Pernahkah terpikir ada banyak petarung di balik produk kertas yang mungkin kamu gunakan saat ini? Bukan petarung biasa, namun mereka yang sadar betul telapak kakinya sering menjejak persis di antara dunia fana dan alam baka.

Bukan tanpa alasan, tentu. Semua demi sebuah tanggung jawab besar: menjaga keselamatan hutan dan lahan, aset perusahaan senilai triliunan rupiah, serta ribuan tenaga kerja sekaligus.

Tanggung jawab macam itulah yang sekarang dipikul Fire Operation Management sebuah perusahaan produsen kertas, Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas.

Berkunjung ke perusahaan di kawasan Ogan Komering Ilir (OKI) untuk pertama kali di akhir Januari 2019 lalu, telah membuka mata awam saya akan banyak hal. Seperti Pevensie bersaudara yang menemukan Narnia dari balik lemari, begitulah kesan pertama saya ketika masuk kawasan ini.

Setelah menempuh dua jam perjalanan naik boat, yang terbayang sebelumnya adalah sebuah desa terpencil penuh rawa. Lengkap dengan kehidupan serba-terbatas para penduduknya.

Nyatanya, yang saya temui justru sebaliknya. Gedung-gedung pabrik yang tinggi menjulang, rapinya kompleks mess karyawan, serta mewahnya fasilitas yang tersedia. Rimbun pepohonan akasia yang tampak di kejauhan membuatnya terlihat seperti kota tersembunyi di tengah rimba. Menakjubkan!

Masih sulit dipercaya, kompleks bangunan se-impresif itu sungguh ada di OKI. Kabupaten yang 76 km jauhnya dari Palembang dan hanya bisa ditempuh lewat jalur perairan. Biasanya bangunan-bangunan megah seperti itu cuma bisa saya temui di kota-kota metropolitan atau kawasan industri.

Kompleks Firebase milik Fire Operation Management sendiri letaknya terpisah dari kompleks bangunan pabrik utama, namun tidak terlalu jauh. Sekitar 5 menit saja naik mobil. Saya tidak sabar menemui entah apa atau siapa yang ada di sana.

Begitu melewati portal gerbang yang lengkap dengan petugas penjaganya itu, perasaan bak berada di kawasan militer langsung menyergap. Lapangan luas dan bangunan-bangunan yang ada, entah bagaimana terlihat mirip sekali dengan markas dan gudang senjata. Kesan itu kian nyata, ketika tampak satu unit helikopter oranye terparkir gagah di landasan.

Di kawasan inilah saya berkenalan dengan Suryanto, seorang anggota Tim Reaksi Cepat (TRC). TRC adalah regu penanggulangan kebakaran khusus. Saat itu, kami bersiap menyaksikan satu regu TRC yang siap berangkat patroli menggunakan helikopter.

Regu TRC sesaat sebelum berangkat patroli rutin (dokumentasi pribadi)

"Satu regu berjumlah tujuh orang. Di sini ada tiga regu yang bertugas bergiliran," terang Suryanto.

Selain TRC, terdapat pula ratusan personel Regu Pemadam Kebakaran (RPK) yang tersebar di 20 distrik. Mereka semua adalah ujung tombak jika terjadi musibah kebakaran. Mereka inilah yang akan terjun langsung ke lokasi, berjuang memadamkan api hingga memastikan tak ada lagi asap tersisa.

“Memadamkan api bukan sekadar menyiram air lewat selang. Beda jenis api, beda lokasi, beda arah angin, beda sumber air, maka berbeda pula perlakuannya. Salah perhitungan, nyawa jadi taruhan,” terang Suryanto.

Ada kalanya, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) demikian hebat hingga butuh waktu berminggu-minggu untuk padam. Juga faktor lokasi yang seringkali sulit dijangkau dan jauh dari pemukiman. Ancaman maut bukan cuma berasal dari ganasnya kobaran api atau suhu ekstrem, namun juga dari diri sendiri.

“Lapar dan kelelahan terutama. Makanya kemampuan survival itu sangat penting. Kalau ancaman dari binatang justru jarang ditemui, karena mereka juga pasti menghindari suhu panas. Kalau ada yang mendekat seperti ular misalnya, ya bagus, itu berarti nutrisi tambahan untuk kami,” kata Suryanto sambil tertawa.

Anehnya, ancaman kematian terkadang justru datang juga dari sesama manusia. Diketahui, tanggung jawab Fire Operation Management APP bukan hanya mencakup wilayah perusahaan saja, namun termasuk juga radius 5 km di sekitarnya. Karhutla di area yang bukan milik perusahaan inilah yang kerap menimbulkan konflik.

