Tulisan ini adalah sambungan dari artikel saya yang telah terbit sebelumya yang berjudul “Agama dalam Titik Rawan”. Dalam artikel itu saya mencoba mempresentasikan beberapa fakta mengenai kemorosotan nilai fundamental agama sehingga mengantarkannya pada kulminasi kerawanan akut.

Dalam artikel ini saya mencoba menawarkan sebuah perspektif singkat dalam rangka melakukan proyek revitalisasi agama. Revitalisasi ini penting mengingat keberadaan agama yang akhir-akhir ini semakin terancam. Ia tidak lagi menjadi elan vital dalam guliran peradaban yang semakin bergerak cepat.

Agama kehilangan sentuhannya pada zaman yang semakin rasional, sekuler dan liberal. Berikut ingin saya paparkan beberapa poin penting yang menjadi masalah kenapa vitalitas agama semakin memudar dan bukan tidak mungkin pada beberapa abad ke depan, agama akan hilang.

Progresifitas zaman yang semakin maju

Gerak maju milenium 21 yang membawa semangat post-modernisme, telah melahirkan sebuah pemandangan peradaban yang tidak pernah terkirakan sebelumnya. Sejarah mencatat bahwa tidak pernah ada satu zaman yang secara massif sukses melakukan berbagai akselerasi pembangunan, selain era yang dikenal dengan abad cybernetyc millenium ini.

Gaung pembebasan, hak asasi manusia, keadilan disuarakkan dengan lantang di mana-mana. Marwah perempuan yang pada awalnya jauh dari derajat lelaki, pada era ini kesataraan itu diperoleh. Sebuah pemandangan yang cukup mengejutkan dalam rekaman sejarah, mengingat dari masa-masa sosok perempuan hanyalah sebuah realitas-subordinatif yang basis geraknya hanya dalam spektrum domestik. Namun pada abad ini, wanita telah keluar dari spektrumnya dan sama-sama memperoleh hak-haknya sebagai manusia.

Zaman yang seperti ini meniscayakan agama untuk senantiasa berupaya masuk dalam tiap jengkal kehidupan, mengingat manusia dengan kemajuan luar biasa abad ini telah banyak meninggalkan nilai-nilai agama. Ditambah dengan lahirnya tuhan-tuhan baru yang semakin membuat manusia menjadi merasa bahwa Tuhan yang ada dalam konsep agama sudah tidak ada.

Tuhan dalam agama seolah tampak gagal memberikan kontribusi mutakhir demi menunjang kehidupan manusia yang semakin merengsek menuju kesempurnaan sebuah peradaban. Ini terbukti dengan masih belum beranjaknya doktrin keagamaan konvesional yang ada dalam masing-masing tradisi agama.

Gerakan kontra HAM, kebebasan beragama, keadilan dan kesataraan gender serta diskursus modern lainnya memperoleh tantangan yang cukup keras dari agama. Doktrin agama-agama menjadi sandungan bagi terus bergulirnya nilai-nilai kemanusiaan yang diperjuangkan secara konsisten oleh aktivis-aktivis sosial.

Gerakan kontra-modern dalam masing-masing agama inilah yang pada perkembangan berikutnya berimbas pada sikap serba kritis bahkan anarkis terhadap wacana pembebasan serta kemanusiaan yang pada era ini semakin semarak.

Agama dengan pemahaman ini berupaya untuk menjadi sebuah antitesis terhadap progresivitas zaman, sehingga alih-alih ingin menjadi semangat pembebasan, malah semakin membelenggu manusia dengan pemahaman sempit yang lahir darinya.

Hal ini tergambar lewat fenomena masih mengakarnya gerakan-gerakan yang berkedok agama namun menindas manusia serta bertindak sewenang atas dasar nilai-nilai agama.

Ketidaksanggupan agama dalam memberikan konfirmasi terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang bergulir pada milenium ini, berimbas pada lahirnya sebuah streotip agama era modern, bahwa agama tidak pro kemanusiaan, keadilan, kesetaraan dan beragam derivasi pemikiran lainnya.

Akibatnya, agama banyak ditinggalkan karena manusia mulai banyak kehilangan kepercayaan terhadapnya. Manusia modern adalah manusia rasional, di mana berbagai bentuk kemapanan berpikir ditelaah secara kritis dengan mengusung satu nilai universal yakni kemanusiaan.

Nilai kemanusiaan ini menjadi perbincangan yang paling seksi karena vitalitas-esksistensinya yang universal dalam menunjang sebuah peradaban terbaik yang menjadi cita-cita semua orang.

Sentralitas manusia ini merupakan sebuah konstruksi sejarah, mengingat rentetan kegagalan manusia pada masa-masa sebelumnya adalah kegagalan dalam menata dan membuat sejarahnya sendiri.

Lahirnya kesadaraan individu tentang sentralitas manusia telah memantik ledakan sebuah peradaban yang mengusung nilai-nilai kemanusiaan sebagai basis tertinggi. Dari sinilah manusia merasa memperoleh kebebasan tertinggi sebagai individu.

Manusia memperoleh angin segar untuk menunjukkan ke muka dunia bahwa mereka ada dan berhak mengukir sejarahnya sendiri.

Fakta modern di atas meniscayakan semua agama untuk terus berbenah melakukan rekonstruksi dan introspeksi serta otokritik yang dapat menunjang nilai pembebasan, perdamain dan kemanusiaan sebagai direct point-nya.

Jika agama masih belum sanggup menyuguhkan nilai humanisme (kemanusiaan) dan derivasinya ini sebagai sebuah doktrin sentral, maka agama akan semakin berpotensi ditinggalkan.