Manusia mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi, mulai dari hal-hal yang tidak terjangkau mata karena kecilnya sampai hal-hal yang tidak terjangkau mata karena jauhnya.

Hal-hal yang tidak terjangkau mata karena kecilnya seperti bakteri, virus, dan lain sebagainya. Sedangkan hal-hal yang tidak terjangkau mata karena jauh seperti alam semesta dan isinya.

Ketika malam hari tiba cahaya bulan dan kerlip bintang tidak hanya menimbulkan kesan keindahan, namun juga menimbulkan pertanyaan bagaimana alam semesta ini tercipta? Jawaban pertanyaan ini memunculkan beberapa pendapat atau yang dikenal dengan teori.

Ada yang berpendapat alam semesta tercipta dari suatu massa yang sangat besar yang terdapat di jagad raya dan mempunyai berat jenis yang sangat besar, karena adanya reaksi inti, massa tersebut akhirnya meledak dengan hebatnya.

Massa yang meledak kemudian berserakan dan mengembang dengan sangat cepat serta menjauhi pusat ledakan atau inti ledakan. Setelah berjuta-juta tahun massa yang berserakan membentuk kelompok-kelompok dengan berat jenis yang relatif lebih kecil dari massa semula.

Kelompok-kelompok tersebut akhirnya menjadi galaksi yang bergerak menjauhi titik intinya. Teori ini didukung oleh adanya kenyataan bahwa galaksi-galaksi tersebut selalu bergerak menjauhi intinya. Teori ini disebut teori dentuman atau teori ledakan

Ada yang berpendapat alam semesta tercipta  karena adanya suatu siklus materi yang diawali dengan massa ekspansi (mengembang) yang disebabkan oleh adanya reaksi inti hidrogen. Pada tahap ini terbentuklah galaksi-galaksi.

Tahap ini diperkirakan berlangsung selama 30 miliar tahun. Selanjutnya, galaksi-galaksi dan bintang yang telah terbentuk akan meredup kemudian memampat didahului dengan keluarnya pancaran panas yang sangat tinggi.

Setelah tahap memampat, maka tahap berikutnya adalah tahap mengembang dan kemudian pada akhirnya memampat lagi.

Teori ini menguatkan asumsi bahwa pertikel-partikel yang ada pada saat ini berasal dari partikel-partikel yang ada pada zaman dahulu. Teori ini disebut teori ekspansi dan konstraksi  (The Oscillating Theory).

Ada yang berpendapat alam semesta ini selamanya ada dan akan tetap ada atau dengan kata lain alam semesta tidak pernah bermula dan tidak akan berakhir.

Pada setiap saat ada pertikel yang dilahirkan dan da yang lenyap. Partikel-partikel tersebut kemudian mengembun menjadi kabut-kabut spiral dengan bintang-bintang dan jasa-jasad alam semesta.

Partikel yang dilahirkan lebih besar dari yang lenyap, sehingga mengakibatkan jumlah materi makin bertambah dan mengakibatkan pemuian alam semesta.

Pengembangan ini akan mencapai titik batas kritis pada 10 milyar tahun lagi. Dalam waktu 10 milyar tahun, akan dihasilkan kabut-kabut baru. Teori ini disebut teori keadaan tetap.

Menurut teori ini, 90% materi alam semesta adalah hidrogen dan hidrogenin, kemudian akan terbentuk helium dan zat-zat lainnya. Teori ini diajukan oleh ahli astronomi Fred Hoyle dan beberapa ahli astrofisika Inggris seperti Bendi dan Gold

Teori ini diterima secara skeptis oleh beberapa ahli yang lain, sebab hal itu melanggar salah satu hukum dasar fisika, yaitu hukum kekekalan zat. Zat tidak dapat diciptakan atau dihilangkan tetapi hanyalah dapat diubah menjadi jenis zat lain atau menjadi energi.