Menurut Suryanto, tidak semua warga setempat atau penduduk asli menyambut baik keberadaan tim pemadam kebakaran. Umumnya karena faktor budaya lokal setempat yang masih menggunakan sistem sonor (membakar lahan) untuk pengolahan lahan pertanian.

“Ada penduduk tertentu yang memang sengaja membakarnya, sehingga tidak senang dengan keberadaan kami. Pengalaman saya, tim kami bukan cuma dibentak atau diusir pakai omongan, bahkan pernah ada yang sampai bawa senjata tajam,” tuturnya.

Hasbiyansya, seorang trainer yang sudah berpengalaman puluhan tahun menambahkan, ancaman maut bagi mereka bukan hal asing. Sudah menjadi "makanan" tiap kali bertugas. Mau tidak mau harus dihadapi karena sudah risiko pekerjaan.

Meski begitu, tetap ada hal-hal berat yang dia rasakan, terutama jika menyangkut keluarga di rumah. Pikiran tentang orang-orang terkasih selalu membuatnya emosional.

“Saat menghadapi api, itulah saat-saat di mana Tuhan terasa sangat dekat. Kami tidak pernah tahu kapan bisa kembali. Sering sekali yang terbayang justru wajah anak istri di rumah. Dengan perasaan campur aduk, kami tetap harus fokus dengan tugas di depan mata. Mental harus kuat,” kata Hasbiyansya.

Hasbiyansya berharap, edukasi dan sosialisasi untuk masyarakat terkait bahaya membakar lahan, terutama di area lahan gambut harus terus dilakukan. Ratusan miliar rupiah yang digelontorkan perusahaan untuk Fire Operation Management demi mencegah dan menanggulangi kebakaran akan sia-sia jika perilaku manusia masih tak berubah.

Bagaimanapun, mencegah tentu akan lebih baik ketimbang terlanjur menimbulkan bencana besar, bukan?

Manfaatkan Kemajuan Teknologi

Menyiagakan personel regu dengan SDM terbaik dan terlatih seolah belum cukup. Fire Operation Management APP Sinar Mas rupanya juga memanfaatkan teknologi untuk mencegah dan menangani karhutla di wilayah kerjanya. Beruntung, saya berkesempatan mengintip Situation Room di markas yang mereka miliki.

Nicodemus Sihombing menjelaskan tampilan dalam monitor (dokumentasi pribadi)

Ruangan yang mirip ruang kontrol digital itu punya 9 monitor yang menampilkan bermacam hal secara real time. Ada peta titik hotspot, kondisi cuaca termasuk tampilan suhu dan kelembapan udara, hingga pergerakan patroli lewat udara maupun darat.

Fire Preparation Head Firebase, Nicodemus Sihombing mengatakan, keberadaan teknologi tersebut membantu kinerja timnya menganalisis situasi di lapangan.

“Terutama di area-area yang sulit dijangkau. Kenaikan suhu dan kemunculan titik hotspot akan terlihat di layar. Nanti tinggal diverifikasi dengan tim kami yang ada di lapangan," jelas Nico.

Selain itu, Fire Operation Management juga dilengkapi dengan armada memadai, termasuk tersedianya 2 unit helikopter dan 4 unit airboat atau kendaraan amfibi. Lengkapnya armada dan peralatan yang mereka miliki, serta didukung kemampuan tim yang sangat baik, tak jarang membuat mereka diperbantukan ke daerah lain.

Airboat milik Fire Operation Management (dokumentasi pribadi)

“Kami bertugas tak hanya di lingkup area milik perusahaan sendiri. Sejak dibentuk tahun 2016 silam, bukan sekali dua kali diterjunkan membantu penanganan karhutla dan bencana lain di wilayah lain di Sumsel ini. Terakhir, malah sempat turun juga ke Pandeglang, Banten, saat terjadi tsunami beberapa waktu lalu," kata Nico.

Belum puas rasanya mendengar kisah Suryono, Hasbiansya, Nico, dan semua yang ada di Fire Operation Management. Apa daya, semua yang ada di bawah langit pada akhirnya memang harus kalah dengan waktu. Kunjungan singkat itu harus berakhir tak lama setelah adzan asar berkumandang.

Hanya tersisa satu pertanyaan di batin saya ketika boat bergerak menjauhi dermaga sore itu: Jika demikian besar pengorbanan Suryono dan rekan-rekannya saat bertugas, jika demikian besar investasi perusahaan untuk Fire Operation Management, mungkinkah mereka tega membakar "rumah" sendiri seperti yang sering dikabarkan orang-orang di luar sana?