Tak terhitung berapa kali kami dibuat cemas sekaligus terkesima ketika kereta lori yang kami naiki tertatih-tatih meniti rel berkarat yang telah berumur lebih dari seabad di Desa Lebong Tandai Kabupaten Bengkulu Utara.

Bagaimana tidak, dengan jurang dalam persis di bawah kaki lalu aliran sungai deras yang menghempas batu-batu raksasa di kiri dan kanan rel. Sementara kita cuma bisa terduduk diam tanpa pengaman apa pun di tubuh. Sungguh serasa benar-benar menegangkan.

Mau bagaimana lagi. Tak ada pilihan lain. Desa yang dulu tersohor hingga ke tanah Eropa karena lumbung emasnya ini, memang cuma memiliki satu-satunya jalan masuk yakni rel tua sepanjang 33 kilometer yang dibangun Belanda pada tahun 1901 silam.

"Dulu cukup 2 jam perjalanan. Tapi kini tidak bisa lagi, rel sudah banyak rusak dan kadang tertimbun longsor," ujar Pedi, sopir lori yang mengantarkan kami menembus rerimbunan hutan.

Lelaki berusia hampir 40 tahun ini mengaku sudah belasan tahun menjadi sopir Molek sebuah akronim dari Motor Lori Ekspress atau nama lain dari bangkai lori milik Belanda yang tersisa di daerah itu.

Pedi mengakui ia pernah mengalami celaka beberapa kali ketika membawa Molek yang kami tumpangi. Kala itu ceritanya, Molek yang cuma berukuran 3x1 meter dan berangka kayu papan itu tergelincir keluar dari rel di sebuah pinggiran jurang.

Sementara sebagian tanah yang menahan rel tergerus longsor. Molek milknya pun terguling hingga ke bawah jurang bersama para penumpangnya.

"Tidak ada yang mati. Cuma lecet dan paling parah patah," ujar Pedi dengan mimik wajah datar, sementara kepalanya sesekali keluar melihat ke samping Molek untuk memastikan roda lori tetap dalam relnya.

Kami yang mendengar pun cuma terpelongo sembari meneguk liur memandang dalamnya jurang dari bawah jembatan ringkih yang sedang kami lewati. Dalam hati cuma berharap, agar Lori tua ini cepat sampai di desa.

Lama perjalanan menuju Lebong Tandai setidaknya butuh waktu antara 4-6 jam. Dengan rincian, 2-3 jam perjalanan dari titik keberangkatan Desa Air Tenang sampai ke Ronggeng, yakni sebuah tanah lapang yang dahulunya dipergunakan orang Belanda bersama pekerja tambang untuk menonton seni pertunjukan tari Ronggeng yang didatangkan langsung dari tanah Jawa.

Namun kini, tanah lapang itu menjadi sebuah tempat perhentian Molek, baik itu yang dari Lebong Tandai menuju Air Tenang maupun sebaliknya. Jadi mirip stasiun transit.

Di Ronggeng, penumpang berpindah Molek. Untuk yang menuju Lebong Tandai, naik ke Molek yang dari daerah itu, dan yang ke Napal Putih atau Desa Air Tenang menaiki molek yang berangkat dari Air Tenang.

Proses transit ini terbilang cukup lama juga. Setidaknya bisa antara 1 atau 2 jam menunggu. Menurut pengakuan sopir Molek. Mekanisme perpindahan penumpang ini berdasarkan kesepakatan bersama para pemilik Molek, untuk  menghindari terjadinya tabrakan Molek saat di rel.

Selain itu, langkah ini juga untuk tetap menjaga Molek dari Lebong Tandai dan Air Tenang bisa tetap sama-sama beroperasi. " Jadi sama-sama dapat rezeki. Adil lah. Yang atas (Lebong Tandai) dapat, yang bawah juga," ujar sopir Molek lain bernama Komeng.

Selanjutnya. Setelah proses transit selesai, maka perjalanan dilanjutkan dari Ronggeng hingga ke Lebong Tandai dengan waktu tempuh antara 2-3 jam. Bagaimana rasanya, tentu mengasyikkan dan menegangkan. Namun ada satu hal yang kurang membuat nyaman yakni bising.

Ya, Molek adalah kendaraan modifikasi yang dapur pacunya menggunakan mesin mobil yang sengaja ditanam di tengah-tengah rangka Molek. Jadi, bisa dipastikan bisingnya bukan main, itu belum soal panas mesin yang merayap ke kaki. "Lumayan bisa buat matang biji," celoteh seorang kawan di perjalanan.

