Menjelang perhelatan akbar Pemilihan Umum (Pemilu) 2019, semua calon, baik legislatif ataupun presiden, berlomba-lomba menarik simpati pemuda dengan menjadi seolah-olah paling muda. Mereka memanipulasi usia dengan mendaku diri sebagai yang berjiwa muda, yang paling tahu apa kebutuhan kelompok pemuda.

Saya pernah membaca sebuah pamflet seorang Calon Legislatif yang bertuliskan “muda dan moralitas”. Ketika kata benda (re. moralitas) digunakan untuk mendiskripsikan dirinya, maka ‘muda’ di situ menjadi gugur dalam usahanya menarik simpati konstituen. Hal tersebut menjadi salah satu alasan saya untuk menuliskan satu artikel ini.

Semakin sering istilah ‘muda’ atau ‘pemuda’ digunakan, semakin terkesan politik dan pemuda adalah dua hal yang dipaksakan. Demi memenuhi kebutuhan suara, keduanya dikawinkan secara paksa, buta, dan gelap. Pertautannya menjadi hal yang semu. Kering gagasan. 

Sampai tahap ini, istilah ‘pemuda’ sudah mengalami pengerdilan status. ‘Pemuda’ menjadi tidak lebih dari sekadar komoditas dalam politik. Posisinya tak lebih baik dari agama dalam agenda politik identitas. Hal yang membuat saya semakin risih membicarakan ‘pemuda’ dalam politik.

Menjadi sangat wajar apabila ini dirasakan juga oleh teman-teman, mengingat kelompok pemuda menjadi potensi pemilih yang cukup besar. Dihimpun dari halaman tirto.id, dilaporkan bahwa Pemilu 2019 mendatang akan diikuti oleh 185.732.093 pemilih dalam negeri dan 2.049.79 pemilih luar negeri. Dari jumlah tersebut, di antaranya terdapat pemilih dengan kelompok usia 20 hingga 34 tahun sebanyak 23 persen.

Untuk itu, perlu kiranya membicarakan ulang tentang konsep pemuda dalam bingkai politik dan sosial di Indonesia. Sekurang-kurangnya dapat melepaskan unek-unek serta kegelian saya melihat fenomena milenial yang sedang berlangsung saat ini.

Pemuda dalam Politik Sehari-hari (Daily Politics)

Dalam pandangan saya—ataupun pada umumnya, pemuda terbagi menjadi dua tipe. Pertama, para pemuda yang selalu berbicara politik dalam tingkatan elite. Dalam teori politiknya disebut state-centris. Kelompok ini biasanya didominasi oleh mahasiswa. 

Kedua, pemuda yang apatis dengan topik politik sama sekali, sehingga mereka cenderung tidak tertarik untuk mencari latar belakang para aktor politik maupun perkembangan politik yang berlangsung.

Pada akhirnya, mereka-mereka inilah yang menjadi pangsa pasar para peserta pemilu yang menjadikan “pemuda” sebagai komoditas (barang dagangan) dalam kontestasi politik. Penulis berpandangan, harus ada upaya dari pemuda untuk menyelamatkan istilah “pemuda” dari upaya pengkerdilan makna yang terjadi akhir-akhir ini.

Perlu ada pergeseran dari kedua tipe pemuda, yang tadinya hanya membicarakan politik sebagai “perjuangan untuk memperoleh kekuasaan” serta “pengamatan terhadap lembaga-lembaga negara” (politik formal), menjadi politik yang mengangkat persoalan sehari-hari dalam lingkungan kita sebagai agenda bersama. Inilah yang menjadi kajian dari daily politics—penggunaannya bisa dipertukarkan dengan day to day politics, atau istilah lain menyebutnya secondary reality of political practice.

Terdapat beberapa perbedaan daily politics dengan politik formal menurut Amalinda Savirani (yang saya ambil dari skripsi Riski Arsantia). Pertama, daily politics mengangkat isu kehidupan sehari-hari di masyarakat sebagai agenda politik mereka. 

Lebih jelas, Savirani menggambarkan, daily politics tidak bekerja dalam rangka menggulingkan kekuasaan. Ia lebih mengutamakan realitas sosial, budaya, ataupun ekonomi lingkungannya sehari-hari sebagai tema, sehingga politik lebih personal dan lebih dekat terhadap aktornya (civil society). 