Ada yang berpendapat alam semesta tercipta dari ledakan dahsyat yang terjadi kira-kira 13.700 juta tahun yang lalu. Akibat ledakan tersebut materi-materi dengan jumlah sangat banyak terlontar ke segala penjuru alam semesta.

Materi-materi tersebut akhirnya membentuk bintang, planet, debu kosmis, asteroid, meteor, energi, dan partikel-partikel lain. Teori ini disebut dengan teori ledakan besar (The Big Bang Theory).

Teori Big Bang ini didukung oleh seorang astronom dari Amerika Serikat, yaitu Edwin Hubble. Berdasarkan pengamatan dan penelitian yang dilakukannya, menunjukkan bahwa jagat raya ini tidak bersifat statis.

Semakin jauh jarak galaksi dari Bumi, semakin cepat proses pengembangannya. Penemuan tersebut dikuatkan lagi oleh ahli astrofisika dari Amerika Serikat, Arno Pnezias dan Robert Wilson pada tahun 1965 telah mengukur tahap radiasi yang ada di angkasa raya.

Dari berbagai teori di atas teori Big Bang yang paling terkenal dan paling masuk akal.

Walaupun teori bigbang penemuan Edwin Hubble ini terkenal dan paling masuk akal, namun rasa ingin tahu manusia tentang penciptaan alam semesta tidak berhenti sampai disini. Masih saja ada orang yang meneliti tentang penciptaan alam semesta, orang tersebut adalah Stephen Hawking

Pada tahun 1988 melalui bukunya yang berjudul A Brief History of Time Ia menjelaskan bahwa alam semesta berasal dari sebuah ledakan besar. Teorinya ini senada dengan teori Big Bang yang sebelumnya.

Namun teori Big Bangnya itu menyisakan pertanyaan “apa yang terjadi sebelum Big Bang?” Hawking menjawab bahwa itu bergantung pada teori "no-boundary proposal" yang ia ciptakan bersama koleganya, James Hartle. Hawking menjelaskan peristiwa sebelum Big Bang tidak didefiniskan secara pasti, karena tidak mungkin seseorang mengukur apa yang terjadi

Selanjutnya pada tahun 1996 melalui bukunya The Nature of Space and TimeHawking mencetuskan istilah lubang hitam (Black Hole).

Hawking bekerja sama dengan pakar kosmologi Roger Penrose  mendemonstrasikan Teori Relativitas Umum Albert Einstein yang menunjukkan bahwa ruang angkasa dan waktu dimulai pada kelahiran alam semesta dan berakhir dengan lubang hitam.

Memadukan teori Einstein dan teori kuantum, Hawking menemukan bahwa lubang hitam tidak diam saja. Lubang hitam justru berdesis, mengeluarkan radiasi dan partikel, sebelum akhirnya meledak dan menghilang.

Sebelum wafat pada Maret 2018 lalu, Stephen Hawking sempat menuliskan teori terbarunya mengenai alam semesta yang akhirnya dipublikasikan baru-baru ini. Teori baru tersebut  memiliki perbedaan dengan teori lama.

Sebelumnya pada 1983, Hawking dan ahli fisika James Hartle mengusulkan suatu teori bernama Hartle-Hawking State. Dalam teori tersebut, mereka menjelaskan bahwa sebelum Big Bang, telah ada alam semesta, tapi tidak ada waktu.

Jadi alam semesta, pada awalnya, berkembang dari suatu titik, tapi tidak memiliki suatu batasan.

Sementara menurut teori baru, awal dari alam semesta memang memiliki suatu batasan, dan batasan tersebut memberikan kesempatan bagi Hawking dan Hertog untuk menurunkan suatu prediksi yang lebih baik atas struktur alam semesta.

Dengan teori yang ada, jika mampu memuaskan rasa ingin tahu tentang penciptaan alam semesta maka teori tersebut menjadi pedoman, namun jika tidak mampu memuaskan rasa ingin tahu maka kemungkinan besar akan lahir teori baru.

Karena penelitian dibangun dari rasa tidak puas dengan pengetahuan yang telah ada.