Adalah sangat menyesakkan hati, melewati masa yang penuh ironi ini. Satu kelompok beradu dengan kelompok yang lain. Masing-masing golongan merasa paling benar dibandingkan yang lainnya. Tiap-tiap individu merasa perlu menetapkan prasangka atas individu lain dan kemudian berujung penghakiman sekehendak pribadi.

Semua terjadi begitu saja. Mengalir apa adanya bahkan nyaris mewujud sebagai budaya massa. Tanpa mereka benar-benar bisa tahu dan mengerti mengapa mereka harus saling membenci.

Salah satu "pembenaran" yang sering dijadikan alasan mengapa dewasa ini perpecahan rentan terjadi adalah "perbedaan". Perbedaan dalam hal apapun. Saat suatu kubu atau seorang individu tak menyukai kubu/individu lainnya, mereka tak perlu alasan muluk tuk menjelaskannya. Cukup dengan merasa dan meyakini bahwa "karena kita tak sama", maka bereslah semua. Kebencian mendapatkan dalilnya yang pertama.

Mencoba menerka siapa yang menjadi pelopor kebencian antar-golongan ini ibaratnya seperti mencari tahu siapa yang tercipta terlebih dahulu di alam semesta antara ayam atau telur. Apakah ada telur yang menetaskan ayam ataukah ada ayam yang bertelur? Sungguh sulit bukan main dan sekaligus sia-sia!

Melalui analogi ini, saya hanya ingin membuka tulisan ini dengan pesan di awal: bahwa bukan hal yang begitu penting untuk mencari-cari jawaban (baca: mencari-cari pembenaran untuk mengunggulkan diri/golongan kita), jika rasa saling menghormati dan tujuan menciptakan kedamaian di bumi harus dipertaruhkan sebagai bayarannya.

Di negeriku yang berpredikat agung "Nusantara" dengan cita-cita luhurnya menyatukan segenap bangsa ini, benturan-benturan sosial yang beratasnamakan perbedaan tengah menjadi primadona dalam beberapa waktu terakhir. Yang sama dalam skala mayor merasa "di atas awan" dan beberapa di antaranya giras menghegemoni yang berbeda dalam skala minor (ini berlaku di seluruh lini kehidupan, tidak mengerucut pada satu topik tertentu).

Yang lebih parah, jika hegemoni ini sudah sampai pada level ter-waspadanya, penganut paham mayoritas tanpa batas dapat saja berniat untuk menyeragamkan segala sesuatu sesuai dengan apa yang menurutnya patut dan benar, sehingga apapun yang “melenceng“ dari pemakluman Mayor, wajib ditundukkan dalam “persamaan“.

Padahal dalam waktu yang sama, penyeragaman/persamaan ini berpotensi menendang sejauh-jauhnya harapan akan “persatuan“ yang sering kali didengungkan.

Setali tiga uang dengan kedigdayaan kubu mayor, sentimen atas perbedaan-pun lama-kelamaan juga akan menjangkiti kehidupan kubu minor. Wacana perbedaan yang kerap dimainkan untuk menyudutkan dan mengalienasinya dalam lingkaran kehidupan sosial, perlahan tapi pasti berkemampuan menumbuhkan perasaan anti-perbedaan dalam dirinya –sekalipun pada mulanya ia adalah pribadi yang tak berintensi apa-apa.

Minor yang tak kuasa menahan kekecewaan inilah, yang ironisnya juga akan menjadi generasi penerus kebencian yang berulang. Bagaimana alurnya?

Secara sederhana bisa kita bayangkan, semisal terdapat individu/kelompok minoritas yang hidup dalam pusaran polarisasi mayor-minor mendapatkan “pembedaan”. Ia kerap membaca, mendengar, dan bahkan mengalami sendiri diskriminasi terhadap dirinya/kelompoknya. Kemudian ia menjadi gelisah layaknya air sungai yang tenang, namun berubah penuh riakan karena banyak batu yang terlempar di sungai itu.

Ia merasa tersudut. Ia merasa tak lagi berarti menjadi seorang yang menghargai karena ia juga tak dihargai. Ia menjadi benci. Benci pada yang memusuhinya dan perlahan tersirat dendam pada semua yang serupa identitas/ras/suku/agama dan lain sebagainya dengan yang mendiskriminasinya itu, tak peduli yang ia turut benci adalah orang yang berbeda, pun tingkah laku dan tuturnya.

Jika orang yang ia benci merasa tak terima, maka kebencian ini akan memanjang secara konsisten menggelayuti individu-individu baru semacam rantai besi kokoh yang sulit teredam sampai kapan pun.

Itulah realita kehidupan manusia kini. Tak hanya di Indonesia, rantai kebencian antar-yang berbeda juga telah menjangkiti hampir di seluruh dunia. Rantai ini menjalar dan menular pada siapa saja yang bernama manusia, tanpa pandang bulu. Ia melenggang bebas semacam virus mematikan yang susah diobati, kecuali dengan antibodi alami yang terus-menerus dipelihara manusia dalam kehidupannya, yaitu “kelapangan hati dan kejernihan pikiran”.

Masing-masing dari manusia harus mempertahankan ke-radikal-annya akan pemahaman esensial mengenai keniscayaan perbedaan. Apa itu keniscayaan perbedaan? Ia adalah bukti kuasa Sang Pencipta yang dapat kita inderai melalui adanya beragam jenis makhluk hidup, negara, budaya, bahasa, agama, cuaca, bahkan bentuk rupa manusia sekaligus sifat-sifatnya.

Jika manusia bersedia sesederhananya memahami bahwa yang bernama pohon mangga, antar satu dengan yang lainnya tak mesti berdaun dengan jumlah sepadan, maka dengan berbesar hati, kita akan sama-sama memaklumi bahwa meskipun sama-sama manusia, antar satu dengan yang lainnya dianugerahi oleh bentuk, karakter, dan jalan pilihannya masing-masing.

Kita tak dibenarkan membenci dan atau melampiaskan dendam pada mereka yang berbeda karena kita tak senantiasa menemaninya menjalani kehidupannya di masa lalu dan masa kini. Jadi kita tidak berhak menetapkan penilaian mutlak pada diri mereka yang “lain” daripada kita tersebut hanya berdasarakan “kenampakan luarnya”.

Saya sangat percaya, Tuhan-pun tidak ingin kita berselisih hanya karena berbeda. Sebagai seorang Muslim, ijinkan saya mencatut salah satu potongan firman dalam Al-Qur’an yang berlaku universal untuk dijadikan “kompas” kehidupan kita bersama, bahwa:

sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikanNya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu dengan pemberianNya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukanNya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.” (Q.S. Al-Maidah ayat 38)

Maka sebenarnya telah diwartakan, tidaklah penting perselisihan itu. yang darurat dilaksanakan adalah sebanyak-banyaknya kebajikan.

Namun jika misalnya salah satu dari kita menjadi contoh manusia yang terdampak kebencian itu tanpa melakukan kesalahan apa-apa, maka ayat ini dapat menjadi obat penenangnya:

tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya perbuatan yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (Q.S. Asy-Syura ayat 43)