Hampir setiap malam orang-orang kampung diteror kucing dan anjing yang berkeliaran. Ada yang lehernya hampir putus. Ada yang kepala dan tubuhnya sudah terpisah. Ada yang isi perutnya berhamburan keluar. Ada juga yang bola matanya hilang.

Seminggu sejak kematian Pemuda mereka mulai keluar dari sarangnya. Pertama adalah Rusdi yang bertemu dengan anjing yang lehernya hampir putus. Waktu itu ia mabuk, jalan sempoyongan dari ruko tempatnya mabuk menuju rumah sekitar pukul 4 pagi.

Di belokan menuju muka gang kampungnya, kakinya tak sengaja menendang anjing. Dalam keadaan setengah sadar ia tak memedulikannya. Kakinya terus melangkah, namun tak sadar bahwa anjing yang ia tendang adalah salah satu jelmaan roh-roh anjing dan kucing yang bersarang di kebun belakang rumah Kusna.

Kematiannya hadir dalam kesendirian. Orang-orang tak sudi untuk ikut dalam prosesi pemakaman. Hanya seorang tukang gali kubur dan imam masjid yang datang di kebun. Tempat yang sama saat Pemuda menguburkan para ibu susunya di dalam tanah.

Ia dikuburkan seliang dengan seekor kucing. Kucing yang mengantarnya menemui para ibu susu yang terlebih dahulu pergi.

Anak-anak tidak ada yang berani keluar rumah di malam hari. Tanpa disuruh orang tua, mereka dengan sendirinya meringkuk di kamar selepas maghrib. Desas-desus yang mereka dengar saat di sekolah cukup membuat bulu kuduknya berdiri. Obrolan para orang tua dengan tetangga cukup menyiutkan nyali mereka. Juga jeritan beberapa tetangga saat pertama kali bertemu dengan hantu-hantu itu menambah kuat alasan mereka untuk diam dirumah.

Roh jahat yang menggiring mereka untuk muncul. Kekuatan yang penuh amarah dan dendam menyelimuti setiap hantu yang berkeliaran di kampung, kata seorang sesepuh. Menurutnya, ini adalah rangkaian kesialan yang akan dialami kampung dan seluruh warga, sejak Kusna pertama datang dengan seorang bayi dan seekor kucing.

Tak akan kubiarkan mereka hidup dengan tenang di muka bumi. Setidaknya sebelum mati, mereka harus mengalami penderitaan yang sama seperti yang aku alami.

Teror yang mereka alami tidak hanya di jalanan kampung. Mimpi mereka kini di penuhi bayangan hantu-hantu tersebut. Tidak ada lagi mimpi sedang bersetubuh dengan seorang wanita dengan buah dada yang membenamkan wajah mereka. Tidak ada lagi mimpi menjadi orang kaya dengan privilesenya. Kini yang ada adalah darah yang menetes, bola mata yang keluar, dan kepala yang terpisah dari tubuhnya.

Selang setahun hantu-hantu itu semakin banyak berkeliaran. Kini tidak hanya di malam hari. Siang hari saat orang-orang banyak melakukan aktifitas pun mereka hadir. Semua orang di kampung pun kini bisa melihat hantu-hantu itu. Tidak hanya mereka-mereka yang ikut andil dalam kematian Pemuda.

Dulu aku lahir dengan disambut oleh kematian. Tepat saat aku dilahirkan ibuku mati dengan darah yang masih mengalir dari selangkangannya. Bapakku menyusul tepat seminggu setelahnya. Sejak itu aku tinggal dan besar bersama nenekku. Itu aku jalani hingga umurku 7 tahun sebelum akhirnya aku harus hidup di jalanan sebab nenekku lebih memilih menyusul anak dan menantunya di banding mengurus hidupku.

Bau amis darah menyeruak di mana-mana. Awalnya mereka tak tahan. Saat makan mereka berasa sedang makan daging dan minum darah. Saat mencuci mereka merasa darah yang mengalir. Pun saat mabuk, yang mereka tenggak adalah darah.

Sesepuh kampung mengatakan bahwa ia harus melakukan ritual agar hantu-hantu itu segera menghilang. Maka di malam hari ia pun bergegas menuju kebun di belakang rumah Kusna yang kini kosong. Para penghuni kebun berkumpul, mereka melihat apa yang akan dilakukan sesepuh di rumahnya.

Ia menggali tanah sedalam dua meter dengan panjang dan lebar masing-masing 2,5 kali 1,5 meter. Dengan sedikit cerukan di dasarnya. Ia berbaring di dalam cerukan lantas memasangkan papan kayu untuk menutup cerukan itu. Para penghuni kebun yang sejak awal menunggu akhirnya mendekat. Mereka gotong royong memasukkan tanah kedalam liang itu dengan kakinya.

