Sore itu gedung The royal Institution di kota London dijejali pengunjung. Orang beduyun-duyun memasuki aula untuk mendengarkan sebuah ceramah. Pembicara sore itu adalah seorang sejarawan dari Israel, Profesor Yuval Noah Harari. Dia sedang bekeliling mempromosikan buku barunya di beberapa kota di Inggris.

Nama Yuval Noah Harari sempat melejit beberapa tahun kemarin lewat bukunya Sapiens yang bercerita tentang sejarah manusia. Kali ini, dia kembali mengeluarkan buku baru bertema sejarah. Namun observasinya mengarah ke masa depan. “Sejarah sering bercerita tentang masa lalu hingga hari ini” ujarnya. “Tapi tidak banyak yang bercerita tentang apa yang akan terjadi sesudah itu”.

Dalam pembukaanya, Harari mewanti-wanti bahwa dia tidak berbicara tentang sesuatu yang pasti terjadi. Apa yang dibahasnya adalah pengamatan dia tentang hari ini, dan kemungkinan apa yang bakal terjadi di masa depan. Dengan logat Israel yang kental, Harari mengingatkan pengunjung aula sore itu, mereka sedang menghadapi sebuah episode penting dalam sejarah manusia.

Harari percaya bahwa umat manusia sedang mengalami transisi besar-besaran. Dari wujud organik, Homo Sapiens (kita) akan berevolusi menjadi wujud non-organik. Mendengarkan ceramahnya persis seperti menyimak cerita fiksi ilmiah di film-film Hollywood. Namun, pendapat ini keluar dari seorang profesor jebolan Oxford yang mengajar di kampus paling bergengsi di Timur Tengah, The Hebrew University of Jerusalem.

Harari tidaklah sendirian. Banyak pemikir lain yang berbicara hal serupa. Manusia sedang menghadapi perubahan radikal sebagai akibat dari kemajuan Iptek.

Pemikir lain yang senada dengan Harari adalah Ray Kurzweil. Dia seorang inventor kenamaan yang sekarang menjabat sebagai direktur teknologi di Google. Kurzweil adalah seorang jenius nan eksentrik. Dia tidak sungkan menyebutkan keinginannya untuk tidak pernah mati.

Kurzweil terkenal dengan pemikirannya tentang singularitas. Singularitas adalah suatu masa dimana kemajuan teknologi yang sangat cepat akan membawa peradaban manusia ke era yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Berbeda dengan Harari yang merupakan sejarawan, Kurzweil adalah seorang pakar teknologi. Dia bercerita dengan gamblang tentang peta jalan evolusi manusia dilihat dari sisi kemajuan teknologi.

Dalam bukunya yang terkenal The Singularity is near, Kurzweil berpendapat bahwa manusia sekarang menghadapi epos ke lima. Epos dimana manusia dan mesin akan menjadi satu. Menurut dia, hal ini akan terjadi sebagai akibat dari kemajuan di tiga bidang: Genetika, Nanoteknologi dan Robotika.

Bidang genetika adalah bidang yang diharapkan membantu umat manusia menaklukan segala jenis penyakit, temasuk penuaan (ageing). Sedangkan Nanoteknologi memungkinkan kita untuk memanipulasi objek dalam skala atom dan molekul. Nanoteknologi dipercaya akan berkontribusi besar pada bidang kesehatan, industri dan lingkungan.

Robotika adalah topik yang paling hangat diperbincangkan sekarang ini. Para ahli di bidang kecerdasan buatan memprediksi kehadiran Suprintelligence di masa depan. Artificial intelligence (AI) yang kecerdasannya melampui manusia dipercaya akan mengantarkan kita pada Singularitas.

Ketiga bidang tesebut akan mentransfomasi umat manusia dari mahluk organik menjadi Non-organik (Posthuman). Melalui ketiga teknologi tesebut, spesies manusia baru akan lahir. Spesies tesebut merupakan kelanjutan dari evolusi manusia sebelumnya.

Namun para futuris ini sepakat akan satu hal. Transisi dari wujud organik (human) ke wujud non-organik (posthuman) bukan tanpa resiko. Akan ada banyak bahaya yang mengintai. Baik itu yang berasal dari teknologi ataupun manusia.

Dari sisi teknologi, ambil contoh misalnya kecerdasan buatan. Para ahli memprediksi bahwa penggunaan AI dalam waktu dekat akan menimbulkan pengangguran besar-besaran. Pekerjaan yang sifatnya repetitif akan mudah digantikan oleh algoritma.

Pada era Revolusi Industri, mesin mampu menggantikan tenaga manual manusia. Akhirnya manusia beradaptasi dengan menemukan jenis pekerjaan baru yang sedikit menggunakan tenaga manual. Tetapi, hal serupa tidak akan terjadi di era Revolusi Industri keempat (Ini istilahnya Klaus Schwab).

Harari beropini bahwa era yang kita hadapi sekarang ini sama sekali berbeda. Menurut Harari, Manusia hanya memiliki dua jenis modal: tenaga dan pikiran (kognitif). Ketika pekerjaan manual mulai berkurang manusia dengan mudah hijrah pada pekerjaan yang sifatnya kognitif.

Sedangkan di era baru, dimana mesin mulai mengimbangi kemampuan kognitif manusia. Ini mengancam satu-satunya modal terakhir manusia. “Apa yang akan dilakukan ketika AI menggantikan pelayan toko, dokter, sopir bahkan pengacara? Apa yang akan dilakukan dengan jutaan tenaga manusia yang tidak berguna?” Dengan nada  retoris Harari bertanya.

Pengunjung yang mulai gelisah mulai mengajukan pertanyaan “apa yang harus dilakukan agar manusia bisa bertahan di era tersebut?”. Satu-satunya jawaban Harari adalah manusia harus menginvestasikan dirinya untuk mengasah kecerdasan emosional. Karena ini masih jauh dari jangkauan AI. Setidaknya untuk jangka waktu dekat.

Bahaya lain yang timbul dari transisi ini adalah bahaya yang datang dari manusia itu sendiri. Diperkirakan kelompok radikal baru akan muncul. Mereka akan menolak kemajuan teknologi seperti halnya kaum Luddite yang menolak penggunaan mesin di Inggris pada abad 19.

Perubahan dari bentuk organik menjadi non-organik akan dianggap sebagai hal yang tidak alami oleh sebagian orang. Kelompok tertentu akan menolaknya berdasarkan keyakinan agama atau alasan ideologis lainnya. Tidak menutup kemungkinan mereka yang termarjinalkan akan menyalurkan rasa frustasinya dengan jalan kekerasan. Hugo de Garis dalam bukunya The Artilect war mendeskripsikan dengan jelas tentang potensi konflik tersebut.

Sore itu, ketika acara kuliah umum selesai, saya meninggalkan aula dengan perasaan sedikit lunglai. Sulit membayangkan kondisi yang akan dihadapi masyarakat dengan minat baca paling rendah ke dua di dunia. Yang terbayang adalah saudara, teman dan keluarga dekat. Apakah mereka siap dengan perubahan besar yang akan terjadi?