Theodore Noldeke ialah seorang sarjana Barat asal Jerman yang lahir pada akhir abad ke-19 M. Selama hidupnya, ia banyak mendedikasikan dirinya dalam mengkaji keislaman dan al-Qur’an. Ini terbukti dari banyak karya yang telah ia lahirkan di bidang tersebut. Salah satunya ialah Geschichte des Qurans.

Di dalam buku ini, ia banyak memberi catatan atau kritikan terkait kajian kesejarahan al-Qur’an. Salah satunya terkait aspek varian qira’at yang merupakan salah satu bagian penting dalam kajian ulumul qur’an (ilmu-ilmu al-Qur’an).

Dalam hal ini, Noldeke banyak memberikan pandangan yang kiranya perlu direspon karena tidak sesuai dengan tradisi keilmuan yang telah berkembang di kalangan Islam.

Menurut Noldeke, munculnya varian qira’at dalam membaca al-Qur’an disebabkan karena tidak adanya tanda baca seperti titik dan harakat dalam penulisan awal al-Qur’an, sehingga menghadirkan suara (vokal) pembacaan yang berbeda (Noldeke, dkk, 2013: 541-542).

Seperti kata فتبينوا dalam QS. Al-Hujurat: 6. Kata tersebut jika ditulis tanpa tanda titik dan harakat, sangat memungkinkan menimbulkan ragam bacaan. Salah satunya dapat dibaca dengan فتبثتوا, di mana jika dilihat dalam segi makna, kedua kata tersebut juga memiliki makna yang hampir sama (sinonim).

Di samping itu, Noldeke juga berpendapat bahwa ketidakakuratan penulisan dalam mushaf Usmani juga menimbulkan perbedaan bacaan. Sebagai contoh, kata masājid yang seharusnya ditulis dengan alif (مساجد) justru dalam mushaf usmani ditulis dengan tanpa menyertakan alif (مسجد).

Hal tersebut tentu berpotensi menimbulkan perbedaan bacaan. Sebab, kata مسجد normalnya dibaca masjid, bukan masājid (Noldeke, dkk, 2013: 541-542).

Pandangan Noldeke di atas, di satu sisi mungkin dapat dibenarkan dan diterima oleh akal, tetapi di sisi lain ada hal yang mesti dipertanggungjawabkan karena tidak sesuai dengan tradisi keilmuan Islam, dan tentunya akan berdampak pada kesucian dan kemurnian al-Qur’an.

Maka, dalam merespon pandangan Noldeke ini, kita perlu melihat kembali bagaimana konsep qira’at al-Qur’an yang telah dirumuskan oleh para ulama dalam tradisi Islam.

Simpelnya, kita ambil saja salah satu pendapat ulama al-Qur’an, yaitu Muhammad Salim Muhaysin yang mengatakan bahwa qira’at merupakan suatu cara pengucapan lafaz-lafaz al-Qur’an dengan kata-kata yang harus diucapkan (qira’ah), metode penyampaiannya, baik yang disepakati maupun yang diikhtilafkan oleh para ahli serta disandarkan kepada cara yang diperoleh melalui periwayatannya (Muhaysin, tt: 5).

Sejarah munculnya varian qira’at sendiri sebenarnya telah terjadi di zaman Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Pasalnya, ketika Rasulullah mendapat wahyu dari Allah, dan langsung mengajarkannya kepada para sahabat. Rasulullah menggunakan huruf yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan para sahabat, agar mereka tidak kesulitan dalam membaca al-Qur’an.

Akibatnya, para sahabat berbeda-beda mendapati bacaan dari Rasulullah, sehingga membacanya pun dengan huruf yang berbeda-beda pula sesuai dengan apa yang mereka dapatkan dari Rasulullah.

Terdapat satu kejadian yang cukup masyhur terkait perbedaan qira’at ini. Sebagaimana terekam dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Ketika Umar bin Khattab mendengar Hisyam bin Hakim membaca surah al-Furqan dengan bacaan yang berbeda dari apa yang beliau dapat dari Rasulullah.

Seketika itu mereka langsung berdebat dan saling menganggap benar bacaan mereka masing-masing. Maka untuk memastikannya, mereka berdua mengadukan hal ini kepada Rasulullah. Singkat cerita, Rasulullah membenarkan kedua bacaan mereka, dan mengatakan bahwa al-Qur’an diturunkan dengan tujuh huruf (sab’ah ahruf), maka kalian berhak membaca al-Qur’an dengan bacaan yang mudah bagi kalian (H.R Bukhari).

Terlepas dari perbedaan makna sab’ah ahruf (tujuh huruf) di kalangan para ulama, hadis di atas cukup menjadi legitimasi bahwa varian qira’at al-Qur’an telah terjadi di masa Rasulullah SAW. Dan ini dapat menjadi respon awal terhadap pandangan Noldeke di atas, di mana ia mengatakan bahwa perbedaan qira’at muncul karena ketidakakuratan penulisan mushaf usmani.

 Dan kita tahu mushaf usmani, -sesuai namanya-, baru ditulis pada masa pemerintahan khalifah Usman bin Affan, beberapa tahun setelah wafatnya Rasulullah. Sehingga jelas, pandangan Noldeke terbantahkan dengan penjelasan ini.

Di samping itu, berdasarkan penjelasan di atas, sebenarnya ada unsur penting yang mesti diketahui dan disadari terkait varian qira’at al-Qur’an dalam tradisi Islam, yaitu unsur periwayatan.

Dalam sejarahnya, tercatat bahwa al-Qur’an dan berbagai qira’atnya telah dihafal oleh para sahabat sebelum al-Qur’an ditulis dan dibukukan dalam mushaf. Ini menunjukkan bahwa transmisi pengajaran al-Qur’an pada masa awal ialah melalui lisan, bukan melalui tulisan.

Faktanya, qira’at lebih dahulu ada daripada tulisan, tentu saja tulisan harus mengacu kepada qira’at yang ada. Bukan malah qira’at yang mengacu kepada tulisan.

Lebih jauh, jika pandangan Noldeke menyatakan bahwa penyebab munculnya varian qira’at al-Qur’an tersebut disebabkan karena tidak adanya tanda titik dan harakat dalam mushaf, sehingga dengan itu menyebabkan para imam qira’at bebas memilih versi qira’at menurut seleranya masing-masing tanpa berdasarkan riwayat yang sampai ke Rasulullah, maka ini mengindikasikan bahwa al-Qur’an tidak seluruhnya merupakan kalam Allah.

Jadi, ada sebagian al-Qur’an yang merupakan kalam manusia. Tentu saja ini akan mencabik-cabik keyakinan umat Islam yang meyakini kemurnian al-Qur’an berasal dari Allah seutuhnya.

Terakhir, walaupun pandangan Noldeke ini tidak mewakili pandangan para sarjana barat pada umumnya, setidaknya kita mendapat gambaran betapa lihai dan kritisnya kajian mereka terkait keislaman dan al-Qur’an. Sehingga hal ini menuntut kita untuk lebih hati-hati dalam menyikapi dan merespon pandangan-pandangan mereka.

Karena, di satu sisi mereka memang menampilkan metode yang objektif dan disertai dengan analisis yang tajam dan rinci. Namun, di sisi lain, tidak bisa dipungkiri dalam beberapa hal mereka juga menyelipkan ideologi yang mereka yakini yang bertolak belakang dengan tradisi keilmuan Islam.