Sampai detik ini, Indonesia sedang gencar-gencarnya diserang oleh isu perpecahan, mulai dari pertentangan antar politisi, antar pemuka agama, antar sesama agama dan seterusnya. parahnya lagi, kemungkinan isu-isu ini akan “digunakan” sebagai jurus untuk mendulang suara dipilkada.

Baru kemarin kejadian penyerangan pemuka Agama oleh orang yang katanya “gila” dan tiba-tiba disusul oleh serangan membabibuta “orang gila” yang mencederai pemuka agama lainnya, parahnya lagi hal ini ditambah dengan isu munculnya Organisasi yang dilarang keberadaanya di Indonesia, ya PKI itu.

Padahal, sejak jaman Negara Api menyerang Ke ladang Gandum, Organisasi itu sudah dilarang keberadaaanya, Cuma kenapa tiap tahun selalu aja ada isu-isu yang mengatasnamakan organisasi itu muncul, ya mungkin itu isu yang paling menarik untuk digodok, apalagi dengan bumbu fanatisme dan kebencian masa lalu, kurang move on lah.

Sebab, kita tahu sendiri bagaimana kejadian masa itu, saling bunuh membunuh, jagal menjagal dan seterusnya. Memang kita tidak tahu secara jelas sebab kita tidak semasa, Cuma mendengar cerita sesepuh dan saksi sejarah, rasanya  kita ikut menyimpan “pedih”nya masa itu. Dan jika disulut, tentu mudah dibakar.

Dan ini berbahaya, oleh sebab itu kita harus bisa meredamnya. dan meredamnya bukan berarti “mematikan” kepercayaan kita bahwa mereka ada, sebab yang namanya “pemikiran dan ideologi” tentunya tidak akan bisa dihapuskan, meskipun dilarang oleh pemerintah, Contohnya saja HTI, Meskipun ia dilarang ia tetap ada hingga sekarang.

Dan ditengah carut-marutnya isu perpecahan ini, adakah upaya kita untuk melakukan hal yang sebaliknya?, ya memang sebagian dari kita sudah berupaya, tapi sudah kah kita semilitan dengan mereka yang menebarkan isu-isu perpecahaan itu, apakah kita hanya menunggu waktu dimana perpecahan akan “pecah”.  Semoga tidak !.

Kita harus menyadari, bahwa keberagaman itu memang ada dan nyata, bukan karena keberagaman itu harus disamakan, tetapi keberagaman itu  harus disatukan, layaknya pelangi yang beragam warnanya, ia akan indah jika bersama. Bahkan pribahasa kita sendiri menyebutkan “bersatu kita teguh, bercerai kita Kawin lagi, eh kita Teguh ding”.

Jadi, mengapa harus takut berbeda jika kita masih sama-sama manusia, dan saya meyakini perbedaan itu indah ketika saya bertemu dengan seorang yang berbeda jenis kelamin dengan saya, jujur itu indah. Dan karena berbeda itulah saya berani mendekatinya, bahkan berusaha untuk menyatu dengannya, bukan untuk menjadikan ia sama dengan saya.

Kita patut berbangga, bagaimana para pendahulu kita mampu untuk menyatukan Bangsa indonesia ini, dengan bermacam-macam suku bangsa, bahasa dan adat istiadat, mereka tunduk dalam naungan Indonesia, mengalahkan ego sendiri demi menjunjung persatuan dan kesatuan.

Dan kita patut bersukur, sebab jika menegok tetangga kita yang jauh disana, meskipun mereka memiliki bahasa yang sama, adat yang sama, mereka tidak mampu disatukan dalam satu bendera Negara,  meskipun dulunya mereka adalah satu Kerajaan.

Memang perbedaan itu sulit, apalagi beda pendapat. Namun lebih sulit lagi adalah beda pendapatan, dimana pendapatan adalah keuntungan yang tidak sejalan dengan garis-garis kebersamaan. yang di atas minta menangnya sendiri, mewakili rakyat di segala aspek, mewakili kekayaannya, kemakmuranya, keenakanya.

Sehingga rakyat tidak makmur, tidak sejahtera karena sudah diwakili oleh mereka. Kesenjangan itulah yang semakin membuat kita terpecah, dan itu satu-satunya perbedaaan yang harus kita ubah, jangan sampai Rakyat hanya dijadikan sapi perah yang tiap hari di perah susunya tanpa dinikahi.

Perihal perbedaan, sebenarnya Tuhan pastinya mampu untuk menjadikan semua manusia itu sama, sebab ia maha segalanya dan ia Tahu segalanya, Cuma Tuhan itu juga Maha Indah sehigga tidak menginginkan Semuanya monoton, layaknya cita-cita Jomblo yaitu Muda Foya-foya, Tua Kaya raya, Mati Masuk Surga.

Tuhan menunjukan sisi keindahanya melalui perbedaan Manusia, sebab jika semua manusia percaya dan iman kepada-Nya, niscaya itu tidak akan Menambah Ke-Aganunganya, begitu juga sebaliknya jika semua manusia mengingkarinya, tentunya itu tidak akan mengurangi Ke-Agunganya. Sekilas kuliah Tauhid 2 SKS.

Dan sebagai solusi, eh bukan. Maksudnya kongklusi, Mari kita Yakini  bahwa kita memiliki keyakinan yang pastinya kita yakini sepenuhnya, dan juga kita harus meyakini bahwa orang lain memiliki keyakinan sebagaimana hal yang kita yakini dan ia akan mempertahakan keyakinan itu.

Mari kita melihat bagaimana sunnatullah itu berjalan, dimana kita melihat sebuah perbedaan sebagai Rahmat, dan ladang usaha kita, yakni usaha menyatukan sebagaimana usaha mereka menceraikan.