Suara-suara menggantung di telingaku, 

Sayup-menyayup; seperti reranting pohon yang jatuh ke dasar rumput

Aku hanya mendengar bisu, bahasa kalbu..

Di sepinggir jalanan adalah lengang dan ketakutan 

Kemudian mereka menjelma kota mati, berani merayakan sunyi..

Untuk Tiba di Tujuan

Untuk tiba di tujuan, kita harus membeli udara di siang bolong, memang iklim suka mati dalam bulu hidung, menyaring—bercampur-baur polusi kendaraan. Bernapas melalui sulingan batu bara

Varian vaksin selain virus di sekitar kita, diam-diam bermutasi menjadi anomali. Untuk tiba di tujuan, kita perlu scan identitas; agar mendapat selang gratis dan saturasi oksigen bersih.

Gedung Kesenian di Kota Pembual

Sebuah panggung nihil orkestra. Para musisi luntang-lantung mengumpulkan bekas alunan lagu di telinganya. Gagasannya bermulut besar; tumpat di tempat

Di pintu masuk, tercium bau busuk. Seorang maestro terbuai eksistensi. Ia meninggi karena berbeda. Merasa asing beribu-ribu manusia, dan melupa utang budi di sekitarnya

Lalu mereka bernyanyi tentang kesedihan. Sebab sakit hati yang berbekas. Tetapi audiens tak mendengar makna batin, melainkan suara mikrofon yang terbanting ke dasar lantai. Kosong.

Catatan Singkat: Jam, Waktu, dan Palang

Jam masih menunjuk kebiasaannya; untuk berputar kembali, ia harus melampaui laju sinar cahaya dalam kilometer per detik

Jarum jam berhenti berdetak; untuk berputar ke sana kemari, ia harus mengutak-atik kemungkinan rangkaian masa depan

Jam telah rusak dilekat paku dinding, bel alarm tak bernyanyi dalam jarak peringatan di sekitarnya.

/
Waktu itu kau sedang mengeja, tepat pada Desember yang buram dan mencecak

Bulan yang tidak aku suka ketika orang-orang melantangkannya di mana pun. Kapan pun. Apapun tentang bulan ini, gaungnya bergentayangan di sekujur badan

November selalu menjadi yang terakhir di gumamku. Selalu berakhir; di gagu dan mulutku sendiri.

/
Palang titik berkumpul; menyungkup.
Datang menjadi pulang—pulang menjadi asing. Memoar orang terpacak di
perjalanan. Jauh mereka berjalan melanggang kaki. Jauh semua berhenti menghapus lokasi.

Makam Kendaraan 

Mayat-mayat kendaraan terkapar
Bangkai-bangkai onderdil tergeletak
Di tanah kering, nyawa manusia meledak
Semua yang tak terlihat, telah diselimuti keraguan dan semak belukar

Ular-ular bersarang, burung-burung bersangkar
Melihat ada ekosistem di luar sana, seperti mengumpulkan massa binatang
yang menolak masa depan

Di ujung kicauan gagak
Mereka melakukan rituil
Semacam kematian;
Tentang larangan-larangan manusia robotika

Perlawanan ekologi dengan teknologi akan segera tiba
Hukum alam itu lalu bangkit mendominasi, seluruh kecanggihan fana akan berkarat di dunia riil nanti.

Dari Selatan Aku Hanya Pendatang

Aku hendak berlayar ke tubuh-Mu menyaksikan kedigdayaan lampau dan keruntuhannya hari ini

Aku kehilangan tubuh dari ribuan purnama silam. Tak ada yang bisa menafsir pada debur ombak yang merangkul sunyi ajalku

Sampai kujilat sepenuh luka tubuhku
namun, selalu gagal membaca nasib dan rute rahasia-Mu

Kali ini aku pulang dengan sia-sia.
Di laut aku bukan apa-apa dan siapa-siapa 

Aku kembali alpa dan nanar. Tapi, karena kemutlakan itu, tetap saja aku adalah pejuang di daratan.

Ketidakpastian

Ketidakpastian—serupa garis yang tak diberi penggaris kelurusannya
Belok, melonjak-lonjak, menukik, berbalik-tabrakan

Ketidakpastian—seperti barisan kata yang menolak untuk diucapkan
Lompong, mengigau uapan
Kosong, merangkul ketidaksadaran

Ketidakpastian—di dalamnya, tak terbentuk proporsional antara aku dengan "aku"
Tetapi antara kita
Dan mereka
Yang meruntuhkan batas-batas kesempurnaan duniawi; selain diri-Nya

Ketidakpastian—sebelum dan seusai di nadirat ini.

Takut Berhenti

Harus kutinggalkan diriku sendiri
Meski sepanjang tanggal telah menyembunyikan angkanya kembali

Waktu yang berhenti,
Tahun mati dalam tenaga matahari
Kabut, abu-abu, dingin, hiruk-pikuk membeku

Aku berjalan di sekitar jeda kemanusiaan
Orang-orang berhenti tertawa
Orang-orang termangu melihat masa depan

Tapi masih kupangku sebuah kepastian..
Walau kaca-kaca air matanya
Kering disapu udara

Tidak ada yang melewatiku hari ini
Berlalu-lalang miliaran manusia berhenti
Masih saja aku sejurus menjalani kehidupan
Masih tak kutemukan jejak-jejak bergerak menanggalkan kerumunan.

Antropomorfik Digital

Apakah setelah kematian,
ada jiwaku di luar sana?
Aku ingin meraihnya, ingin..
tapi tak dapat kujangkau dirinya!

Tubuhku seperti identity antropomorfik digital
Mengarsir dunia nyata yang tak nyata
Imajinasi menjadi ada  
Menciptakan sesuatu
Yang khayali dan tak terlihat
Layaknya avatar yang dibutakan
Kian menerjemahkan hitam-putih interpolasi

Opsi bergerak-memilih-menukar-bergantian Opsi berubah-memilih-menukar-bergiliran

Kutemukan diri-Mu ditubuhku
Aku kehausan kuasa-Mu

Kutemukan diri-Mu di tubuhku
Jatuh di tubuh lain; aku menjadi asing
Seperti paralel historis, terombang-ambing arusku tak berhenti, berpola tersesat tak hati-hati.

Gabir

Manakala Tuhan canggung
laut pun enggan digulung-gulung
ketika terabar asa-asaan
semu aurora berkilap gelap

Pagi menjadi ragu
jalan menjadi merah
manusia memperbabu
yang lain bertindak pasrah

Kata dogma
kiri selalu buruk
kanan itu baik
mereka diperintah untuk memilih salah satunya

Tapi apa daya kami
yang abu-abu
dan memilih berjalan ke depan

Tak lagi kiri
tak mau kanan

Yang ada hanyalah kegirangan mereka
membelontang semua martabat kehidupan.