Setelah lama diam, Tono berkata, “Dek, rindu ini seperti kopi, pekat dan pahit. Maaf, aku ndak bisa memberi cinta yang layak, meski aku ingin."

Tini diam sambil mencecap kopinya. Jadi selingkuhan mungkin seperti ini, mendapatkan cinta yang utuh itu hal yang mustahil. Tapi aku tak boleh nyerah, aku harus jadi istrinya!

Dua setengah tahun berlalu. Dunia berubah. Juga hubungan Tono dan Tini yang sebelumnya seperti main kucing-kucingan. 

“Tini sayaang... sudah kubayar lunas mas kawin yang kau minta. Rumah dan isinya, mobil, perhiasan, kebun, dan seluruh tabunganku. Kita nikah!"

“Iya, mas, kita nikah,” jawab Tini dengan tersenyum lebar penuh kemenangan. 

Ponsel berbunyi. Sebuah pesan masuk. "Selamat, kau berhasil mendapatkan laki-laki impianmu, nduk. Tak salah aku memberimu pelet terhebat di gincu merah marunmu." 


Setelah pukul tujuh

“Aku menyukaimu.”

“Hah... Suka? Masa sih. Kenapa?”

“Iya. Suka. Tanpa alasan sih. Nggak ngerti juga kenapa bisa suka. Dan menurutmu apa harus punya alasan?”

“Eemm.. karena biasanya ada alasannya. Misalnya suka matanya yang indah atau hidungnya yang bagus.”

"Aku nggak punya, maaf."

"Eh iya. Ok terima kasih. Terus gimana?"

“Gimana apanya?”

"Ya aku mesti gimana ke kamu. Kamu ngerti kan aku ini..."

"Iya, kamu nggak harus gimana-gimana juga sih. Aku cuman mengatakan apa yang kurasakan dan tidak meminta apapun. Kamu tidak harus menyukaiku juga, Bi. Cukup kamu tahu, itu saja." . Bian diam. Sedikit bingung, ketika tiba-tiba dadanya berdesir."

"Baiklah, Bi, aku pergi dulu."

"Mau kemana?"

"Liat jalanan."

"Sendirian?"

"Iyalah... kenapa?"

"Eemm.. nggak kenapa-kenapa sih."

"Bi, bisa kau pesankan kopi untukku? Satu jam lagi aku kembali." Grey merapikan buku, catatan dan kertas-kertas lalu memasukkannya ke dalam tas.

"Oh kamu balik lagi, baiklah, hati-hati, aku menunggumu. Eh.. eeng.. maksudku aku masih di sini sampai jam duabelas nanti. Okey pesan kopi hitam ya, siaaap..."

Bian berbalik dan pura-pura sibuk mencari sesuatu di dalam tasnya. Senyumnya mengembang, senang. Grey menatap punggung laki-laki jangkung berkulit pucat itu dengan sedikit cemas, tetapi lebih banyak gemas." 


Katamu

Katamu, "Jangan lebay soal jarak. Cinta bukan hanya itu, tapi...."  Tak diselesaikan kalimatnya, seperti tercekat di kerongkongan. Lalu memelukku erat. Lalu mengecup dahi, pipi, bibir. Tentu saja yang terakhir lebih lama dari yang lainnya.

Katamu, "Jarak adalah prasangka. Menebak-nebak isi kepala dan dada. Apakah aku memikirkanmu seperti kamu memikirkanku. Sampai kita sepakat, kita adalah sepasang bayang-bayang yang hanya membutuhkan satu cahaya untuk menyala, cinta."

Katamu, "Jangan terlalu banyak bertanya, aku tak sanggup menjawabnya. Cukup katakan padaku, kamu mau menunggu." Aku mengangguk lalu tenggelam dalam pelukmu.

Katamu, "Rindu itu kamu, Ing. Dimulai dari percakapan demi percakapan yang mengalir setelah kamu bertanya tentang makanan yang asing di lidahmu. Dari pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti, Hey, makan siangmu apa? Dari beberapa pertemuan yang direncanakan semesta. Dari..."

Ah, lagi-lagi kalimatmu terhenti. Lalu kau memelukku, kali ini lebih erat. 


Suddenly

Demikianlah

Baru saja saya kembali membaca tulisan-tulisan lama. Tulisan yang entah mengapa tiba-tiba ingin saya baca lagi. Ada beberapa yang membuat saya tertawa geli. Sebab, kata-katanya jauh dari bagus dan terkesan lebay. 

Ada yang membuat saya nyengir dengan perasaan yang entah, hingga membuat ingatan saya berkunjung ke waktu lampau di mana ego sedang tinggi-tingginya dan kedewasaan sedang saya perjuangkan. 

Tentu saja, seperti biasa. Setelah melihat apa yang terjadi, saya butuh cermin untuk bicara pada hidup yang membawa saya ke banyak ruang dan waktu, juga orang-orang yang padanya saya dikenalkan lewat pertemuan dan perpisahan. 

Demikianlah

Kebetulan yang mungkin sudah seharusnya tiba-tiba playlist di komputer ruang kerja saya memutar lagu lawas 80-an "Suddenly – Billy Ocean" versi akustik, dan ini membuat saya terdiam sejenak sampai si Om Billy menyelesaikan lagunya.

Saya pandangi layar komputer dengan pikiran berlari ke sebuah trotoar jalanan kota yang jauh dengan musim dinginnya, yang membuat saya harus mengenakan baju berlapis-lapis dan jaket tebal. Sebuah kedai kopi. Dan seorang penyuka kopi hitam tanpa gula yang sampai detik ini tak bisa saya lupakan. 

Demikianlah

Hidup selalu memberi "tiba-tiba" pada setiap kita. Seperti kata Om Billy.
"Suddenly, life has new meaning to me. There's beauty up above. And things we never take notice of. You wake up and suddenly, you're in love."

Tiba-tiba pikiran kita terbuka tentang arti hidup, tidak melulu itu-itu saja. Tiba-tiba kita merasa masih banyak hal-hal baik yang bisa kita kerjakan. Masih banyak keindahan yang bisa kita nikmati di antara hiruk pikuk dunia, hal-hal yang sebelumnya tidak pernah disadari. 

Dan saat terbangun, tiba-tiba kita tengah jatuh cinta. Ya, jatuh cinta. Kepada manisnya pagi dengan wangi kopi, senyum ibu, obrolan ringan di sela-sela aktifitas, sapaan OB di kantor, atau melihat senja jatuh di ujung langit. 

Demikianlah

Ketika "tiba-tiba" itu mendatangimu dan kau akan baik-baik saja. Jika ada sedikit cemas, tak mengapa kau tak perlu menyangkalnya. Seduhlah kopi, untuk hidup yang lebih dari "tiba-tiba."