KEMAMPUAN mengejek diri sendiri, demikian Abdurrahman Wahid, berada pada derajat (maqam) tertinggi dalam nomenklatur ejek-mengejek yang pernah dikenal umat manusia. Sebab, mengejek orang lain, suku lain, pengikut golongan lain, bahkan pemeluk agama lain sudah terlalu mainstream, hanya menyulut perselisihan yang tidak ada untungnya sama sekali.

Maka, dalam rangka mengejek diri sendiri, saya membaca tulisan Arman Dhani sedemikian rupa sehingga diri saya sesuai dengan apa yang ditulisnya itu. Arman Dhani, penulis yang tenar sebagai selebtwit—pesohor di media sosial, menulis “Singkong Rebus untuk PNS” di Mojok.co, situsweb yang cukup hit akhir-akhir ini. Terpantau, hingga esai ini dibikin tulisan itu telah disebarkan (shared) di jejaring sosial Facebook sebanyak 713 kali dan Twitter sebanyak 336 kali, dengan jumlah pembaca yang tentu jauh lebih banyak lagi.

Dalam tulisannya yang satiris, Dhani mengejek peri kehidupan pegawai negeri sipil (PNS), para birokrat kita, yang digambarkannya antara lain sebagai berikut: (1) tiap hari mesti melayani rakyat, di sisi lain harus menamatkan Zuma; (2) tiap hari dari sekian jam kerja yang berat harus jualan Tupperware; (3) bisa melakukan perjalanan dinas, makan-makan, bikin acara tak jelas di hotel dan juga menginap di hotel dengan biaya negara; (4) meminta bon kosong setiap makan di rumah makan.

Gagasan ‘Besok’. Membaca “Singkong Rebus untuk PNS”, saya teringat Ziarah, novel karangan Iwan Simatupang yang sangat satiris, yang pertama kali terbit pada 1969 dan telah dicetak ulang ke delapan kali pada 2001. Novel itu pertama kali saya baca ketika duduk di bangku SMP dan waktu itu nyaris tak mengerti sedikit pun mengenai isinya.

Berlainan dengan novel-novel pada umumnya, bahkan dengan karya sezaman, Ziarah ditulis dengan bahasa yang rumit, baik dari segi gramatika maupun maknanya. Sebagaimana dikatakan Gajus Siagian (1963), diperlukan “pengetahuan psikologis dan intelek untuk dapat menangkapnya”. Membaca Ziarah, saya rasa, merupakan cara bagus untuk menziarahi mentalitas birokrat pada masa-masa awal kemerdekaan.

Sejak pembacaan saya yang kali pertama di perpustakaan SMP 28 Semarang itu, ingatan saya tentang Ziarah hampir tak pernah putus. Kerumitan (baca: keabsurdan cerita) novel itu benar-benar membekas di kepala.

Ziarah dikarang oleh Iwan Simatupang, sastrawan kelahiran Sibolga, Sumatera Utara, yang pernah mengenyam pendidikan HBS di Medan, sekolah kedokteran (NIAS) di Surabaya, antropologi di Universitas Leiden, dan filsafat di Universitas Sorbonne. Ditulis pada 1960, saat revolusi kemerdekaan mulai menemukan bentuknya sebelum diguncang tragedi berdarah pada 1965, novel itu diselesaikan pengarangnya dalam waktu sebulan (Wikipedia.org, 1/8/2015).

Ziarah berpusar pada tiga tokoh utama: (bekas) pelukis yang ditinggal mati istrinya, opseter (pengawas) pekuburan, dan walikota. Tokoh (bekas) pelukis merepresentasikan kehidupan para seniman yang cenderung urakan. Sementara kedua tokoh selanjutnya merepresentasikan kehidupan para pamong praja, PNS, atau birokrat yang statis dan cenderung membosankan.

Walikota adalah tipikal manusia idealis yang benci dengan masyarakatnya yang “kerdil, dekil, pandir, bernaluri makan dan pakaian saja, tak lebih”. Cita-citanya sebelum memutuskan menerima pemilihannya sebagai walikota adalah untuk membasmi masyarakat yang hanya mementingkan makan dan pakaian itu.

Namun, cita-cita yang sungguh mulia itu akhirnya luntur oleh kultur yang berlaku, yaitu mentalitas birokrat pada umumnya, dan hidupnya sehari-hari dipenuhi dengan pekerjaan merobek amplop dinas, membaca surat dinas berstempel, katebelece, sebentar-sebentar melihat arloji, telepon yang bedering-dering, dan tamu-tamu yang datang dengan tampang sok pintar dan penting. Ia termakan oleh gagasan bahwa cita-citanya pasti tercapai ‘besok’ dan hal itu justru menjadikannya sebagai pamong praja teladan yang dielu-elukan banyak orang.

Dan sang walikota pun—menyusul pendahulunya yang mati gantung diri di ruang kerjanya—tewas terkapar di jalan, disaksikan oleh warga yang amat dibencinya itu, yang “kerdil, dekil, pandir, bernaluri makan dan pakaian saja, tak lebih”. Tekanan mental yang melandanya begitu hebat sehabis dipojokkan oleh opseter pekuburan dan bekas pelukis dengan komentar-komentar filosofis.

Seruan Menulis. Sang opseter pekuburan lain lagi kisahnya. Ia adalah sejenis manusia terpelajar yang hanya lantaran gairah keilmuannyalah memutuskan menjadi opseter pekuburan. Ia mahasiswa doktoral filsafat berbakat di kampusnya, sampai-sampai profesornya pun berguru kepadanya. Ia pun anak satu-satunya seorang hartawan kaya raya. Profesor dan ayahnya meminta dia untuk berhenti bekerja, meninggalkan pekuburan itu, mengingat bakat dan masa depannya yang cemerlang.

Tapi apa jawaban sang opseter muda? Ia hanya menulis pada secarik kertas untuk profesor dan ayah yang menunggu di luar rumah dinasnya: “Penglihatan saya sehari-hari di lapangan pekerjaan saya yang kini mengatakan kepada saya bahwa harta dan kekayaan berhenti mempunyai arti persis pada tembok-tembok luar dari setiap pekuburan. Selanjutnya, filsafat murni hanya didapat pada suasana di sebelah dalam dari tembok-tembok itu.”

Pada akhirnya sang opseter pun—menyusul pendahulunya yang mati gantung diri dengan meninggalkan catatan bertuliskan “Pamong praja yang baik tidak mempunyai pendapat, tidak mempunyai hati nurani”—mati gantung diri setelah dipojokkan oleh bekas pelukis yang disuruhnya mengapur tembok pekuburan dengan dana pribadinya, sesuatu yang menyalahi administrasi kenegaraan (baca: mentalitas birokrat).

Melalui tokoh (bekas) pelukis, pengarang mengomentari tokoh opseter pekuburan: “Manusia besar, yang bakal tak pernah dicetak namanya dalam buku-buku pelajaran, dan dikuliahkan oleh mahaguru-mahaguru. Sebab, dia tak pernah mengendalikan pena. Dia tak pernah menulis artikel dalam majalah, apalagi dalam surat kabar. Manusia besar ini, filsuf ini, akan berlalu dari dunia ini tanpa apa-apa.”

Iwan Simatupang mengarang Ziarah dengan begitu absurd namun dalam kandungan filsafatnya. Jika dibandingkan dengan sastrawan mancanegara, bolehlah ia disejajarkan dengan sastrawan yang lebih baru seperti Haruki Murakami. Dalam novelnya yang tidak terlalu tebal terangkum persoalan eksistensialisme, satire dan parodi kehidupan manusia.