Selalu ada perbedaan antara iman yang didominasi oleh “rasa” dengan logika yang didominasi oleh “otak”. Namun bukan berarti keduanya harus dipertentangkan. Dalam masyarakat yang masih dikungkung oleh logika mistika, apa yang berhubungan dengan “sabda” adalah sebuah perintah untuk taat dan tunduk.

Sejak munculnya kepercayaan purba yang ditandai dengan lukisan jari-jari tangan dan binatang di dinding gua sampai pada tulisan dalam bentuk kitab suci di masa sejarah—manusia telah tunduk pada apa yang mereka anggap “Tuhan” dengan berbagai panggilan nama menurut daerah tempat mereka lahir.

Lalu lahirlah apa yang disebut ilmu pengetahuan. Manusia mencari kebebasan berpikir. Melepaskan diri dari ikatan agama yang konon mematikan “ide”. Revolusi ilmu pengetahuan meruntuhkan dominasi agama setidaknya dalam urusan politik, ekonomi dan budaya.

Namun bagaimana dengan iman itu sendiri? ia tidak mati. Berapa pun jumlah penganut ateis di dunia ini yang konon semakin bertambah; agama tetap menjadi pilihan bagi jiwa-jiwa kosong dan putus asa pada kemajuan ilmu pengetahuan yang justru menjadikan manusia menjadi budak kapitalisme.

Manusia kemudian mencari pencerahan pada sistem ekonomi-politik yang mereka anggap paling cocok untuk dunia. pertentangan paham antara sosialis, komunis, kapitalis, demokrasi, monarki, dan teokrasi telah membawa manusia pada bencana perang saudara dan perang antar bangsa.

Rupanya manusia telah terjebak dalam sebuah cara berpikir logis yang keliru. Seperti yang dikatakan oleh Tan Malaka dalam Madilog, “manusia salah dalam melihat bukti, meskipun apa yang dilihat telah berulang kali terjadi—ia tetap saja percaya”.

Politik dan agama telah saling mengisi dengan “sabda”nya. Kebenaran agama berupaya dicari persamaannya dengan kebenaran politik—bahkan untuk tujuan kekuasaan, maka dua kekuatan ini dipakai sebagai suatu pembenaran dan kebenaran.

Jika sudah begitu maka kebohongan tidak lagi dipandang sebagai sebuah kesalahan. Manusia saling mendebat tentang ekonomi, politik, dan budaya. Apabila mereka tidak menemukan kesalahan dalam diri lawan politik maka cara terakhir adalah mengangkat isu agama dan karakter individu yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah pokok tentang kesejahteraan rakyat. Tan Malaka menyebut gejala ini sebagai ignoratio elenchi (menyimpang jalan).

Sepertinya persoalan agama akan menjadi solusi terakhir untuk merebut kekuasaan. Mereka yang punya kepentingan politik sangat memahami kondisi alam pikiran masyarakat yang masih berorientasi pada hal-hal yang berhubungan dengan mistifikasi.

Lebih para lagi kalau agama dikaitkan dengan suku tertentu. Misalnya, kalau Manado pasti Kristen, kalau Jawa pasti islam, Bali pasti hindu dan seterusnya. Akibatnya identitas seperti itu dipatenkan sebagai klaim untuk memfitnah dan melakukan diskriminasi.

Lucunya karena politik identitas seperti itu maka apa yang terjadi di belahan dunia lain seakan menjadi alasan untuk melakukan pembalasan kepada kelompok yang dianggap “sama” di dalam negeri. Contoh, penindasan Israel kepada rakyat Palestina dijadikan alasan untuk munculnya sentimen agama seperti anti Kristen karena dianggap Kristen itu Israel, Kristen itu barat, Kristen itu Amerika Serikat.

Contoh lain kekerasan pemerintah Myanmar kepada kelompok muslim Rohingya, direspon dengan ancaman untuk merusak candi Borobudur, merusak vihara bahkan menghentikan ritual yang sedang dilakukan oleh seorang bhiksu budha. Sungguh sebuah logika yang sangat keliru untuk mengatasnamakan solidaritas.

Fenomena seperti itu tidak hanya bisa dijelaskan oleh logika dan psikologi. Menurut Tan Malaka ini juga berhubungan dengan cara pandang yang keliru. Manusia yang cenderung keliru dalam memandang perbedaan pasti akan menafsirkan perbedaan itu sebagai sebuah kesalahan. Misalnya pemikir kapitalisme pasti akan menyalahkan pemikir sosialis dan komunis, orang islam akan menyalahkan ajaran Kristen, orang Kristen akan menyalahkan ajaran yahudi, begitu sebaliknya.

Semuanya saling menyalahkan dan menganggap paling benar. Sulit memang untuk membuat dunia menjadi seragam. Jika manusia mau belajar dari sejarah maka ia seharusnya segera sadar bahwa pada dasarnya dunia itu beragam dan perbedaan adalah keniscayaan.

Mungkinkah perdamaian dunia benar-benar bisa terwujud? Saya menjawab ya. Kita hanya butuh keluasan hati untuk menerima perbedaan. Belajar dari sejarah berarti memaafkan apa yang sudah terjadi dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi. Kita hanya butuh pengendalian diri untuk tidak mengganggu hak pribadi orang lain.

Tidak ikut campur urusan kedaulatan bangsa lain seraya tetap menjalin persahabatan dan keterbukaan. Hidup berdampingan secara damai dan terutama bergotong royong untuk mewujudkan kesejahteraan dunia di mana tidak ada ketimpangan antara si miskin dan si kaya. Akses kesehatan yang baik untuk semua bangsa serta pedidikan yang layak akan menyumbang pada perdamaian dunia.

Praktek kemanusiaan adalah jembatan antara iman dan logika untuk bisa bertemu dan menghasilkan kerja nyata bagi perdamaian dunia. apa yang selama ini menjadi “ide” atau “rasa” agama bisa disinkronkan dengan “logika” ilmu pengetahuan dan dikonkritkan dalam kerja kemanusiaan.

Tuhan hadir dalam persoalan realita manusia dan tidak hanya tinggal dalam bangunan tempat ibadah. Mengutip kata-kata dalam alkitab, “iman tanpa perbuatan adalah mati”. Sungguh besar manfaatnya apabila penganut agama tak hanya berkutat pada masalah kebenaran doktrin belaka, begitu juga dengan para ilmuwan untuk tidak hanya menjadi “menara gading” ilmu pengetahuan melainkan menemukan dan mempraktekkan  solusi untuk kemajuan dunia.

Jika hal itu benar terjadi maka perkataan “kemuliaan di surga dan damai di bumi bagi mereka yang percaya” akan saya tambahkan, “juga bagi mereka yang tidak percaya”.