Saat sekolah, penulis masih ingat ketika dulu berkumpul di warung dekat SD saat jam istirahat. Telepon seluler (ponsel) masih suatu yang asing, tapi beberapa mereka yang keuangannya mapan sudah memilikinya. Hari itu, salah satu teman penulis menunjukkan suatu video di ponsel miliknya. Tentu bukan video bokep, melainkan video seorang anak (katanya) dikutuk ibunya karena durhaka.

Dalam video dengan resolusi rendah itu, terlihat (katanya juga) seorang anak yang berubah jadi manusia pari setelah durhaka menendang ibunya yang sedang menjalankan shalat. Kengerian dan teror adalah kesan yang dirasakan kami yang menonton. Ada semacam perasaan jera berkat keluguan kami. Banyak dari kami yang kemudian rajin shalat dan tidak berani menentang orangtuanya, meski kebanyakan hanya sesaat waktu saja.

Selain video itu, penulis juga pernah ditunjukkan (lagi-lagi lewat telepon seluler) oleh teman di TK Al Qur’an cerita tentang anak perempuan yang dikutuk menjadi tikus gara-gara memaki ibunya yang tengah membaca Al Qur’an. Katanya peristiwa itu terjadi di Timur Tengah, tidak jelas negara mana. Tampak foto seseorang yang bertubuh manusia dan berwajah tikus di atas tulisan itu. Sekali lagi, penulis dan teman-teman ketika itu merasa bergidik.

Tentu kami masih lugu saat itu dan belum bisa mencerna dengan kritis kisah-kisah tersebut. Bagi kami itu pelajaran mengenai keshalihan. Siapa pun yang tidak shalih akan menerima ganjarannya, termasuk menjadi mahkluk yang, yah, disfungsional secara biologis dan sosial.

Seiring penulis beranjak dewasa, baru lah penulis mengetahui kenyataannya. Manusia pari dalam kisah pertama adalah ikan pari hasil tangkapan yang diletakkan terlentang. Perempuan tikus dalam kisah kedua ternyata adalah patung hasil karya seorang seniman di Jerman yang dipajang dalam pamerannya mengenai absurditas manusia.

Kedua narasi tersebut pada dasarnya adalah kebohongan, karangan, fiksi belaka. Kisah-kisah itu hanya semacam cautionary tale untuk mendidik anak-anak dengan rasa takut. Ironis dan menggelikan, jika mengingat penulis diajarkan keshalihan melalui kebohongan. Kebohongan bukan bagian dari keshalihan, sehingga membangun keshalihan dengan kebohongan adalah hal yang ganjil, bahkan mendekati kemunafikan.

Penulis secara pribadi kini menjadi seorang skeptis setelah dulu merasa dibohongi lewat narasi-narasi tersebut. Meski begitu, narasi azab tetap menjadi hal yang populer hingga kini, seusang dan seabsurd apa pun dia diceritakan. Masyarakat kita tetap menerimanya seakan-akan narasi itu nyata.

***

Awal milenium kedua televisi kita diramaikan oleh beberapa sinetron-sinetron religi bertemakan azab. Bak cendawan (dan kutu air) di musim hujan, wajah-wajah manusia yang sekarat dengan keadaan mengerikan menghiasi televisi kita. Ada yang berdiri selama bertahun-tahun di depan rumahnya setelah ibunya yang didurhakainya wafat. Ada seorang pengusaha tamak yang sekujur tubuhnya membusuk.

Untuk di dunia percetakan, majalah “Hidayah” menjadi semacam “pelopor” dalam menyajikan kisah-kisah serupa. Beberapa kisah dimuat oleh kontributor-kontributor yang mengisahkan kembali “kesaksian” pihak ketiga terhadap azab pedih beberapa orang di akhir hayatnya. Ambil lah contoh dari cerita Mbah Karjo (bukan nama sebenarnya, katanya) yang dimuat di “Hidayah” edisi Februari 2006.

