Mengapa Sadraisme penting metransendenkan Marxisme dan Post-Marxisme ? 

Tentu karena filsafat politik Marxisme dan Post-Marxisme sangat revolusioner memiliki visi masa depan yang hampa tanpa spiritualisme yang dalam.

 Semua manusia tanpa pandang suku, agama, dan ras diharapkan bersolidaritas terhadap massa rakjat dan secara strategis menjalani pertarungan elit menkonter hegemoni elit demi membela kaum tertindas di setiap zaman, lalu mencoba menangkap realitas dan makna sejati dalam perjuangan kelas dan pertarungan hegemoniknya. Upaya-upaya revolusioner ini bagian dari hasrat dan aksinya untuk menjadi manusia paripurna yang tak terlepas dari massa rakjat.

Dengan kata lain, Sadraisme berpotensi menyempurnakan pemikiran Marxisme dan Post-Marxisme lebih revolusioner-relijius sehingga siap digunakan sebagai senjata revolusioner di segala medan dan zaman di masa depan.

Asumsi dasar Marxisme adalah solidaritas kelas proletar di muka bumi untuk menghancurkan Kapitalisme di muka bumi. Postulat utama Post-Marxisme adalah politik menkonter hegemoni untuk memenangkan massa rakjat dalam ragam identitas yang termiskinkan dan termarjinalkan. Sedang Sadraisme adalah teori teosofis yang membungkus perjuangan agar lebih relijius-hakiki.

Sadraisme diciptakan oleh Mulla Sadra yang hidup di abad 16-17. Nama aslinya Muhammad ibn Ibrahim ibn Yahya Qawami Shirazi. Ia pemikir ketuhanan yang revolusioner, yang meletakkan puncak filsafatnya pada pengabdian ikhlas di tengah massa rakjat. Ia murid dua filsuf, Mir Damad, tokoh mazhab pemikiran Isfahan aliran esensialisme dan Baha` Al-Din Amili, filsuf yang terkenal serba bisa di zamannya.

Sadraisme adalah bangunan sistematis filsafat paska Ibnu Sina yang berfokus pada Wujud sebagai filsafat. Secara orisinil menyempurnakan pemikiran filsafat peripatetik yang ditokohi Alkindi, Alfarabi, Ibnu Sina dkk, melampaui filsafat Iluminasi Suhrawardi Almaqtul maupun mistisisme Irfan mahaguru agung Ibnu Arabi.

Peripatetik mengungkapkan keniscayaan wujud, Iluminasi menyempurnakan pengenalan wujud yang niscaya pada esensi dalam simbolitas cahaya, Irfan berargumen pada penyatuan dan penyaksian yang melampaui representasi nalar, sedang Sadra datang dengan keniscayaan wujud dan dapat diungkapkan dalam bahasa yang logis dan filosofis, tetapi tetap ilahiyyat.

Sadraisme dikenali secara populer pada teoretisinya bahwa Wujud itu primer-fundamen di atas esensi seperti argumen gurunya Mir Damad dan Iluminasi Suhrawardi. Lebih jauh, sungguh Wujud itu hanya satu tetapi bergradasi atau bertingkat-tingkat dari Wujud Tuhan hingga wujud paling rendah.

Yang pokok setelah menuntaskan filsafat Wujud Sadraisme adalah revolusi persaksian Wujud dalam teori 4 perjalanan teosofisnya yang sangat filosofis-praksis.

Walhasil Sadraisme berkaitan dengan persaksian tauhid untuk hidup berjuang bersama massa rakjat menuju Tuhan menegakkan keadilan, membela kaum mustadafin yang ditindas di setiap zaman. Ini inti ide 4 perjalanan ini.

Fokus kita menuliskan Sadraisme secara sederhana yaitu pandangan tentang proses perjalanan nalar menuju hakikat sejati dan dampaknya pada revolusi sosial politik di puncak perjalanannya.

Perjalanan pertama adalah perjalanan metafisikal dan ontologis sebagai sebuah perkenalan awal, yaitu perjalanan dari maqam makhluk menuju Sang Hakikat Kebenaran.

Di perjalanan ontologis pertama ini wujud telah disimpulkan dan akan melewati kurang lebih beberapa stasiun spiritual. Perlu kerja keras dan cerdas yang konsisten menjalaninya.

Di level ini, pendalaman atas wujud mereview Ibnu Sina dkk yaitu adanya wujud yang wajib, mumkin dan mumtani/mustahil hingga fase membedakan antara nalar dan yang ternalar, yang mengetahui dan diketahui misalnya.

Perjalanan awal ini sebuah perjalanan manifesto diri untuk mengenal Wujud sang Hakikat Tertinggi yaitu perjalanan dari jiwa yang kerdil menuju hati, lalu hati menuju aqal/ruh dan dari aqal/ruh ini menuju sang Rahasia (Assir), menuju sang Tersembunyi (Alkhafiy) dan menuju Maha Tersembunyi (Al-Akhfa).

Perjalan kedua dimulai dari akhir sempurna perjalanan pertama, yaitu perjalanan dari Hakikat menuju Hakikat bersama Sang Hakikat. Perjalanan ini berawal dari esensi menuju kesempurnaan melalui proses menghancurkan esensi sehingga yang tertinggal hanya Sang Hakikat.

Perjalanan kedua adalah perjalanan yang bermuatan filsafat alam, yaitu upaya pengungkapan hakikat esensi yang berada dalam alam dari segi kuantitas dan kualitasnya hingga relasinya dengan Hakikat. Bahwa segala sesuatu di alam raya ini tercipta dari Wujud sang Ada.

Perjalanan ketiga adalah perjalanan dari Hakikat menuju makam makhluk bersama Hakikat (min al-haqq ila'l-khalq bi'l-haqqy). Perjalanan ketiga ini adalah perjalanan awal wakil Tuhan di bumi ketika ilmu ketuhanan mulai didalami sempurna.

Perjalanan keempat adalah perjalanan dari makhluk menuju makhluk dengan Tuhan/Kebenararan (min al-khalq ila'l-khalq bi'l-haqq). Perjalanan ini adalah perjalanan manusia sempurna yang telah memiliki pengetahuan ketuhanan yang sempurna di tengah-tengah masyarakat manusia dengan misi menegakan keadilan, melawan kezaliman. 

Sebuah perjalanan revolusioner atau shahadah membimbing masyarakat menuju kebenaran dan kesempurnaan (Hossein Nasr, 1978). 

Individu-individu yang melakukan perjalanan nalar dan spiritual dan membela massa rakjat ini ada di setiap zaman dan mempengaruhi masyarakat di mana ia hidup sehingga ide filsafat ini tak absurd.

Mereka yang berjalan dan membimbing masyarakat sebagai puncak ibadahnya ini ibarat bintang di langit, menginspirasi massa rakjat.

Akhirnya, Marxisme hendak membela massa rakjat, post-Marxisme ingin memenangkan hegemoni massa rakjat, Sadraisme ingin menyelamatkan massa rakjat. Marxisme sangat revolusioner. Post Marxisme lebih strategis kontekstual dan Sadraisme memberi ruh perlawanan.