ASEAN adalah sebuah organisasi, sekaligus sebuah komunitas dari negara-negara yang terdiri dari banyak ras, bahasa, agama, dan dihubungkan melalui kedekatan jarak serta pertalian sejarah. Kota-kota ASEAN dewasa ini memberikan sedikit petunjuk tentang masa lalunya yang keras.

Gedung-gedung pencakar langit sekarang berdiri di lokasi yang dulunya dihancurkan oleh perang dan konflik berkepanjangan. Tersebar di wilayah sebesar 4.480.000 km² dengan populasi lebih dari 540 juta penduduk asli, imigran, dan keturunan dari pernikahan antar bangsa. Sebagai sebuah wilayah, ASEAN menawarkan keanekaragaman yang kaya akan bakat, tradisi, sumber daya, dan kesempatan.

Tiga Pilar. Komunitas ASEAN dengan tiga pilarnya (APSC, AEC, dan ASCC) di masa depan akan menjadi bagian penting dalam dunia hubungan internasional yang semakin kompleks sifatnya. Paska memiliki presiden baru, pola hubungan internasional Indonesia pasti akan berubah demi menghadapi policy shifting negara lain, terutama dari mitra-mitra terdekatnya yang tergabung dalam ASEAN.

Jokowi dan jajaran pembantunya, terutama yang berkaitan dengan masalah internasional, punya sedikitnya dua bulan untuk mempersiapkan negeri ini masuk Komunitas ASEAN 2015.

Dari tiga pilar Komunitas ASEAN, ASEAN Political and Security Community (APSC) adalah pilar yang akan menghadapi banyak tantangan di masa depan. Masalah konflik dan ketegangan yang sering terjadi antar sesama negara ASEAN menjadi prioritas utama untuk dicarikan solusinya. Selain itu, APSC juga harus mampu menjawab ancaman-ancaman non-konvensional dengan bersandar pada partisipasi masyarakat.

Apa maksudnya partisipasi masyarakat? Lekat dengan istilah “komunitas”, masyarakat harus mendapat porsi lebih dalam upaya menjaga keamanan, setidaknya di lingkungannya sendiri. Di sini partisipasi masyarakat bisa digalakkan melalui sistem sadar keamanan lingkungan. Maksudnya adalah, setiap masyarakat mengerti perannya sebagai seorang anggota masyarakat yang memiliki kewajiban menjaga lingkungannya dari ancaman kejahatan.

Beberapa contoh yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan neighbourhood watch (seperti siskamling di Indonesia). Pemeriksaan identitas bagi warga baru, tugas jaga malam, sampai pengurusan surat-surat kependudukan adalah beberapa contoh tugas neighbourhood watch. Cara ini dapat digunakan sebagai deteksi dini ancaman terorisme atau tindak kejahatan. Semakin warga mengenal tetangganya, semakin minim pula kesempatan orang asing yang akan bertindak tidak baik untuk menginfiltrasi komunitas masyarakat tersebut.

Deteksi dini ancaman terhadap negara, yang mana pengukurannya dimulai dari kesiapan seluruh warga negara di semua tingkatan, merupakan langkah awal optimalisasi konsep human security. APSC harus berjalan berdasarkan kesiap-siagaan masyarakat terkait ancaman keamanan yang semakin kompleks. Selain itu, berfungsi normalnya semua infrastruktur maupun suprastruktur politik membantu masyarakat dalam berpartisipasi di setiap proses pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan orang banyak.

Terkait ASEAN Economic Community (AEC), Indonesia akan memiliki peran yang sangat besar di ASEAN karena menjadi salah satu negara dengan populasi terbesar di dunia. Penting bagi ASEAN untuk mencari hati rakyat di negara masing-masing anggota, bahwa keikutsertaannya dalam proses liberalisasi perdagangan harus dilakukan secara sinergis antara pemeliharaan integrasi ekonomi kawasan dengan kepentingan nasional yang melibatkan partisipasi penuh masyarakat.

Produk-produk, maupun bisnis-bisnis lokal di negara-negara ASEAN, seperti Dji Sam Soe dan Extra Joss dari Indonesia, Goldilocks dan San Miguel dari Filipina,  Royal Selangor dari Malaysia, Eu Yan Sang dari Singapura, dan Black Canyon dari Thailand semuanya berbasis ekonomi rakyat ketika awal memulai usahanya (Kotler, 2007).

Sekarang, brand mereka sudah mulai merambah luar ASEAN. Ketika ASEAN membuka diri terhadap pasar bebas, hendaknya ASEAN memperkuat basis ekonomi lokalnya dulu. Penguatan basis ekonomi lokal tentunya disandarkan pada kuatnya masyarakat lokal dalam menopang usaha tersebut.

ASEAN Socio-Cultural Community (ASCC) dibentuk karena tidak adanya istilah warga negara ASEAN. Untuk itu, ASCC bertujuan untuk menciptakan sebuah keinginan untuk tinggal bersama (we feeling), sehingga ASEAN tidak hanya menjadi milik satu budaya atau kepercayaan.

Heterogenitas menjadi tantangan identitas ASEAN. Sebagai negara multikultur, yang mempraktekkan toleransi yang baik, masyarakat Indonesia bisa menjadi pelopor kehidupan toleran di ASEAN. Biarpun berbeda-beda, dengan semangat nasionalisme, semua elemen di Indonesia bersatu padu demi identitas mereka sebagai bangsa Indonesia. Semangat ini harus ditularkan di ASEAN agar identitas ASEAN pun terbentuk dari keberagaman yang ada di dalam ASEAN itu sendiri.

Identitas sebagai warga ASEAN harus berdasar pada kokohnya budaya toleransi masing-masing negara, yang akan menopang single ASEAN identity. Selain itu,budaya politik demokrasi harus menjadi fundamen bagi implementasi Piagam ASEAN dan ketiga pilarnya, agar keberagaman ASEAN tadi dimaknai sebagai sebuah political entity yang menuju pada identitas satu ASEAN. One Vision, One Identity, dan One Community.

Sebagai penutup, komunitas adalah sebuah kekuatan yang berdasar pada masyarakat. Politik, keamanan, ekonomi, dan sosial budaya merupakan pilar yang menyokong kekuatan itu. Kekuatan regional lain, seperti Eropa sudah membuktikannya dengan kuatnya Uni Eropa-nya. Sekarang saatnya untuk Asia Tenggara bicara.

Changes will come, dan tugas ASEAN adalah untuk bersiap menghadapi perubahan-perubahan tersebut dengan berorientasi pada kekuatan masyarakatnya. Memasuki tahun 2016, organisasi berumur 48 tahun ini sudah on the track untuk mewujudkan mimpinya, yaitu Komunitas ASEAN 2015. Kita pun berharap semoga pemerintahan Jokowi-JK mampu menyambut tantangan ini dengan persiapan mumpuni.