Kini ia melayang sedangkan tubuhnya masih terbujur kaku di cerukan liang. Pikirannya bebas, jiwanya sudah keluar dari dalam penjara. Mimpi-mimpi yang penuh darah sudah hilang. Kini ia bisa tidur dengan bebas tanpa ada yang mengganggu.

Sejak itu kesendirian menyelimutiku. Orang-orang di sekitarku tidak mengangap diriku ada. Mereka hanya mengurus dirinya sendiri. Omong kosong jika Tuhan bekata bahwa hidup kita di dunia pasti akan baik. Sebab ada orang lain sesama manusia yang memiliki kewajiban terhadap sesamanya. Cuih. Mereka sibuk dengan dunianya. Dan aku sudah membuktikannya selama hidupku.

Orang-orang mulai membicarakan hilangnya sesepuh kampung. Saat bermain anak-anak akan mengatakan bahwa sesepuh pergi untuk mengusir hantu-hantu itu. Seorang ibu berkata sesepuh mati dan jasadnya di bawa roh jahat yang menggiring hantu-hantu itu kemari seperti yang dikatakannya dulu. Sebagian lainnya tak ambil pusing dengan hilangnya sesepuh. Yang pasti mereka lega sekarang, sebab hantu-hantu itu menghilang bersama bau amis darahnya.

Rupanya hilangnya hantu-hantu tersebut tidak dirasakan oleh mereka yang menjadi kelompok awal yang mengalami teror. Dalam tidurnya mimpi itu selalu muncul yang menyebabkan mereka sulit tidur. Mereka terjaga sepanjang malam, khawatir hantu itu akan datang membunuhnya.

Salah satu dari mereka tak lama mati. Dengan mayat yang melayang di atas tempat tidurnya. Itu setelah orang tuanya mendobrak pintu kamar setelah dua hari ia tak keluar kamar.

Yang lainnya masih dalam keadaan yang sama. Sebelum akhirnya mereka bertemu dengan temannya yang sudah mati melayang tersebut dan mengatakan bahwa dirinya sudah bebas. Bahkan ia bercerita bahwa ia sudah bertemu dengan sesepuh. Dan saat ini sedang bercengkerama bersamanya dengan secangkir kopi dan bakwan yang baru diangkat dari penggorengan.

Satu persatu dari mereka ikut pergi. Mencoba mencari kebebasan yang dikatakan temannya dengan caranya masing-masing. Keluar dari kampung yang bau amis darah akibat penghuni-penghuni baru yang berkeliaran.

Satu orang pergi dengan meninggalkan gelas berisi carian pekat di meja. Seorang lain pergi dengan meninggalkan bekas benturan hebat di motornya. Seorang lagi pergi dengan bola mata yang jatuh di lantai kamarnya. Yang terakhir, Rusdi, pergi dengan mulut yang penuh caroline reaper di dalamnya.

Satu-satunya kebahagiaan yang aku peroleh selama di dunia adalah saat anakku datang bersama ibu susunya. Mereka dianugerahkan Tuhan untukku. Seperti Maryam yang melahirkan tanpa di tanam benih seorang lelaki. Anakku lahir tanpa keluar dari selangkangan wanita. Ia lahir dan berbaring di keranjang yang terbuat dari anyaman rotan. Di sebelah mata air tempat biasa aku menjadi tukang sapu di sana.

Kini anak-anak tak takut untuk keluar di malam hari. Masjid kembali ramai oleh keributan mereka saat mengaji selepas maghrib sampai isya. Mereka bercerita bahwa hantu itu sudah bosan berada di Jayarunda. Tidak ada harta karun disini, katanya. Hantu-hantu dan bau amis darah itu kini benar-benar hilang.

Para orang tua kini tak khawatir membiarkan anak mereka bermain di jalan-jalan kampung. Perasaan takut anaknya hilang dan mati dibawa hantu-hantu sirna. Orang-orang kini mulai berani untuk memelihara hewan peliharaan kembali. Kucing dan anjing terlihat bermain bersama majikannya.

Setelah kehadiran mereka hari-hariku terasa lebih berwarna. Mereka menjadi semangat bagiku untuk melanjutkan hidup. Hanya mereka yang mengerti dan menganggap kehadiranku di dunia. Meskipun suatu saat aku mati, aku bersumpah akan menjaga anakku agar hidup bahagia di dunia. Dan tak akan diam saat anakku mati dengan balok kayu dan kepalan tangan yang bergantian mendarat di tubuhnya.

Para penghuni baru di Jayarunda kini hilang kembali. Seperti Jailangkung yang datang tak diundang dan pergi tak diantar.