Dewasa ini, timeline media sosial kerapkali dihiasi dengan viralnya postingan tentang kampanye Dildo yang sedang marak. Dildo yang merupakan singkatan dari Nurhadi-Aldo ini telah banyak menarik perhatian berjuta-juta pasang mata di seantero jagat maya. Lucu dan menggelitik adalah kesan pertama ketika postingan tersebut muncul di timeline media sosial. Betapa tidak, ditengah panasnya konstalasi politik yang semakin hari semakin membuat miris, Dildo hadir sebagai penghangat dan mencairkan suasana.

Kehadirannya sedikit banyak telah memberikan pengaruh yang cukup signifikan. Pengaruh yang paling menonjol ialah ketika para milenial mulai menikmati dan mulai akrab dengan konstalasi politik . Meskipun kontroversial, namun Dildo hadir di momen yang tepat. 

Di saat suasana politik pada semakin memanas, memang diperlukan kehadiran suatu alternatif yang bisa mencairkan. Agar mereka yang  belum menyikapi konstalasi pada hari ini, bisa terpacu untuk sesegera mungkin memberikan tanggapan. Di samping itu, agar mereka yang sudah melangkah terlalu jauh menyikapi konstalasi,  bisa sedikit memperbaiki ritme agar tidak salah langkah.

Bapak Nurhadi adalah tokoh yang menjadi inspirasi wajahnya terpampang dalam postingan. Beliau merupakan tukang pijat dari kota kudus. Sosoknya kini menjadi perbincangan Nasional karena viralnya Dildo di dunia maya. Beliau juga merupakan penggagas komunitas "Angka 10". 

Komunitas yang aktivitasnya mengajak masyarakat untuk bershalawat dan mencintai Allah SWT. Lalu istilah "tronjal-tronjol" yang dijadikan koalisi pengusung Dildo ini merupakan ungkapan yang lebih cocok disematkan kepada orang bodoh. Itu merupakan perumpamaan netizen yang sembarangan memposting sesuatu yang belum tentu benar. Meluncurkan postingan yang berbau sara dan mengandung hoaks adalah pekerjaan sehari-hari warga net yang tidak bertanggung jawab.

Sosok misterius yang menjadi inisiator munculnya pasangan capres-cawapres fiktif Dildo ialah seseorang yang bernama Edwin dari Jogjakarta yang bahkan belum pernah sekalipun bertatap muka dengan bapak Nurhadi. Mereka berdua hanya melakukan komunikasi intens melalui media sosial dan muncullah kesepakatan yang menggemparkan dunia politik di Indonesia saat ini.

Hal ini tidak bisa didiamkan dan dibiarkan begitu saja oleh pendukung kedua belah pihak. Melihat antusiasme warga net dalam menyambut kehadiran Dildo, ini merupakan peringatan nyata  dan cambuk yang cukup untuk menyadarkan mereka yang terlalu tegang dan semakin kurang sehat dalam berpolitik. 

Fenomena ini harus disikapi dengan serius oleh pendukung kedua pasangan calon. Betapa tidak, ini kemudian harus ditanggapi dengan serius karena yang menjadi objek daripada lahirnya Dildo ialah pemilih muda milenial. Ini tidak bisa dipungkiri. Pemilih muda milenial merupakan yang paling antusias dalam menanggapi postingan Dildo di media sosial.

Di sinilah diperlukan peran yang tidak hanya cepat namun juga tepat. Cara para pendukung capres-cawapres dalam menanggapi fenomena ini akan menentukan tingkat keberhasilan penggiringan opini pemilih muda milenial yang tentunya sangat potensial dalam mendongkrak elektabilitas. Kesuksesan dalam menyikapi fenomena Dildo akan sangat menentukan keberhasilan para capres-cawapres di pemilu April mendatang.

Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mencatat ada 5.035.887 orang pemilih pemula pada Pemilu 2019. Data ini masuk dalam Daftar Penduduk Pemilih Potensial Pemilu (DP4). Kita bisa bayangkan, jumlah ini tidak bisa dibilang sedikit. Ini belum termasuk data pemilih muda dalam kategori usia 35 tahun ke bawah atau 40 tahun ke bawah. 

Jumlah pemilih pemula dan muda pada pemilu 2019 mencapai kisaran 14 juta. Angka yang besar bakal mempengaruhi para calon legislatif dan calon presiden untuk bisa merebut hati para pemilih muda. Direktur Eksekutif Perkupulan Untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraeni mengatakan, pemilih muda memang lebih dari 50% yang jika di kategorisasi hingga usia 35 tahun maka jumlahnya mencapai 79 juta, tetapi jika sampai 40 tahun maka jumlahnya mencapai 100 juta.

Berdasarkan data tersebut, tidak adalagi alasan untuk memandang sebelah mata pemilih muda milenial. Data dan fakta telah berbicara. Sekarang adalah saat yang tepat bagi para calon dan pendukungnya untuk menarik dan meraup suara sebanyak-banyaknya dari mereka. Namun satu hal yang perlu diperhatikan, pemilih muda milenial adalah golongan yang adaptasi politiknya sudah berbeda dengan golongan tua yang terdahulu. 

Di era Milenial saat ini, informasi dengan sangat mudah menyebar. Perumpamaan arus informasi pada hari ini bagaikan gelombang tsunami air laut yang menghempas daratan. Tersebar begitu cepat dan tak pandang bulu. Siapa saja bisa mendapatkan informasi apa saja. Penyebaran informasi melalui media inilah yang banyak mempengaruhi pandangan politik kaum muda milenial. 

Dengan tabiat anak muda yang masih sangat labil, ditambah rasa ingin tahu yang tak terbendung, mereka akan terus mencari tahu dan terus menimbang siapakah calon terbaik yang akan mereka pilih. Seharusnya ini menjadi titik fokus calon dan pendukungnya masing-masing. Ketika calon dan pendukungnya mengelola pemilih muda milenial dengan strategi yang baik dalam koridor yang sehat, maka peluang besar ada di sana. Begitupula sebaliknya.

Masih begitu banyak pihak yang sangsi dengan kematangan pemilih muda milenial pada hari ini. Sifat labil dan emosi yang belum stabil masih menjadi pertimbangan utama. Pemilih muda milenial muda beradaptasi dan cepat tahu akan informasi dan konstalasi politik. Akan tetapi yang membuat sebagian orang ragu ialah kematangan dari segi sisi kedewasaan dan kebesaran hati anak muda. Kematangan seperti ini yang jarang kita dapatkan pada diri pemilih muda milenial.

Hadirnya Dildo adalah sebuah rekayasa politik dari seorang Edwin dan kawan-kawan yang bisa berfungsi sebagai indikator kematangan pemilih muda milenial. Kematangan ini bisa ditinjau melalui cara mereka menyikapi fenomena Dildo. Erat kaitan keduanya dikarenakan latar belakang dari Nurhadi yang memang pegiat media sosial dengan follower ribuan berbenturan dengan pemilih muda milenial yang merupakan penikmat media sosial. Bagaikan anak panah yang mendarat dan menancap tepat pada hewan buruan. Begitulah kira-kira perumpamaannya.

Perlu disadari bersama bahwa fenomena Dildo adalah pertama kali terjadi dalam sejarah perpolitikan Indonesia. Munculnya pasangan capres-cawapres fiktif adalah salah satu bukti nyata kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi. Ini adalah awal bagaimana kecanggihan teknologi merangsek masuk ke dunia politik. Itulah yang hari ini terjadi. Dan ini barulah permulaan.