Mbah Karjo yang culas mengakali ukuran tanah yang dimilikinya dan menyerobot tanah Mbah Sadeli (juga bukan nama sebenarnya, katanya). Saat sekarat, “bukan saja tubuhnya yang membesar, tapi yang mengerikan adalah...perutnya yang besar dan bulat bak buah semangka yang besar”. Saat dimakamkan, kejadian yang tidak kalah aneh terjadi: liang kubur Mbah Karjo berair dan terus menerus ambles. Tragis.

Seperti kisah “manusia pari” dan “gadis tikus”, kisah Mbah Karjo adalah suatu cautionary tale. Kita diajarkan untuk berbuat jujur jika tidak ingin menerima siksa di kemudian hari. Namun, bisa kah kisah seperti itu diuji kebenarannya? Tentu kisah-kisah seperti di “Hidayah” bukan lah jurnalisme yang faktual.

Kata-kata “dikisahkan”, “sekitar”, “tersebutlah” atau “mungkin” sering muncul dalam tulisan tersebut. Ada semacam ketidakpastian yang kadang mengindikasikan bahwa cerita-cerita itu hanya karangan atau spekulasi belaka tentang keadaan seseorang di akhir hayatnya. Misalnya, dalam cerita Mbah Karjo, bisa saja perut menggelembung si tokoh utama adalah akibat penumpukan cairan. Penumpukan ini terjadi karena gaya hidup (yang tentu tidak diceritakan), bukan karena perbuatan jahatnya.

***

Ada satu hal yang menarik ketika penulis membaca “Hidayah” di edisi yang sama dengan cerita Mbah Karjo di atas. Dalam salah satu artikel mengenai tren rukyah ketika itu, terdapat kutipan wawancara dari cendikiawan Muslim, Prof. Komaruddin Hidayat. Dalam wawancaranya, Prof. Komaruddin berkata bahwa: “otak senang dengan hal-hal yang kurang masuk akal, seperti sulap, cerita misteri...Makanya cerita-cerita yang kurang masuk akal apalagi dikaitkan dengan agama, akan menjadi tontonan menarik tersendiri". Ah, ironi...

Kata kunci dari narasi azab adalah sensasionalisme. Sesuatu yang berlebihan adalah umpan yang menarik orang untuk memperhatikan. Gaduhnya atraksi tukang obat di pinggir jalan selalu mampu menarik kerumunan, setidak masuk akal pun pertunjukkannya. Tujuan mereka bukan atraksi itu sendiri, melainkan mengumpulkan kerumunannya. Setelah kerumunan berkumpul, baru lah di akhir mereka menawarkan obat-obat (setidak jelas apapun komposisi dan kegunaannya).

Seperti itu pula narasi azab bekerja. Dia digunakan untuk menarik perhatian pembaca. Penulis sendiri merasa peran moral yang disampaikan hampa karena memang kebenaran cerita-ceritanya tidak bisa dibuktikan. Tapi seburuk apapun penyampaiannya, tetap ada yang mempercayainya dan ada pula yang menikmatinya.

János László dalam bukunya, “The Science of Stories: An Introduction to Narrative Psychology” (2008) mengatakan jika “narasi selalu menciptakan kenyataannya sendiri”. Narasi azab akan berusaha membentuk realita bahwa “sebuah tangan tersembunyi yang menolong orang baik dan menghukum orang jahat” benar adanya. Bahkan suatu cerita yang benar terjadi sekalipun dapat diterjemahkan untuk dapat sesuai dengan narasi itu sendiri.

Penulis ingat bagaimana dulu banyak yang mengaitkan kejadian sekitar wafatnya cendekiawan Muslim Nurcholish Madjid, atau Cak Nur, sebagai suatu azab. Jasad Cak Nur yang sedikit menghitam sebagai akibat dari gagal liver dan ginjal dikaitkan dengan pemikirannya yang dinilai sebagian orang sebagai “Islam Liberal”. Ini lah realita yang para penikmat narasi azab inginkan untuk terjadi: derita dan rasa malu pada mereka yang tidak sepihak dengan keyakinan atau pemikiran mereka.