Batavia yang Hilang

Menelusur jalan menuju Lebong Tandai, membuat kita serasa masuk dalam perut hutan. Pohon-pohon sebesar dua kali lingkar tangan orang dewasa masih tegap menjulang di perbukitan.

Belum hempasan Sungai Lusang yang berwarna jernih ketika menabrak batu-batu sebesar rumah, membuat perjalanan itu seperti mengarahkan kita ke dunia yang berbeda.

Apalagi kalau mata melihat rel-rel berkarat yang mengular. Tak terbayang rasanya, bagaimana orang-orang di zaman dahulu membawa baja-baja nan berat ini bisa sampai ke daerah ini.

"Dulu pakai tenaga kuda dan manusia membuat relnya," ujar Supandi, tokoh masyarakat Lebong Tandai, menjawab pertanyaan kami setibanya kaki di desa ini.

Awal memasuki desa ini, kita langsung akan menjumpai deretan bangunan terbuat dari semen berwarna putih pudar. Di kiri kanan rel ada banyak rumah yang berdempetan, berdinding papan dan berlantai semen.

Sebuah tugu setinggi 2,5 meter berwarna putih menjadi penanda inilah desa penghasil emas di Bengkulu. Sebab di atas puncak tugu semen itu ada sebuah alat bor sisa Belanda berukuran sepanjang 1 meter. Bentuknya persis seperti senapan mesin seperti di film-film Holywood.

Saat molek memasuki areal desa, biasanya akan ada banyak anak-anak dan anjing-anjing kampung berlarian menyambut. Beberapa bocah langsung menaiki bagian belakang Molek atau berloncatan duduk di lori gandeng molek sampai kendaraan itu berhenti.

Penduduk setempat sudah terbiasa dengan orang asing dari luar desa. Mereka yang datang ke desa ini memang beragam. Mulai dari orang dari negara lain sampai ke pengunjung lokal yang sekadar bertandang ingin melihat lebih dekat aktivitas pertambangan tradisional sudah lumayan sering mereka temui.

"Sekitar 3 bulan lalu ada orang Belanda kesini. Dia cari rumah kakeknya. Katanya orang tuanya lahir di desa ini," ujar Mukhlisin, Kepala Dusun.

Ya, Lebong Tandai memang sudah tersohor sejak masa sebelum kemerdekaan atau setidaknya sejak tahun 1900-an, ketika Belanda mulai membawa ribuan orang dari tanah Jawa dan Cina dari Singapura untuk melubangi bukit-bukit batu raksasa di Lebong Tandai untuk berburu urat emas.

Diakui, sejak lampau nama Pulau Sumatera memang telah dikenal sebagai Pulau Emas atau Svarnadwipa. Karena itu, orang dari tanah Eropa berlabuh ke tanah ini. Namun demikian, saat itu terkhusus Bengkulu. Sebagai salah satu daerah yang dijejaki Inggris hampir empat abad silam, dan menjadi salah satu pangkalan dagang terbesar kala itu.

Justru tak pernah terendus oleh Inggris dimana lumbung emasnya atau mungkin lebih tepatnya seperti yang pernah dituliskan John N Miksic dalam bukunya Traditional Sumatran Trade di bulletin de l’Ecole française d'Extrême-Orient (1985), adalah bahwa Inggris memang tak menyadari bahwa ada lumbung emas di Bengkulu.

Dugaan itu juga mempertegas apa yang pernah dituliskan oleh William Marsden, seorang sekretaris yang bekerja di Fort Marlborough, sebuah benteng buatan Inggris terbesar di Asia Tenggara yang ada di Bengkulu dalam bukunya The History of Sumatra yang diterbitkan pada tahun 1783.

Kata Marsden saat itu, emas-emas yang ada di Bengkulu justru berasal dari tambang tak jauh dari benteng mereka yang berada di jantung Kota Bengkulu saat ini. Karena itu jualah, Inggris yang telah menjejakkan kakinya sejak tahun 1685, hanya mengangkut getah damar, pala, kopi dan rempah rempah di Bengkulu.

Sampai kemudian muncul perjanjian tukar guling antara Inggris dan Belanda, untuk bertukar tempat daerah jajahan pada abad 18. Di titik inilah, mulai tersingkap dimana lumbung emas Bengkulu.

