Buruh adalah kata yang tidak asing ditelinga kita. Buruh adalah representasi dari aset perusahaan yang selalu diabaikan dalam dunia industri. Buruh yang sampai saat ini berarti adalah perjuangan kaum proletar, kaum yang selalu dikategorikan awam dalam segala aspek.

Tidak sedikit juga membayangkan kaum buruh adalah lambang perjuangan kelas pekerja di antara revolusi industri. Buruh adalah bagian terpenting dari sejarah revolusi itu sendiri dan hanya sekadar berbeda nasib dari kebanyakan dengan orang lainnya.

Berbicara mengenai buruh tidak akan ada habis-habisnya. Selama ada pemilik modal, maka akan selalu ada kaum proletar. Karena merupakan suatu hubungan mutualisme menurut teorinya, tapi apakah diterapakan? Belum tentu.

Kebanyakan yang terjadi sekarang bukan hubungan mutualisme, melainkan hubungan parasitisme. Sehingga hanya dilihat sebelah mata, dengan kata lain diabaikan.

Buruh dalam benak kita akan mempunyai arti yang berbeda-berbeda. Ada yang berpikir kaum pekerja kasar dengan pakaian kumal, keringat yang bercucuran, dan mempunyai rata-rata pendidikan yang rendah, secara garis besar orang-orang yang di bawah rata-rata.

Meskipun bagian terpenting di dunia industri, sampai sekarang mereka masih berteriak meminta kesejahteraan, yang tak kunjung ada realisasi.

Dari Karl Marx yang dinobatkan sebagai guru bagi orang-orang yang iba akan perjuangan buruh, berusaha, mencerdaskan buruh untuk tidak hanya bekerja, namun berorganisasi untuk membangun masa yang besar, dan mempunyai kekuatan untuk dapat memperjuangkan kesejahteraan.

Kesejahteraan dan keadilan memang bukan hal yang diberikan secara gratis, namun harus diperjuangkan atau bahkan direbut. Dalam era sekarang, perjuangan atau perebutan tidak hanya dilakukan dengan berteriak sekencang-kencang di mimbar bebas atau di halaman-halaman gedung yang berdiri kaku, yang katanya melambangkan pemerintahan.

Kepentingan politik atau kepentingan kesejahteraan bagi buruh di Indonesia menjadi bahan pertimbangan yang cukup dilematis. Tak bisa dimungkiri kepentingan politik juga didasari oleh perjuangan para buruh untuk mendapatkan kesejahteraan. Namun yang terjadi adalah buruh hanya sebatas objek politik tahunan; setelah usai dimanfaatkan, maka akan segera ditinggalkan.

Partai Buruh di Indonesia sempat meramaikan panggung politik di Indonesia dan menjadi peserta Pemilu di tahun 1999, 2004, dan 2009 dengan menggunakan nama yang berbeda, yaitu Partai Buruh Nasional, Partai Buruh Sosial Demokrat, dan Partai Buruh.

Kini status buruh cenderung menjadi komoditas dari kepentingan politik praktis. Tak ada jaminan serikat pekerja mendekati kelompok elite partai politik bisa memperjuangkan hak buruh, pun tak ada jaminan dukungan buruh tidak dimanfaatkan sebagai kendaraan elite partai politik untuk meraih suara.

Sehingga jika kita melihat dari kenyataan yang ada di lapangan, masih banyak kaum buruh yang hanya menjadi alat dan kehilangan hak hidup sebagaimana layaknya manusia, seperti pemilik modal dan tuan tanah.

Buruh harus bisa membuka pikiran untuk bisa berorganisasi, sehingga tidak terkukung dengan idealisme ketidaktahuan. Tanpa menyadari hal ini, idealisme murni selalu dihubung-hubungkan dengan pengetahuan yang paling besar. Seberapa benar hal ini dan apa hubungan idealisme asli ini dengan dramatisasi fantastik akan menjad jelas pada saat kita bertanya kepada seorang anak yang tidak manja.

Contohnya seorang anak laki-laki yang sehat. Untuk memberikan opininya, bocah yang sama mendengarkan gembar-gembor idealistik orang yang cinta damai tanpa mengerti apa perkataan mereka, dan bahkan menolaknya, akan siap sedia mengorbankan masa mudanya untuk idealisme bangsanya. (hal 318.Adolf Hitler, dalam Mein Kampf).

Keterbatasan informasi dan keterbatasan pendidikan buruh sangat berpengaruh besar. Sehingga tidak jarang masyarakat yang berada di dunia menjadi korban, bukan sebagai mitra.

Hal ini tidak terlepas dengan semakin menjamurnya sektor perkebunan dan pertambangan yang ada di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Buruh-buruh yang tidak paham dengan peraturan-peraturan yang dibuat oleh perusahaan maupun peraturan perundang-undangan yang berlaku. Yang terjadi di lapangan, banyak pelanggaran yang dilakukan oleh perusahaan terhadap masyarakat yang bekerja.

Contohnya di perusahaan kelapa sawit ada istilah tenaga kerja akad, yaitu pihak perusahaan merekrut karyawan di pulau lain dengan iming-iming uang tranfortasi dibayarkan maupun berangkat atau biaya tranportasi pulang ke kampungnya kembali setelah kontrak kerja selesai dan dijanjikan untuk bekerja di pulau yang sama, namun kenyataan masyarakat ditipu dengan menyebarkan masyarakat yang tidak paham tadi ke pulau lain.

Masyarakat akan menjadi korban penghianatan dari perjanjian yang diutarakan oleh perusahaan melalui orang-orang yang dipercayakan. Tidak jarang masyarakat yang mempunyai sumber daya di bawah rata-rata sering menjadi korban. Sebagai solusi terbaik untuk memperjuangkan kesejahteraan ini adalah berorganisasi, dan rebut kembali!