Aktor, seperti yang sudah disebutkan tadi, adalah ciri pembeda kedua antara politik formal dengan daily politics, di mana aktor politik dalam hal ini adalah masyarakat pada umumnya. 

Selanjutnya, daily politics tidak dijalankan dengan cara-cara yang formal. Aktor daily politics merespons suatu hal biasanya dengan membentuk komunitas yang pengorganisasiannya berjalan cair, khas milenial yang kita kenal hari ini. Terakhir, daily politics menunjukkan bahwa masyarakat hari ini telah membuat kesempatan dan risikonya sendiri, karena masyarakat terdiri dari struktur yang sifatnya dinamis.

Day to day politics pemuda adalah membicarakan persoalan warga negara dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya terfokus pada politik kekuasaan atau perebutan jabatan. Pemuda juga perlu berbicara, misalnya, tentang sampah. Bagaimana sampah telah menjadi persoalan besar seiring pertumbuhan industri. 

Pemerintah Daerah selalu mengalami kesulitan dalam pengolahan sampah. Pemuda desa yang tanggap terhadap persoalan sehari-hari seperti ini akan memunculkan suatu gagasan tentang bagaimana menyelesaikan sampah di desa tempat ia tinggal sebagai warga negara. 

Misalnya, ia membentuk satu komunitas di desa yang peduli terhadap persoalan sampah, gagasannya ini diberi nama “Pendekar Lingkungan” (Jangan sampai diberi nama “Pendekar Sampah” juga). Kegiatannya adalah terkait dengan pengedukasian warga terhadap pengolahan sampah, serta melakukan kegiatan bersih-bersih secara rutin, dan menjadi ‘polisi’ bagi mereka yang belum sadar atas pentingnya membuang sampah pada tempatnya. 

Hingga dirasa perlu mengajukan pengadaan infrastruktur untuk mengelola sampah kepada Kepala Desa dengan memanfaatkan dana desa. Apabila gagasan tersebut sukses, maka upaya demikian dapat menjadi cikal bakal untuk diterapkan di desa lainnya.

Sebuah Pengharapan

Pemuda berperan sebagai pendistribusi gagasan bagi politik sehari-hari masyarakat (civil society). Karena pemuda sebagai penanda selalu diiringi dengan kelompok yang energik, cerdas, dan cekatan sebagai konsepnya. Dibandingkan kita meributkan siapa yang pantas menahkodai bangsa ini di periode selanjutnya dengan penuh emosional, sementara posisi ‘pemuda’ hanyalah sebagai komoditas pendulang suara. 

Toh, teman-teman, sampah-sampah itu tidak akan berjalan sendiri ke tempat mereka seharusnya, siapa pun pemimpin bangsa ini. Tidak juga akan begitu, meskipun revolusi yang kita teriakkan di jalanan terjadi. Pemuda hari ini terjebak menjadi komoditas dalam perputaran politik, baik daerah maupun nasional, dan hanya bermewah-mewah dengan isu-isu pemilihan presiden.

Akhirnya, sampailah kita pada akhir dari tullisan nirfaedah ini. Tulisan ini hanyalah tulisan sederhana dengan gagasan yang lebih sederhana lagi dibanding tulisannya sendiri. Serta tujuan dari kepenulisan ini adalah sebagai pengingat, meskipun kita sebagai manusia terkadang sulit untuk diingatkan—misalnya, diingatkan untuk segera mencari teman hidup. 

Untuk dikatakan sebagai upaya menyelamatkan wacana pun, sebenarnya masih jauh panggang dari api. Tapi, di lain sisi, pemuda dan perjuangan adalah dua hal yang lekat. Dan pesan saya, jangan berhenti berjuang, teman-teman.

Perjuangan adalah suatu keniscayaan yang akan terus ada di dalam masyarakat, karena antagonisme selalu terjadi. Perjuangan tidak pernah selesai dan selalu berubah, sebagai sebuah dinamika di dalam masyarakat. 

Perjuangan merupakan gerakan politik yang harus dilakukan bersama-sama untuk mencapai hegemoni. Hegemoni tidak selalu berarti buruk atau negatif. Hegemoni yang terbuka dan sementara, contohnya, manusia memperjuangkan yang universal tanpa mengorbankan yang partikular. Kenang terus kalimat masyhur seorang Albert Camus, “Saya berontak maka saya ada.”