Inggris yang terlanjur hengkang ke Singapura menggantikan Belanda. Baru menyadari bahwa ada gunung emas nan banyak di Bengkulu. Itu ditunjukkan dengan keberhasilan perusahaan milik Belanda bernama Mijnbouw Maatschappij Redjang Lebong (1896), yang membuka tambang emas di daerah Kabupaten Lebong atau sekira 5 jam perjalanan darat dari Kota Bengkulu.

Termasuk pula perusahaan tambang bernama Mijnbouw Maatschappij Simau (1901) yang beroperasi di Desa Lebong Tandai Kabupaten Bengkulu Utara, yang konon berdasarkan laporan Conference Paper A Brief History of Mineral Exploration and Mining in Sumatra (2014), mampu memproduksi sekurangnya 1 ton per tahun.

Ya, setidaknya sejak 1901 hingga berakhir pada tahun 1940, dua perusahaan Belanda itu mampu memenuhi sedikitnya 72 persen ketersediaan emas untuk kerajaan Belanda atau Netherlands East Indies.

Namun demikian, kini sisa-sisa kejayaan itu telah meredup jauh. Urat-urat emas itu semakin dalam di perut bumi. Orang-orang desa yang bermodal alat seadanya untuk menambang emas hanya bisa memungut kerak emas.

Lubang-lubang yang dahulu dibuat Belanda sampai ratusan meter kini semua terendam air. Sementara warga hanya memiliki alat sedot yang sangat terbatas.

Karena itu, sejak peninggalan Belanda pada tahun 1940-an dan kemudian dikeruk lagi oleh PT Lusang Mining milik Australia pada tahun 1980-1995, semua ceruk emas itu makin sulit dikais.

"Dapat satu gram emas saja, itu sudah beruntung sekali. Susah, susah sekali sekarang cari emas," ujar seorang penambang, Misnar, yang mengaku telah lebih dari 15 tahun menambang emas.

Kondisi itu pun kini membuat warga di Desa Lebong Tandai terbelit kesusahan. Apalagi, alat-alat untuk menambang berupa glundung yang terbuat dari besi silinder berisi batangan besi serta air raksa ilegal makin mahal.

Biaya operasionalnya pun menjadi tak sesuai lagi dengan pendapatan. Bayangkan saja, dengan satu set alat pemijah emas yang bisa bermodalkan hingga Rp25 juta, lalu air raksa seharga Rp1,5 juta, belum ditambah dengan biaya tenaga mengangkut batu emas dari lubang-lubang bukit dan kebutuhan lain, membuat penambangan emas di desa itu seperti sudah tak menghasilkan lagi.

"Emas mentah yang didapat satu glundung paling cuma sebesar biji kedelai. Itu harganya di sini cuma Rp50 ribu. Dari itu kami bertahan," tambah Misnar.

Terjebak Mimpi

Kesusahan yang membelit warga Lebong Tandai kini perlahan makin menjadi. Apalagi, semua harga kebutuhan pokok di desa ini semuanya dibanderol dua sampai tiga kali lipat dari harga normal.

Itu terjadi lantaran susahnya akses transportasi untuk membawa semua barang tersebut ke dalam. Jadi jangan terkejut jika harga gas elpiji 3 kilogram di daerah itu mencapai Rp40 ribu per tabung, atau juga harga semen yang mencapai Rp160 ribu atau lebih per zak-nya. Belum dengan harga beras. Untuk kualitas rendah saja, di desa ini bisa mencapai Rp20 ribu per kilogramnya.

Menurut Mukhlisin, lebih dari 200 kepala keluarga di Lebong Tandai memang tak memiliki keahlian lain. Warga yang turun temurun menambang, bahkan sudah lupa cara menanam padi.

Karena itu, banyak bekas sawah di ujung desa yang ditinggalkan dan dibiarkan menjadi rawa. Bahkan, hanya untuk kebutuhan sayur mayur di Desa Lebong Tandai sangat susah dicari. Mereka hanya mengandalkan dari membeli ke pedagang yang sesekali naik ke atas desa menggunakan molek, dan tentunya dengan harga yang mahal.

Ya, kini ratusan orang di Desa Lebong Tandai ini pun bak terjebak dalam lubang tambang tak berujung. Hidup mereka hanya tersisa kemampuan untuk bertahan saja dan itu pun sudah nyaris tak tertahan.

"Orang-orang di sini harusnya sudah berhenti menambang. Emas sudah susah. Baiknya menanam lagi padi atau yang lain," tambah tokoh masyarakat setempat Supandi (77).