Keberagaman adalah suatu predikat yang mutlak. Suatu kata yang membungkus beragam suku, bahasa, agama, ras, dan budaya di suatu wilayah negara, termasuk Indonesia. 

Ragam kekayaan yang dimiliki Indonesia berasal dari turun-temurun atau nenek moyang. Keberagaman dimaksudkan bahwa setiap manusia memiliki perbedaan. Perbedaan itu karena manusia adalah makhluk individu di mana setiap individu memiliki ciri khas yang menjadi pembeda antara individu satu dengan individu yang lainnya. Perbedaan ini terutama ditinjau dari segi watak, hasrat, sikap, dan temperamen.

Dari keterangan di atas, timbul suatu pertanyaan: Pentingkah kita mempelajari keberagaman? Apa yang terjadi jika seseorang kurang memahami atau bahkan tidak mempelajarinya? Bagaimana peran kita sebagai pemuda untuk dapat berkontribusi merawat keberagaman? 

Sebelum kita jawab satu per satu pertanyaan di atas, hal yang perlu kita lakukan adalah memahami apa itu keberagaman.

Indonesia sebagai salah satu negara kepulauan terbesar di dunia dengan bentang alam nan luas dari Sabang sampai Merauke dengan jumlah pulau mencapai ribuan adalah salah satu anugerah Tuhan yang harus disyukuri. Rasa syukur itu dapat diungkapkan dengan berusaha semaksimal mungkin untuk memberdayakan segala potensi sumber daya yang ada di dalamnya, serta menjaga dan melestarikan segala bentuk tradisi dan budaya yang tersebar luas di pelosok nusantara.

Semua kebudayaan dan tradisi yang dimiliki tersebar luas di pelosok nusantara merupakan wujud keberagaman yang harus dijaga dan dilestarikan. Keragaman bukanlah suatu hal yang menjadi alasan suatu bangsa ini untuk saling menyerang dan bermusuhan. 

Sebaliknya, seharusnya keberagaman menjadi sebuah kekuatan untuk memperkokohkan jati diri bangsa. Sikap saling menghargai, saling mengenal, saling mengakui, dan saling menjaga merupakan sikap saling melengkapi yang terwujud dalam keberagaman.

Sejarah sudah membuktikan bahwa kemerdekaan bangsa ini adalah hasil kerja sama dan jerih payah dari seluruh anak bangsa yang memiliki latar belakang berbeda. 

Dari situ seharusnya kita bisa melihat dan merasakan perasaan senasib dan sepenanggungan untuk meraih kemerdekaan telah mengikis sekat-sekat perbedaan menjadikannya terpadu satu dalam bentuk perjuangan. Sehingga tidak salah jika presiden pertama Republik Indonesia (RI) Soekarno begitu menyarankan dan selalu mendengungkan kata “Toleransi” dalam lingkup keberagaman di setiap pidato-pidatonya.

Sejatinya para pendiri negeri ini sudah mengetahui bahwa ada masa di mana Indonesia akan melahirkan beragam perbedaan. Sehingga penting kita menanamkan sikap toleransi sebagai perwujudan bahwa individu adalah makhluk sosial. Manusia hidup saling kebergantungan, dan manusia tidak bisa hidup sendiri.

Bayangkan jika bangsa ini terpecah hanya karena perbedaan yang menjadi alasan. Tidak hanya mencoreng nama bangsa kita sendiri, tetapi juga mencoreng nama Indonesia. Pandangan orang di luar sana menjadi sentimen terhadap Indonesia, di mana Indonesia dulu dikenal dengan toleransi yang tinggi hanya karena masalah sepele Indonesia tercoreng.

Selain itu, dampak yang ditumbulkan pun akan merugikan diri sendiri bahkan sanak saudara seperti kehilangan materi, rumah, bahkan nyawa menjadi taruhannya. Sudah sering media massa memberitakan sebuah fenomena atau kejadian akibat adanya ujaran kebencian berlandaskan unsur Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA), menjadikan api konflik yang tidak dapat dihindari.

Seharusnya ini dapat kita tekan dengan menumbuhkan jiwa karakter bagi penerus bangsa. Selebihnya, para pemuda yang mengaku dirinya sebagai kaum intelektual merupakan kontrubusi utama dalam mewujudkan cinta perdamaian di pelosok negeri. Pemuda harus menjadi tonggak perdamaian karena sejatinya pemuda adalah penrus bangsa. Selain itu, pemuda yang nantinya akan terjun dan berbaur dengan masyarakat.

Pemuda harus mengambil peran aktif dalam mengatasi ujaran kebencian atau berita bohong (hoax) yang kini mulai menjarah dalam media sosial. Berpikir tajam dan menggunakan analisis ketika memperoleh suatu informasi sangat diperlukam. Jangan sampai menjadi agen yang ikut menyuaran berita yang belum tentu kebenarannya. Sehingga perlu sekali pemuda untuk berwawasan luas terlebih seorang jurnalis kampus yang harus peka terhadap lingkungan sekitar.