Pameran pertama, Pameran Imersif Affandi, 26 Oktober-25 November 2020 pukul 10-17 WIB di Galeri Nasional Indonesia (Gedung A), Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta. Pameran menampilkan koleksi Galeri Nasional Indonesia yang merepresentasikan perjalanan kekaryaan sang maestro dalam periode 1940-an-1970-an.

Koleksi karya ini akan disajikan menggunakan teknologi imersif yang mengaburkan antara dunia nyata dan digital, termasuk di dalamnya adalah teknologi virtual reality, augmented reality dan mixed reality. Lukisan-lukisan Affandi yang legendaris akan dihadirkan dalam proyeksi gambar bergerak (video projection) dengan iringan musik dan suara, keseluruhan pengalaman yang menggetarkan. Pameran dikuratori Bayu Genia Krishbie dari Galeri Nasional Indonesia. 

Alam, ruang dan manusia, itulah tiga tema besar lukisan Affandi yang dihadirkan pada pameran kali ini. Tema alam adalah lukisan Affandi hasil observasinya pada objek-objek seperti flora, fauna, dan lanskap. Tema ruang menyajikan karya-karya Affandi yang merekam tangkapan visual suasana di ruang publik, ruang privat, dan objek-objek arsitektural. 

Dan ketiga, tema manusia yang menyuguhkan karya-karya potret, aktivitas manusia, dan keberpihakan Affandi pada kemanusiaan. Salah satu lukisan yang dapat kita saksikan adalah Ibunda (1941) yang menunjukkan kepiawaian Affandi dalam gaya naturalis-realistik sebelum mengeksplorasi gaya ekspresionisme.

Selain seniman, Affandi juga dikenal sebagai seorang aktivis yang menyuarakan berbagai isu-isu penting melalui karya-karyanya. Berkarier sejak tahun 1930an, Affandi melukis dengan pendekatan realis dan naturalistik. Ia tergabung dalam Kelompok Lima Bandung bersama Hendra Gunawan, Barli Sasmitawinata, Wahdi Sumanta, dan Sudarso yang melukis langsung realitas sosial keseharian rakyat kecil, mendobrak tradisi seni lukis di Bandung yang identik dengan lukisan pemandangan alam. 

Di masa pendudukan Jepang, Affandi menyelenggarakan pameran tunggalnya yang diinisiasi oleh Pusat Tenaga Rakyat (POETERA) di mana saat itu S. Sudjojono –yang kerap disebut sebagai Bapak Seni Rupa Indonesia Modern -- tergabung sebagai pengurus pada bagian seni rupa.

Affandi kian dikenal di dunia internasional pada 1950an setelah memperkenalkan teknik melukis yang unik yaitu plototan atau menuangkan langsung cat minyak dari tube ke atas kanvas kemudian melukis menggunakan jari-jari tangan, mencuri perhatian para kritikus Barat dan dijuluki ‘ekspresionisme baru’. Sejak itulah ia kerap mengadakan pameran tunggal di berbagai negara seperti India, Inggris, Belanda, Jerman, dan Amerika Serikat.

Sepanjang karirnya Affandi telah melukis lebih dari dua ribu lukisan, dan kita berkesempatan menyaksikan sejumlah karya pilihannya dengan teknik presentasi yang baru.

Pameran Diponegoro

Pameran kedua, adalah Pamor Sang Pangeran, yang menghadirkan dunia Diponegoro melalui berbagai pusaka bersejarah  dipadukan dengan teknik hologram dan video mapping, untuk membawa audiens hanyut dalam pengalaman yang berbeda. Pameran dikuratori oleh sejarahwan Peter Carey dan Kepala Bidang Pengkajian dan Pengumpulan Museum Nasional Nusi Lisabilla Estudiantin.

Di pameran ini kita dapat menyaksikan lebih dekat keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman milik Pangeran Diponegoro yang selama ini disimpan di Museum Volkenkunde, Leiden dan kembali ke tanah air pada Maret 2020—setelah sebelumnya sempat menjadi polemik. 

Keris ini akan dipamerkan bersama pusaka lainnya yang telah ‘pulang’ secara berkala, koleksi pelana kuda Kanjeng Kiai Gentayu, tombak Kanjeng Kiai Rondan, payung berlapis prada (dikembalikan 1978) dan tongkat Kanjeng Kiai Cokro (pada 2015).

