam yang menyinari blantika musik Indonesia.