Kehidupan manusia itu dapat dikatakan sebagai sebuah perjalanan hidup, melalui berbagai macam proses yang dialami. Pada akhirnya melalui perjalanan tersebut manusia dapat memetik pelajaran yang sudah dialami.

Salah satunya dengan merantau. Pada dasarnya, kita diharapkan untuk menjadi pribadi yang bersifat mandiri ketika jauh dari keluarga, dengan menghadapi tantangan dan hal lainnya sendiri.

Berbagai peristiwa atau kejadian unik, penuh cerita dan lainnya, itu mungkin saja dialami oleh mereka yang merantau. Pengalaman yang tidak terlupakan dan menjadikan itu sebagai sesuatu hal yang selalu diingat.

Dikisahkan ada seorang anak yang melanjutkan kuliah di negeri orang. Ia pada awalnya merasa sangat hampa untuk tinggal sendiri. Perasaan rindu akan keluarga dan tanah air pun melanda yang membuat si anak ingin pulang.

Inilah ujian pertama bagi si anak, ketika ia harus bisa beradaptasi dengan lingkungan baru. Saat Anda hanya seorang diri di negeri orang, maka secara psikologis, Anda merasakan ada hal yang aneh, dan itu sebenarnya hal yang wajar. Anda harus mencoba beradaptasi, sehingga masalah dapat diatasi.

Kehidupan sehari-hari pun mengalami perubahan, si anak harus melakukan berbagai hal sendiri. Contoh yang paling kecil adalah ketika ia merapikan tempat tidur. Ini sesuatu yang mungkin terbiasa dilakukan oleh orang lain ketika ia berada di rumahnya sendiri.

Merantau mungkin sangat menyedihkan pada mulanya. Terlebih lagi saat Anda masih belum mengenal siapa-siapa di lingkungan yang baru. Begitu juga saat pertama kali masuk ke sekolah yang baru.

Berjalan masuk ke ruang kelas, dengan rasa penasaran dan hati yang berdebar-debar. Kehidupan di sekolah juga banyak hal yang unik. Si anak bertemu dengan kawan baru dari berbagai negara. Itu sangat mengasyikan.

Si anak dapat mengenal jauh apa itu pertemanan yang lebih luas, bagaimana karakter seseorang dari negara lain. Selain itu, ia membawa nama negaranya dengan cara bagaimana ia bersikap, termasuk memperkenalka kepada dunia tentang budaya dan makanan dari tempat asalnya.

Dengan memiliki teman yang mengglobal, maka kita akan menjadi pribadi yang 'open-minded', dalam hal ini maksudnya adalah terbuka dan menerima budaya baru, pendapat, dan pemikiran baru yang mungkin belum pernah kita pikirkan sebelumnya. Tentu dengan hal positif di dalamnya.

Kehidupan di sekolah bagi si anak, mungkin secara keseluruhan tidak jauh berbeda dengan di negara asalnya. Ia  mengalami hal unik seperti memiliki guru yang lucu, yang mengajar dengan cara bernyanyi agar muridnya mudah untuk menghafal.

Itulah salah satu contoh hal unik yang dialami oleh si anak. 

Pada dasarnya kehidupan seseorang itu seperti grafik di pasar saham, terkadang naik, tanpa pergerakan, atau bahkan turun. Tidak semua hal itu menyenangkan, ada hal-hal yang memungkinkan seorang perantau mengalami stres. Contohnya, si anak yang sering kurang tidur karena harus membuat tugas, mungkin juga ketika harus mempersiapkan diri untuk presentasi di depan kelas dengan menggunakan bahasa asing. Tetapi, ini sebenarnya adalah sebuah tantangan yang harus dihadapi.

Stres pada dasarnya sangat baik untuk membuat orang lebih mawas diri. Seperti ketika si anak mengalami stres atau gugup saat maju presentasi di depan kelas, ketakutan atau kegugupan ini harus dilawan atau dihilangkan dengan kepecayaan diri dalam mempersiapkan materinya.

Ini suatu pelajaran yang menarik dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana melatih mental dalam menghadapi kegugupan yang bisa dijadikan sebagai bekal dan pengalaman yang berharga.

Hal menarik lainnya adalah saat merayakan ulang tahun bersama teman-teman baru di lingkungan baru, seperti si anak yang merayakan ulang tahunnya dengan teman-teman terdekatnya. Menariknya, mereka memberikan kejutan di hari ulang tahun kepada anak tersebut. Ini menjadi pengalaman yang baru bagi si anak.

Proses pembelajaran manusia tidak hanya terjadi dari hal-hal yang formal, tetapi juga mendapatkan hikmah dari hal yang informal. Ketika seorang perantau pergi meninggalkan tempatnya yang lama, maka ia harus mengetahui bagaimana caranya agar ia dapat diterima di lingkungan yang baru.

Terdapat berbagai macam cara untuk melakukannya, salah satu contohnya adalah dengan mengetahui siapa diri kita, bersikap yang seharusnya dan mau membuka diri. Dalam proses pencarian teman, mungkin ada baiknya mencari teman yang membuat nyaman dan memberikan dampak positif bagi kita.

Proses pendewasaan diri seseorang ketika merantau juga berbeda-beda. Digambarkan ketika si anak menyukai seseorang yang juga merupakan temannya. Si anak menyatakan perasaannya terhadap orang tersebut. Sayang sekali ia ditolak dengan berbagai alasan yang disampaikan oleh temannya itu.

Pada awalnya, ia merasa kecewa dan sedih. Kemudian ia sempat berpikir untuk mengakhiri pertemanan. Ini sebenarnya hal yang manusiawi, bahkan masyarakat di sekitar pada umumnya akan melakukan hal seperti itu, bahkan ada yang lantas menghapus akun media sosialnya.

Butuh waktu yang cukup lama bagi si anak untuk memulihkan rasa pedih itu. Seiring berjalananya waktu, ia mulai merasa lebih baik. Memang tidak mudah untuk melakukan hal itu, butuh waktu yang cukup panjang. Akan tetapi, ada hal yang menarik bahwa ia dan temannya ini masih saling menyapa sampai sekarang, bahkan ia merasa tidak terjadi apa-apa di antara mereka.

Kejadian yang menimpa si anak ini dapat disimpulkan sebagai proses pendewasaan diri, bagaimana ia berusaha mengendalikan hati dan dirinya meskipun ia sudah merasa dikecewakan. Tidak ada yang bisa disalahkan, karena perasaan seseorang itu tidak bisa dipaksakan, meskipun hal itu dapat berubah.

Proses pengendalian diri ini sangat penting, bagaimana seseorang secara pikiran dan fisik mengendalikan dirinya dalam situasi apa pun, terlebih lagi saat kita merantau yang berarti kita harus mengetahui bagaimana caranya mengatasi persoalan yang ada di depan.

Yang terpenting adalah bagiamana berdamai dengan diri sendiri dan berteman dengan orang yang bedampak positif bagi kehidupan kita.