Kisah Pangeran Diponegoro selalu lekat dengan peristiwa Perang Jawa yang berlangsung selama lima tahun 1825-1830, salah satu perang paling dahsyat dalam sejarah pendudukan Belanda di Nusantara, menjadikannya sebagai salah satu sosoknya sangat dihormati kawan dan lawan. 

Sosok Diponegoro sebagai individu, pejuang dan pahlawan perang Jawa juga banyak menyimpan kisah yang menarik, dan selintas seperti bertolak belakang. Seorang panglima yang tangguh, namun juga pria yang romantis. Seorang yang taat dan tekun belajar hukum agama Islam, tapi senang minum anggur putih selama tak berlebihan.  

Kisah kehidupan sang pangeran akan ditampilkan dengan dilengkapi dengan teknologi video mapping dan komik manga ala Jepang. Sang pangeran juga akan tampil bersama kuda kesayangannya, pusaka hidup bernama Kanjeng Kiai Gentayu dalam bentuk hologram. Film animasi kisah Pangeran Diponegoro sejak penangkapan di Magelang (28 Maret 1830) hingga diasingkan ke Manado (3 Mei 1830) yang berjudul “Diponegoro 1830” juga akan melengkapi pameran.

Dalam pameran ini disajikan pula foto-foto lukisan dan sketsa Diponegoro hasil karya seniman dalam periode 1807 hingga 2019. Selain itu dipamerkan pula Babad Diponegoro (1831-1832) yang merupakan naskah klasik otobiografi sang pangeran yang ditulis pada awal pengasingan di Manado. Pameran Pamor Sang Pangeran berlangsung di Museum Nasional Indonesia (Ruang Kontemporer) pada 28 Oktober-26 November 2020 pukul 10-16 WIB.

Pameran yang Menguatkan

Kedua pameran tersebut hadir sebagai pendukung Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2020 yang merupakan program prioritas Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, setelah keberhasilan PKN tahun lalu. Tema PKN 2020 adalah Penguatan Tubuh Masyarakat dalam Perspektif Kebudayaan. Tubuh di sini bukan hanya yang fisik tapi juga metafisik, atau ruhani. Kesenian ibarat makanan bagi jiwa yang selalu merindukan keindahan.

Penggunaan teknologi imersif dan multimedia pada kedua pameran diharapkan dapat mempersembahkan sajian yang optimal, yaitu pengalaman ruang dan sensibilitas indrawi bagi pengunjung. 

Teknik presentasi seni rupa seperti ini telah lazim digunakan di berbagai museum dan pameran kelas dunia. Misalnya pameran instalasi imersif Rain Room (2013) oleh Hannes Koch and Florian Ortkrass di Museum of Modern Art (MoMA) New York. Rain Room berupa ruang yang dipenuhi tetesan hujan tapi akan berhenti jika pengunjung berjalan di bawahnya. 

Pada 2015 juga kian berkembang tren presentasi karya-karya dari pelukis legendaris seperti Leonardo Da Vinci, Vincent van Gogh dan Rene Margritte, yang dipadukan dengan proyeksi gigantik animasi dua dimensional dengan unsur bunyi dan tata cahaya. Dan kini kita dapat menyelami dunia Affandi dan Diponegoro dengan teknik presentasi yang memikat ini.

Kedua pameran diselenggarakan dengan memperhatikan protokol kesehatan dan batas kapasitas pengunjung, yaitu hanya 20 orang dalam satu sesi berdurasi dua jam. Setiap pengunjung juga harus menyertakan surat keterangan hasil tes rapid. 

Situasi pandemik juga menuntut kita mengubah cara pengunjung berinteraksi dengan karya seni, karena ‘menyentuh’ akan dihindari. Namun dengan berbagai teknik presentasi yang ada, kita tetap dapat memaksimalkan pengalaman inderawi lainnya seperti melihat dan mendengar.

Di tengah situasi keprihatinan bangsa karena pandemi, acara-acara kebudayaan justru menjadi semakin penting dilaksanakan, sebagai bagian dari upaya pemulihan optimisme masyarakat, juga untuk merawat harapan.