Semua terekam tak pernah mati, semua terekam tak pernah mati. ~ The Upstairs

Lirik lagu ini sering terdengar di pertunjukan pentas seni Jakarta di awal tahun 2000-an. Jimi Multhazam, selaku vokalis The Upstairs, dengan lugas menyatakan bahwa semua hal tidak akan pernah mati dan tetap terekam di dalam hidup manusia.

Perkembangan peradaban hidup manusia direkam melalui tulisan. Manusia merekam apa saja yang mereka rasakan dan mereka lakukan di dalam kehidupan mereka dengan menulis.

Kita bisa melihat sejarah peradaban Mesir kuno melalui tulisan-tulisan yang mereka tinggalkan, hieroglif namanya. 

Melalui tulisan-tulisan yang tersimpan di dalam hieroglif, para peneliti mampu menemukan peradaban yang terjadi di Mesir pada waktu itu, seperti sistem pemerintahan, sistem keilmuan, bahkan sampai mitologi yang menjadi kepercayaan masyarakat Mesir kuno.

Indonesia juga tidak kalah di dalam hal merekam waktu melalui tulisan. Kita bisa melihat sejarah peradaban bangsa kita melalui tulisan. Prasasti salah satunya. 

Melalui prasasti, kita bisa mengetahui sejarah-sejarah kerajaan yang ada di nusantara, bahkan kita juga sampai mengetahui isi dari Sumpah Palapa yang diucapkan oleh Patih Gajah Mada yang merupakan Panglima Perang dari Kerajaan Majapahit.

Melalui tulisan, kita dapat merasakan apa yang terjadi pada masa itu. Kita bisa merasakan apa yang menjadi sudut pandang dari sang penulis.

Tidak hanya menjadi rekaman sejarah yang hanya diputar untuk mengetahui peristiwa apa yang terjadi pada masa itu, tulisan juga menjadi referensi dan tolok ukur bahkan mampu menjadi ideologi dari sebuah peradaban.

Stephen King pernah menerangkan, “Menulis adalah mencipta. Dalam suatu penciptaan, seseorang mengarahkan tidak hanya semua pengetahuan, daya, dan kemampuannya saja, tetapi ia sertakan seluruh jiwa dan napas hidupnya.”

Teks Proklamasi merupakan sebuah simbol kebebasan yang dituliskan berdasarkan pemikiran para tokoh pendiri bangsa Indonesia. Mereka mendedikasikan hidup untuk menuliskan ideologi bangsa Indonesia melalui teks proklamasi, teks Pancasila, dan teks Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Catatan-catatan penting tentang perjalanan bangsa Indonesia dapat terlihat dari tulisan para tokoh bangsa, seperti Ki Hajar Dewantara dengan metode pembelajarannya, Ir. Soekarno dengan tulisan-tulisan pidatonya yang lantang, Mohammad Hatta dengan tulisan-tulisan filsafatnya.

Catatan-catatan itulah yang menjadi rekaman dari sejarah perjalanan bangsa Indonesia yang usianya sudah menginjak angka 73 tahun.

Rekaman-rekaman ini yang harusnya membuat generasi muda Indonesia untuk makin berani di dalam menulis. Karena kita tidak akan pernah tahu jika suatu saat tulisan kita akan menjadi sebuah rekaman yang sangat berharga dan menjadi saksi sejarah pada masa kita menulisnya.

Seperti Soe Hok Gie, dia tidak pernah menyangka tulisan-tulisannya di dalam buku hariannya menjadi sebuah rekaman yang sangat luar biasa tentang masa-masa pemerintahan Orde Lama.

Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan. Kata-kata yang dituliskan oleh Soe Hok Gie ini akhirnya menjadi kata-kata yang memberi kekuatan kepada pergerakan mahasiswa, bahkan sampai saat ini.

Indonesia memiliki banyak penulis yang memberikan hidupnya untuk merekam apa yang terjadi di dalam hidup mereka. Mereka merekam keresahan terhadap sistem pemerintahan atau apa saja yang mereka lihat di dalam hidup.

Tulisan-tulisan KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) juga merekam keresahan dirinya terhadap sistem pemerintahan pada masa itu. Gus Mus dengan lugas merekamnya melalui puisi-puisinya.

Lihat saja syair dari puisi: Kau ini bagaimana atau aku harus bagaimana. Kata-kata Gus Mus menggambarkan kebingungan untuk mengambil sikap pada masa itu.

Tidak hanya Gus Mus, Indonesia memiliki banyak sekali perekam waktu melalui tulisan. Ada yang merekam menggunakan kalimat-kalimat kiasan, adapula yang dengan lantang merekam menggunakan kalimat-kalimat yang garang.

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang, suara dibungkam, kritik dilarang tanpa alasan, dituduh subversif, dan mengganggu keamanan, maka hanya ada satu kata: LAWAN. ~ Wiji Tukul.

Itu adalah salah satu kalimat yang ditulis oleh perekam waktu yang sampai saat ini dinyatakan hilang oleh pemerintah. Wiji sudah pasti mengetahui risiko dari rekaman tulisannya, tetapi dia paham, bangsa ini membutuhkan rekaman tulisannya, dan dia membayar rekaman tulisannya dengan harga yang sangat mahal.

Para perekam waktu ini menjadikan hidup mereka sebagai tulisan yang bisa dibaca oleh siapa saja. Mereka adalah orang-orang hebat yang paham arti dari perjalanan sejarah.

Dan para perekam waktu itu harus bangga bahwa saat ini tongkat estafet mereka di dalam merekam sejarah melalui tulisan tetap terjaga konsistensinya. Karena generasi ini akan tetap menulis dan merekam waktu dengan tulisan-tulisan yang relevan pada saat ini.

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian. ~ Pramoedya Ananta Toer