Judul                 : Marketing Politik: Antara Pemahaman dan Realitas
Penulis              : Prof. Firmanzah, Ph.D
Tebal Buku       : xii + 358 halaman
Ukuran             : 14,5 x 21 cm
Tahun               : 2007
Penerbit           : Yayasan Obor Indonesia

 

Mendiskursuskan politik berarti berkelana dalam rimba kekuasaan, kewenangan, pertarungan dan pengaruh yang meniscayakan dialektika sosial yang semakin membentang, tegang dan garang. Dialektika itu menghadirkan power relation (hubungan kekuasaan) inter-subjek. Sungguhpun demikian, dalam prekteknya acapkali terjalin oposisi biner (terbentuknya subjek dan objek politik). Para kontestan politik sebagai subjek, sedangkan publik sebagai objek.

Kondisi politik yang berpola oposisi biner ini bisa kita telusuri dalam bongkahan-bongkahan sejarah percaturan perpolitikan Indonesia. Di sana tampak bagaimana posisi dan evolusi kesadaran partisipatif publik di dunia politik.

Misalnya, pada masa awal pemilu (1955), masyarakat atau pemilih menentukan pilihannya didasari atas ideologi, bukan apa dan bagaimana program kerjanya. Tetapi saat Orde Baru berkuasa, penyelenggaraan pemilu bersifat artifisial. Para pemilih menentukan hak pilihnya bukan atas kehendak diri, ideologi atau program kerja yang dikampanyekan para kontestan politik, melainkan melalui ketentuan-ketentuan yang ditentukan penguasa yang despotik dan intimidatif.

Demikian pula praktek politik pasca reformasi, terbukanya kran politik bagi publik ternyata tidak serta-merta berimplikasi pada terpenuhinya kepentingan bersama. Malah kalau kita amati, demokrasi yang kita jadikan sebagai sistem pengaturan lalu-lintas politik telah mengalami pembajakan, seperti menguatnya oligarki politik, primordialisme, politik kartel, politik uang, kegaduhan politik yang tak produktif dan banal. Tapi yang amat menyedihkan adalah publik dijadikan sebagai mainan politik yang mengarah pada pemenuhan hasrat para kontestan di wilayah ini.

Oleh karena itu, untuk mewujudkan praktek politik yang bermutu, pola berpolitik para kontestannya mesti diubah. Kemudian kesadaran kritis publik juga ditingkatkan, sebagai upaya kontrol, check dan balance atas perilaku politik. Manakala publik makin kritis dan cerdas dalam berpartisipasi di arena politik (the political), secara bersamaan pula akan mempengaruhi perilaku kontestan politik.

Di sinilah para kontestan politik dituntut untuk kreatif dan inovatif dalam memahami keinginan, kehendak dan kebutuhan publik. Metode dan strategi yang dipakai selama ini mulai tak menarik di ruang publik, sehingga dibutuhkan formulasi dan strategi baru dalam menjalankan agenda-agenda politik yang lebih efektif dan efisien.

Adalah Firmanzah, melalui buku Marketing Politik berupaya menjawab keresahan eksistensial panggung politik yang kian banal, tak produktif dan jauh dari dirinya sendiri. Buku ini menawarkan konsep, metode dan strategi  solutif yang diformulasi dari ilmu marketing dan politik.

Konsep-konsep dan teori-teori marketing, oleh penulis, ditransmisi ke dalam dunia politik. Istilah-istilah kunci dalam dunia marketing seperti pasar, persaingan, konsumen dan pesaing pun terdapat di dunia politik. Akan tetapi, penerapannya dalam dunia politik tidak tertata dengan baik sebagaimana di dunia marketing.

Marketing dalam politik tentu tidak sama dengan marketing dalam bisnis.  Marketing politik bukanlah sebuah konsep untuk menjual partai politik atau kandidat presidensial kepada para pemilih. Namun, sebuah konsep yang menawarkan bagaimana partai atau kontestan dapat memasarkan inisiatif, gagasandan ideologi politik serta karakteristik pemimpin dan program kerja yang berkesesuaian dengan kebutuhan publik.

Produk politik mesti dikemas dengan cara yang baik sehingga dapat menarik massa. Seorang politisi harus mampu meyakinkan konstituennya bahwa produk yang ia tawarkan merupakan sesuatu yang relevan dan tepat untuk menyelesaikan persoalan-persoalan aktual (hal 170).  Karenanya, produk politik mesti memiliki nilai lebih, unggul dan berbeda dari yang lain.

Marketing politik merupakan suatu mekanisme yang harus dilakukan terus-menerus oleh partai ataupun kontestan dalam membangun kepercayaan dan image publik. Untuk membangun kepercayaan dan image publik tersebut, partai politik  harus melakukan hubungan jangka panjang dengan para pemilihnya, tidak hanya pada saat kampanye. Hal ini dibisa dilakukan dengan memberikan ruang bagi masyarakt untuk menyalurkan aspirasinya, juga dengan mengadakan pendidikan politik.

Lebih lanjut, Firmanzah menegaskan, marketing politik harus dilihat secara komprehensif. Pertama, marketing politik lebih dari sekedar komunikasi politik. Kedua, marketing politik diaplikasikan dalam seluruh proses pengorganisasian partai (kampanye formulasi produk politik melalui pembangunan simbol, image, platform dan program yang ditawarkan).

Ketiga, marketing politik menerapkan teknik marketing, strategi marketing, teknik publikasi, penawarkan ide dan program, desain produk dan marketing intelligent. Keempat, marketing politik melibatkan multidisiplener ilmu pengetahuan, seperti sosiologi, psikologi, antropologi, komunikasi dan filsafat. Kelima, konsep marketing politik bisa diterapkan dalam berbagai situasi politik (hal. 166).

Marketing politik bertujuan untuk memelihara hubungan dengan publik hingga tercipta relasi dua arah yang langgeng (inter-subjek). Adanya relasi ini, antara kontestan politik dan publik, bisa berjalan beriringan dalam memenuhi kepentingan orang banyak.  Dengan demikian, mekanisme marketing politik ini kiranya dapat membawa arah perpolitikan Indonesia semakin bermutu, berkualitas, cerdas dan bernas.

Oleh karena itu, buku ini sangat layak dijadikan rujukan bagi para pembaca yang menyukai diskursus politik. Apalagi bagi para kontestan politik, buku ini memuat strategi jitu dalam merebut nurani rakyat, karena sangat tepat dijadikan sebagai “kitab suci” dalam memandu kontestasi di gelanggang politik.