Orang-orang yang telah berjelajah mengitari kepulauan Indonesia sudah pasti memiliki perasaan kuat di dalam lubuk hati mereka, Indonesia bukan hanya Jakarta, Indonesia tak cuma Pulau Jawa. Ada sebuah pulau yang sering aku kunjungi bersama teman-teman komunitas berbagi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Ialah Pulau Kera.

Tak ada satupun infrastruktur pemerintah di pulau itu. Tak ada gedung sekolah, tak ada sarana kesehatan, tak ada fasilitas mandi-cuci-kakus (MCK) yang layak. Mesjid Baitul Arqom menjadi satu-satunya sarana publik di pulau yang dikelilingi pantai berpasir putih yang amat indah itu.

Setiap pekan selalu saja ada wisatawan berkunjung, sekadar berlibur dan mengabadikan momen berfoto bersama keluarga ataupun teman-teman. Setelah itu semuanya berlalu begitu saja. Seperti rutinitas.

Padahal, di Pulau Kera terdapat sekitar 80 kepala keluarga bersama anak-anak mereka. Benar bahwa mereka tak selalu berpikir soal masa depan. Mereka hidup untuk hari ini. Kesederhanaan, senyum dan tawa lebih dari cukup bagi mereka. Tapi mereka anak-anak Indonesia. Mereka harus punya masa depan.

Tak apalah ayah-ayah mereka buta huruf. Mereka nelayan, yang mereka pikirkan bagaimana istri dan anak-anaknya bisa hidup bahagia (tak lapar) hari ini dan satu hari berikutnya. Tapi jangan sampai anak-anak mereka juga buta huruf. Kita harus menjadi pejuang kecerdasan untuk mereka, untuk masa depan mereka, untuk masa depan bangsa.

Pulau Kera hanya sedikit representasi. Ada banyak pulau lainnya yang sangat mungkin situasinya serupa, atau tak lebih baik, hanya saja tak banyak dinarasikan. Narasi-narasi tentang mereka yang tertinggal perlu banyak disuarakan. Kalaupun pemerintah tak mendengar karena banyak persoalan genting lain yang harus dituntaskan, akan ada relawan-relawan muda yang terketuk hatinya untuk bermain, belajar, dan berbagi bersama anak-anak Indonesia di pulau-pulau itu.

Di komunitasku, Aksi untuk NTT, mereka yang menjadi relawan berasal dari lintas profesi. Ada yang mahasiswa, dokter, wartawan, bidan, PNS, hingga polisi. Sebagian besar mereka adalah anak muda yang secara demografis merupakan generasi milenial, yang lahir antara awal 1980-an hingga awal 2000-an. Sekalipun ada satu-dua yang sudah paruh baya.

Gerakan anak muda di NTT menggambarkan ciri generasi milenial yang suka berkolaborasi dan menjadi relawan. Sebuah riset bertema What Millennials Want from Work (2016) yang dilakukan oleh Jennifer J Deal dan Alec Levenson menyebutkan bahwa 92% milenial berhasrat untuk membuat kehidupan dunia lebih baik.

Kiprah sosial generasi ini tak harus selalu menunggu kebijakan pemerintah ataupun sokongan dana korporasi. Mereka bergerak dengan antusiasme dan passion; percaya diri dapat melakukan sesuatu yang lebih baik untuk masyarakat. Gerakan mereka terkadang tak sistematis, sporadis. Namun itulah yang membuat mereka punya arti, merasa bermakna.

Perlu lebih banyak analisis sosial-budaya-ekonomi-politik bagi pemerintah maupun korporasi untuk mengambil langkah, dalam mengatasi persoalan seperti yang terjadi di Pulau Kera. Namun bagi anak muda, selama ada rasa terpanggil, analisis bisa dilakukan belakangan. Yang penting lakukan dulu apa yang bisa dilakukan.

David Burstein, penulis Fast Future: How the Millennial Generation is Shaping Our World (Beacon Press, 2014) mencirikan generasi ini dengan kekhasan idealisme pragmatik (pragmatic idealism). Idealisme menandai visi masa depan yang berakar dari nilai-nilai prinsip moral. Seorang idealis bersedia melakukan apa saja untuk mempertahankan dan memperjuangkan apa yang ia yakini benar.

Sementara pragmatisme, di sisi lain menurut David, merupakan penolakan terhadap idealisme. Jika sang idealis berlandaskan pada prinsip, maka sang pragmatis justru melakukan apa saja selama itu praktis dan berguna, terlepas dari nilai-nilai moral. Untuk waktu yang lama, idealisme dan pragmatisme tetap menjadi terma yang bertolak belakang.

Namun saat ini, kata David, generasi milenial telah menunjukkan corak yang menandai paduan idealisme dan pragmatisme. Idealisme pragmatik dicirikan impian milenial menciptakan perubahan untuk dunia yang lebih baik, dengan medium-medium yang amat praktis.

Di Indonesia, idealisme pragmatik itu dapat dilihat pada kiprah para milenial seperti Alfatih Timur dengan KitaBisa.com, Iman Usman dan Adamas Belva Devara dengan RuangGuru.com, Nadiem Makarim dengan Go-Jek, Alamanda Shantika dengan Binar Academy, Mesty Ariotedjo dengan WeCare.id, dan masih banyak lagi.

Ambil contoh KitaBisa dan RuangGuru. Baik Alfatih Timur maupun Iman Usman dan Belva Devara bukanlah pebisnis murni yang hitung-hitungannya selalu pragmatis. Tapi mereka juga tak bisa dibilang seratus persen idealis layaknya para pejuang muda revolusi lantaran mereka mendapat banyak keuntungan finansial di balik gerakan mereka itu. Karena selain gerakan, KitaBisa dan RuangGuru itu juga merupakan pekerjaan dan karir mereka.

Inilah idealisme pragmatik. Melalui dua startup itu, mereka menciptakan kewirausahaan sosial. Mereka punya idealisme karena yang mereka lakukan berangkat dari passion untuk membantu orang-orang di sekitar mereka. Namun mereka sekaligus pragmatis karena selain apa yang dilakukan itu sangat praktikal, hal itu juga mereka lakukan untuk pemenuhan kebutuhan material.

Mereka telah menjadi generasi kekinian yang telah membawa perubahan dalam berbagai aspek kehidupan publik. Kian banyak generasi milenial yang peduli, maka kian optimis pula bangsa ini dalam menatap masa depan. Terlebih, pada 2020-2030 kita akan mengalami bonus demografi, di mana jumlah generasi milenial bakal makin meningkat dan menentukan.

Cerita tentang mereka yang tertinggal dan mereka yang kekinian tentu menjadi gambaran yang kontras. Namun jika mereka yang kekinian punya kesadaran dan keterpanggilan untuk berbagi dengan mereka yang tertinggal, kerja-kerja kemanusiaan akan lebih mudah dilakukan. Karena jiwa muda punya karakter yang lebih bergelora, cepat bergerak, dan tanpa pamrih.

Narasi yang saya tulis di artikel ini hanyalah panggilan kecil untuk generasi saya, generasi milenial, agar terus percaya diri dan tiada henti menghidupkan dan menggerakkan rasa peduli dalam aksi-aksi nyata. Dan untuk para korporat dan pengambil kebijakan, bantulah jiwa-jiwa muda itu agar endurance mereka terjaga dalam mewujudkan mimpi anak-anak Indonesia.