Prof Rhenald Kasali seorang guru besar bidang ilmu manajemen dari Universitas Indonesia, sekaligus sebagai founder Rumah Perubahan dalam channel youtube-nya mengatakan selama masa pandemi ini setidaknya ada 10 ledakan ekonomi dan kehidupan. Salah satu ledakan yang menarik untuk dibahas adalah apa yang disebut dengan ledakan non degree.

Hari ini banyak sekali orang-orang hebat yang mendapatkan ilmunya secara non degree (tanpa gelar pendidikan tinggi) dan mereka bisa mempraktekkannya dengan lebih baik ketimbang kita yang berpendidikan tinggi.

Sebut saja misalkan seorang anak muda yang sangat populer saat ini yang memiliki kemampuan berbahasa asing dengan cara belajar autodidak yaitu Fiki Naki. Dia telah mampu berkomunikasi dengan baik setidaknya dalam 8 bahasa asing, dan mempertontonkan kepada kita saat bercakap-cakap dengan banyak wanita dari berbagai negara dalam konten youtube-nya dengan memanfaatkan aplikasi Ome TV yang sedang diminati banyak anak muda.

Apa yang dilakukan Fiki Naki belum tentu dapat dilakukan oleh orang yang sekolah di fakultas sastra misalnya jurusan sastra Inggris, sastra Perancis, sastra Jerman dan sebagainya belum tentu mereka bisa bercakap-cakap dalam bahasa yang mereka pelajari apalagi menulis dalam bahasa itu.

Selain Fiki Naki, ada cukup banyak orang yang diuntungkan dengan adanya dunia online untuk belajar tentang coding dan cara-cara baru untuk meretas situs kemudian menjadi konsultan cyber security. Dalam kasus ini kita sebut saja Putra Aji, siswa yang dulu masih berpendidikan SMP di Jakarta.

Dia mendapatkan ilmu hacker-nya bukan dari sekolahnya. Bagaimana mungkin di SMP ada guru yang mengajarkan hal itu, tapi dia mendapatkannya dari dunia online secara non degree dan setelah itu dia berhasil menjebol situs KPU dan NASA tapi dia bermaksud baik, dia memberitahu dan pada akhirnya kemudian ia diangkat menjadi konsultan IT security di sejumlah lembaga termasuk perusahaan, diantaranya ada beberapa bank dan sejumlah perusahaan logistik.

Kemudian Prof Rhenald Kasali mengatakan bahwa menurut UC Berkeley Extension pada tahun 2020, ada 32% mereka yang berpraktek sebagai personal cyber security ternyata tidak memiliki gelar sarjana. Perusahaan yang mendapat layanan mereka ternyata puas dan merasa aman dengan pekerjaan mereka.

Masih banyak lagi orang-orang yang telah berhasil dan mampu meningkatkan skill-nya serta telah mampu meningkatkan income personal-nya secara cepat dan membuatnya menjadi jutawan bahkan milyader melebihi apa yang dilakukan orang-orang dengan pendidikan tinggi pada umumnya.

Perlukah Berpendidikan Tinggi?

Jika melihat fenomena di atas, kemudian mungkin akan ada anggapan sebagian orang yang akan mengatakan bahwa tidak perlu lagi sekolah tinggi, cukup belajar sendiri dari dunia online maka ilmu pengetahuan akan mudah didapatkan dan skill akan mengalami peningkatan. Apalagi banyak kita temukan orang yang berpendidikan tinggi tak lebih baik dari yang tidak berpendidikan tinggi bahkan banyak sarjana yang menjadi pengangguran di negeri ini.

Benarkah pendidikan tinggi secara formal di era serba online ini tidak lagi dibutuhkan? Jika ada anggapan seperti itu mungkin perlu diluruskan karena berbagai alasan, misalnya tidak semua orang memiliki kemampuan belajar autodidak, kemudian penggunaan internet jika tidak dibekali dengan pengetahuan dan akhlak maka justru akan banyak kemudharatan yang didapatkan, seperti akan mudah terjerumus dalam hal-hal negatif.

Kita harus akui bahwa tidak sedikit dari masyarakat kita yang masih beranggapan bahwa tujuan sekolah tinggi itu supaya bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Sebenarnya tidak salah pandangan ini, tapi tak sepenuhnya benar. Jika hanya mau mencari pekerjaan dan hidup bergelimang harta, tak usahlah sekolah tinggi-tinggi karena dengan berdagang misalnya bisa diwujudkan, tak perlu diberikan contoh, sudah banyak sekali bukti di lapangan.

Kiranya perlu kita pahami bahwa akhir dari pendidikan itu bukan soal materi saja, jika padangan dunia kita seperti itu maka tak ubahnya kita seperti orang-orang yang memiliki pandangan materialisme seperti para ateis yang tak paham agama. Lalu bangga dengan jargon, time is money. Kita harus sadar bahwa hidup ini tak melulu soal urusan dunia tapi juga soal kehidupan akhirat.

Pendidikan itu tujuan akhirnya bukan soal materi semata tapi soal bagaimana kita bisa menjadi manusia seutuhnya, manusia yang mandiri dan berakhlakul karimah yang dapat mengemban tugas sebagai khalifah di bumi sesuai dengan aturan Allah SWT. Pendidikan setidaknya mampu mengubah cara pandang manusia terhadap segala sesuatu dengan lebih bijaksana.

Salah satu tujuan pendidikan itu supaya kita mandiri. Itu artinya jika dikaitkan dengan urusan pekerjaan, maka tak perlu kita menggantungkan diri kepada orang lain. Ketika sudah menjadi sarjana tapi perlu sibuk mencari pekerjaan. Tapi bagaimana kita bisa menciptakan lapangan pekerjaan. Itu yang perlu kita tanamkan dalam diri kita.

Selanjutnya pengetahuan dan kreativitas perlu terus ditingkatkan, tidak hanya mengandalkan dari bangku sekolah semata, tapi juga bisa memanfaatkan dunia online sebagaimana orang-orang hebat yang disebutkan di atas. Internet telah menyediakan begitu banyak informasi dan pengetahuan yang dapat dimanfaatkan seluas-luasnya. Belajar tidak boleh berhenti saat selesai sekolah, tapi belajar itu harus dilakukan hingga akhir hayat.

Jika orang yang berpendidikan tinggi, dan memiliki gelar akademik mampu memanfaatkan internet dengan tepat maka tidak mustahil akan melebih apa yang sudah dilakukan oleh orang-orang yang non degree. Tapi jika tidak mampu memanfaatkan dunia online dengan baik dan tepat siap-siap hanya akan menjadi penonton dan tertindas oleh zaman.