Isu kesehatan adalah isu penting dan cukup populer. Setiap orang di Indonesia pasti pernah merasakan sakit. Entah itu sakit yang mengandung risiko kecil maupun risiko besar.

Sakit, penyebabnya bisa berbagai macam. Ada yang terkena melalui makanan, minuman atau lingkungan. Dewasa ini, bahkan udara pun bisa menyebabkan orang jatuh sakit bahkan meninggal.

Oleh karena itu, sudah seharusnya orang sadar akan kesehatannya. Selalu berusaha tahu akan kondisi tubuhnya. Dan selalu berusaha melakukan tindakan pencegahan apabila ada suatu kondisi yang memungkinkan terkena penyakit.

Namun, memang tak semua orang sadar akan kesehatannya. Mereka masih tak acuh dengan kondisi sekitar. Seperti contoh buang sampah sembarangan. Bau busuk yang ditimbulkan karenanya justru menjadi masalah. Kemudian, orang jatuh sakit.

Padahal, seperti diketahui khalayak umum bahwa di Indonesia ada adagium sakit itu mahal. Setidaknya fakta di lapangan demikian. Butuh dana yang besar untuk sekadar berobat apalagi jika diharuskan rawat inap.

Beruntungnya, pemerintah Indonesia meluncurkan kartu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Kartu tersebut digunakan untuk menciptakan solusi karena biaya pengobatan yang mahal.

BPJS pun banyak digunakan rakyat miskin untuk mengatasi problematika kesehatan. Perlu Anda ketahui, di tahun 2017 per hari ada 612.000 orang yang berobat ke rumah sakit. Jumlah tersebut jika dibuat prosentase memang kecil. Tak sampai 1% jika dibandingkan dengan jumlah masyarakat Indonesia.

Namun, hal tersebut tetap menjadi catatan penting. Meminimalisir orang untuk tidak sakit sungguh tidak mudah. Butuh edukasi lebih. Baik dari pemerintah, kementerian kesehatan maupun masyarakat setempat.

Dan dengan adanya BPJS Kesehatan di Indonesia sebenarnya cukup membantu bagi masyarakat miskin. Masyarakat pun bisa memilih iuran dari yang minimal sampai maksimal tergantung dana yang dimiliki.

Masyarakat pun mulai sedikit demi sedikit sadar akan kesehatannya. Ketika terkenan sakit ringan, masyarakat berobat ke rumah sakit atau puskesmas yang melayani pasien BPJS Kesehatan.

Mereka bahkan rela antri demi pelayanan BPJS Kesehatan yang tergolong ramah di kantong pasien. Masalahnya adalah, saat ini BPJS Kesehatan mengalami defisit. Tak jarang mereka, yaitu pihak rumah sakit, menolak pasien. Situasi pun menjadi runyam.

Ada yang bilang rumah sakit ogah melayani pasien BPJS Kesehatan. Ada yang bilang jika pasien BPJS Kesehatan ditangani, pelayanan tidak akan bisa maksimal. Lalu, mana yang benar dan mana yang salah?

Duduk Perkara BPJS

BPJS Kesehatan memang menjadi penyelamat bagi pasien kaum miskin. Namun, BPJS Kesehatan belum tentu selamanya akan menjadi penyelamat bagi masyarakat Indonesia. Contohnya, seperti saat ini. Defisit BPJS Kesehatan.

Ada yang menuding sistem di BPJS Kesehatan sendiri yang menyebabkan defisit keuangan. Namun, ada yang menuding pasien enggan membayar iuran BPJS Kesehatan. Perdebatan tersebut memunculkan (lagi-lagi) pertanyaan. Mana yang benar dan mana yang salah.

Untuk tudingan terakhir, muncul fakta dari 25 juta orang yang memiliki kartu, hanya 12 juta orang yang membayar rutin. Apakah hal tersebut menyebabkan defisit BPJS Kesehatan? Belum tentu juga.

Ada berbagai masalah yang berkelindan di dalam BPJS Kesehatan. Tidak bisa serta merta menuduh karena pasien telat membayar, maka terjadi defisit. Apalagi kemudian muncul perdebatan ada pembatasan layanan kesehatan demi tidak terjadi defisit lagi.

Beruntung, Mahkamah Agung (MA) membatalkan tuntutan yang diajukan oleh Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan yaitu pasien katarak, bayi baru lahir sehat, dan rehabilitasi medik.

Pemerintah pun sudah tanggap dalam menyelamatkan BPJS Kesehatan. Ada tujuh cara. Di antaranya 1) Penyertaan modal negara dengan jumlah variatif per tahun, 2) Penerbitan Peraturan Menteri Keuangan, 3) Adanya Dana Cadangan rp 4,9 T, 4) Peningkatan Peran Pemda via penggunaan dana cukai rokok, 5) Perbaikan Manajemen, 6) Pelibatan Peserta BPJS Kesehatan, dan 7) Migrasi dari sistem luring ke daring.

Ketujuh hal tersebut sejatinya segera direspon baik pengguna BPJS Kesehatan maupun penyedia layanan BPJS. Sebab, keributan yang diciptakan baik secara sengaja atau tidak sengaja oleh kedua belah pihak tidak akan menghasilkan saran yang solutif.

Daripada mengutuk kegelapan lebih baik menyalakan lilin harapan. Adagium tersebut rasanya tepat untuk mengurai benang kusut yang terjadi pada BPJS Kesehatan.

Kita, masyarakat Indonesia tentunya tidak ingin sakit. Selalu ingin sehat. Namun, seringkali ada hal di luar kuasa kita yang kemudian menyebabkan tubuh kita sakit. Ketika sakit, solusinya adalah berobat. Obatnya pun harus sesuai dengan kantong masyarakat Indonesia.

Kita beruntung BPJS Kesehatan telah hadir di Indonesia. Menyelamatkan banyak pasien yang terkendala masalah biaya. Namun, kita harus ingat bahwa pencegahan dini lebih baik daripada penyembuhan berkelanjutan.

Yang perlu diingat, selalu jaga kesehatan karena, sekali lagi, sakit itu tidak enak, dan tentu saja membuat keluarga maupun teman dekat menjadi khawatir

BPJS Kesehatan hadir sebagai sarana penyembuh. Namun jiwa yang sehat adalah cara ampuh untuk mengelola tubuh yang kuat.