Hidup manusia erat sekali hubungannya dengan penyelenggaraan Ilahi. Setiap saat Allah menyelenggarakan sesuatu dalam kehidupan manusia. Dia memberikan apa yang ada pada diri-Nya, bahkan Dia memberikan hidup-Nya sendiri, agar kita selamat dan bahagia. Dia itu sungguh besar dalam hal yang kecil dan tak terkatakan dalam hal yang besar.

Seluruh hidup manusia diarahkan kepada tujuan akhir, yaitu memuliakan-Nya dalam kebahagiaan surgawi. Kita bersyukur kepada Tuhan, bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini telah diatur dan diketahui oleh-Nya. Sikap kita sebagai manusia hanyalah pasrah dan mempercayakan diri sepenuhnya kepada-Nya. Allah menghendaki kita hidup saat ini dan berjalan dalam kesetiaan, dalam iman serta mempercayakan diri seluruhnya kepada kerahiman-Nya.

Setiap hari kita berhadapan dengan kewajiban-kewajiban yang seringkali dalam bentuk lahiriah sangat sederhana. Apapun yang diberikan sebagai tugas bagi kita, tak peduli apakah tugas yang besar atau yang kecil, dan kebanyakan dalam bentuk yang sederhana, misalnya dalam pekerjaan sehari-hari (di kebun, di dapur dan sebagainya), merupakan ungkapan karya Allah yang berhubungan dengan diri kita atau berhubungan dengan hidup kita sehari-hari.

Memang, bagi kita penyelenggaraan Ilahi kadang-kadang merupakan suatu misteri. Artinya, kita tidak selalu mengerti apa yang terjadi dan apa yang kita alami. Apabila kita mengerti arti peristiwa-peristiwa yang kadang-kadang menghambat kita, pertentangan-pertentangan, perlawanan-perlawanan, kekecewaan, dan bahkan malapetaka serta kegagalan, semuanya harus kita sesali, tetapi kita juga harus menyesali diri kita, bahwa kita hanya tahu mengeluh dan mengeluh.

Ada hal-hal yang tampaknya menyusahkan kita, yang berupa penghinaan, atau caci maki, fitnah, dan sebagainya, itu semua bisa diubah menjadi berkat. Kadangkala kita harus menangis dan mengaduh seperti Yusuf ketika dia dimasukkan dalam sumur dan dijual sebagai budak oleh saudara-saudara kandungnya sendiri.

Pengalaman-pengalaman hidup ini disebut Sekolah Roh Kudus. Orang yang mendapat nilai tertinggi, yaitu mereka yang harus melewati ujian yang lebih berat dalam hidup. Semakin kita sadar akan penyelenggaraan Ilahi ini, hidup kita juga menjadi semakin bersahaja dan segala sesuatu menjadi transparan untuk kita.

Artinya, segala sesuatu dapat berbicara kepada kita tentang Allah. Karena kehendak Allah pada saat ini dan dalam setiap pengalaman hidup kita merupakan sumber air yang terus memancar terus menerus dan merupakan sumber kekudusan. Allah telah bersabda: “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam setiap perkara-perkara besar” (Luk 16:10).

Kita seharusnya menekankan pentingnya kesetiaan yang harus kita tunjukkan terhadap rahmat yang diberikan Allah saat ini. Dalam banyak hal, di mana ada jiwa-jiwa yang memberikan dirinya kepada Allah dengan sungguh-sungguh, dengan serius, dan dengan kemurahan hati, bahkan dengan usaha-usaha yang betul-betul heroik untuk membuktikan cintanya kepada Allah.

Jiwa yang menyerahkan diri kepada Allah akan selalu dilindungi oleh Allah terhadap jerat-jerat musuhnya dalam perjuangan rohani. Seperti yang dikatakan St. Paulus kepada jemaat di Roma: “Apabila Allah bersama kita, siapa yang akan melawan kita?” (Rm 8:31). Atau seperti kata pemazmur: “Tuhan di pihakku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadapku?” (Mzm 118:6).

Dengan mempelajari penyelenggaraan Allah, hal pokok yang sangat penting bagi kita, yaitu mengerti dalam rencana Allah dan apa yang sebenarnya paling penting bagi kita dalam hal ini. Salah satu hal paling penting bagi kita yaitu mengerti jalan kesempurnaan yang sudah sejak awal telah ditentukan Allah bagi kita semua.

Segala sesuatu yang berjasa di hadapan Allah, terdapat dalam cinta kasih semata-mata yang dibimbing oleh kearifan. Sebab tanpa cinta kasih, jiwa sama sekali tidak berarti apa-apa. Kearifan akan memberikan kepada Allah, cinta kasih tanpa batas, sebab Allah adalah kebenaran yang Mahatinggi dan kebenaran kekal. Jiwa tidak dapat memberi batas-batas cintanya kepada Allah.

Cinta kepada Allah adalah yang utama dan yang pertama, ini hukum Allah sendiri. Kalau kita mau mengubah hukum Allah, kita menjadikan diri kita Allah sendiri. Dan ini adalah suatu kesombongan yang luar biasa, apabila mengabaikan hukum Allah itu.

Kesempurnaan Kristiani pertama-tama terdapat dalam kasih kepada Allah yang memberikan hidup dan semua kebajikan, yang akhirnya mempersatukan kita dengan Allah sumber dari segala rahmat. Sebab melalui kasih ini kita mencintai Allah lebih dari diri kita sendiri, lebih dari segala sesuatu. Dan kita mengasihi yang lain-lain demi cinta kepada Allah.

Cinta kasih kodrati membuat kita mencintai orang karena kualitas-kualitasnya yang baik, mungkin banyak bakat, suara yang bagus, pintar, atau karena kita mengharapkan sesuatu, mendapat kebaikan dari orang tersebut. Sebaliknya, motivasi yang menjiwai seseorang dalam kasih Ilahi merupakan sesuatu yang berbbeda sekali. Buktinya, kita harus mengasihi sesama kita, berbuat baik kepada mereka yang membenci kita, dan berdoa bagi mereka yang memusuhi, memfitnah, dan menganiaya kita.

Cinta kasih kepada sesama atau kasih persaudaraan menurut hakikatnya adalah kasih kepada Allah yang diperluas kepada segala dan semua yang dikasihi oleh Allah. Kasih ini harus bersifat universal, tidak seorang pun yang dapat kita kecualikan dan abaikan. Semua orang harus mendapat kasih kita. Kalau kita mempunyai kasih, baik kepada Allah maupun kepada sesama, maka kita akan mencoba melihat kebaikan-kebaikan pada orang lain, baik hal yang besar maupun dalam hal yang kecil.

Sebab di dalam diri sesama ini kita temukan gambaran pancaran kasih Allah dan banyak kebaikan-kebaikan yang ada padanya. Jadi, kita harus mempunyai kasih Allah lebih dahulu supaya kita kita mampu mengasihi sesama kita. Tanpa kasih Allah kita tidak akan mampu mengasihi sesama kita.