Selain itu, penulis juga mengingat bagaimana beberapa orang mensyukuri wafatnya Prof. Sarlito Wirawan Sarwono, yang ketika itu menjadi saksi meringankan dalam persidangan kasus Ahok. Ketika masyarakat psikologi Indonesia berduka atas kepergian guru besarnya, beberapa orang menganggap kematian Prof. Sarlito sebagai “peringatan” atau “pembebasan” supaya sang Guru Besar tidak memihak kepada “sang penista agama”. Memuakkan!

***

Pada 7 Desember 2018 lalu, sinetron “Azab” yang tayang di Indosiar berhasil memenangkan Panasonic Gobel Awards. Reaksi negatif atas absurditas cerita yang ditampilkan ternyata tidak mengurangi popularitas sinetron-sinetron semacam ini. Artinya, narasi azab masih bertahan kuat dalam benak masyarakat kita.

Ketidakmampuan menjelaskan terjadinya suatu fenomena dan kegemaran menggunakan cautionary tale dalam mendidik adalah ‘kombinasi mematikan’ dalam bertahannya narasi ini. Bagaimana seorang bisa menjelaskan berturut-turut terjadinya gempa bumi dalam dua tahun belakangan ini? Bagaimana seorang bisa menjelaskan terjadinya tsunami tanpa gempa?  Akan ada yang berkata “maksiat”, bukan karena aktivitas tektonik dan vulkanik.

Narasi azab tidak ada yang melawan dan media massa seakan memeliharanya. Hal ini menjadi catatan bagi kita bahwa narasi kausal (sebab-akibat) yang ilmiah, yang menjelaskan sesuatu terjadi secara masuk akal, belum membumi di Indonesia. Sains masih menjadi momok. Pertama, karena sains dianggap rumit dan menjemukan. Kedua, karena sains dianggap bertentangan dengan agama.

Problem pertama dapat diatasi dengan membangun narasi ilmiah yang lebih informal dan jauh dari kekakuan. Kita memang tidak memiliki pendidik ilmiah sekelas Carl Sagan, Bill Nye, atau Neil deGrasse Tyson. Namun, menyajikan program sains yang menyenangkan dan santai dapat menjadi solusi. Sayangnya itu sama saja berarti menantang preferensi media-media besar yang lebih senang sensasionalisme daripada edukasi.

Sementara, problem kedua hanya bisa dipecahkan dengan membentuk masyarakat melek sains dan orientasi pendidikan berbasis ilmu pengetahuan. Hal ini akan membutuhkan keberanian besar bagi pendidik dan pemerhati sains dalam mendebat narasi keagamaan yang cenderung sempit serta menentang secara terbuka pseudo-sains seperti yang diagungkan Harun Yahya (ya, si penipu). Kita harus berani berkata bahwa bukan agama yang membawa peradaban Barat ke angkasa, melainkan ilmu pengetahuan.

Sains dan rasionalisme masih asing bahkan untuk Indonesia di abad 21. Ini kedaruratan yang perlu kita sadari. Kita tidak perlu lagi membiarkan narasi azab untuk bertahan; kita harus memeranginya. Narasi azab adalah deteksi awal bahwa masyarakat kita tengah menghadapi stagnasi pikiran. Untuk itu lah kita perlu dan harus mendidik generasi muda kita untuk menggunakan akal sehat.

 Dan melihat kendala-kendala tersebut, penulis merasa hal itu tidak mudah dilakukan. Tapi, itu bukan berarti tidak mungkin. Kini sains lah jawabannya, untuk memecahkan kebuntuan pikiran, kurangnya empati dan ketidaktentuan dalam menghadapi fenomena alam yang dihasilkan dari narasi azab. Narasi azab, bagaimana pun caranya, harus lenyap demi keselamatan bangsa dan kehidupan kita.***