Dukungan bagi kelompok radikal mengalami penurunan (United of Democracy Tolerance Indonesia). Turunnya dukungan tak lain karena masyarakat sudah geram dengan kelompok yang satu ini.

Semakin banyak orang yang tidak suka dengan gerakan yang berbau radikal, tentunya menyebabkan dukungan terhadap mereka kian menurun. Memang bagus jika turun dukungan bagi mereka. Namun, di sisi lain kekhawatiran akan ekstremisme Islam semakin meningkat.

Sangat aneh melihat munculnya rasa khawatir di kalangan masyarakat terhadap agama Islam. Beberapa berita yang pernah penulis baca, menunjukkan bahwa rakyat internasional takut dengan terorisme yang merupakan salah satu wujud nyata dari adanya kelompok radikal di dunia yang ikonic dengan Islam.

Istilah terorisme mulai marak semenjak dideklarasikannya pernyataan perang oleh Amerika Serikat kepada kelompok-kelompok teroris pada kejadian 11 September 2001. Secara sederhana, istilah terorisme berasal dari kata teror yang berarti ancaman, perbuatan brutal, dan lain-lain.

Jika kita lihat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, teror memiliki makna usaha menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman oleh seseorang atau golongan. Dari berbagai penjelasan tentang terorisme, tidak ada yang menyebutkan bahwa terorisme itu adalah Islam ataupun suatu agama tertentu.

Menurut Ali Mubarok (Republika, 2003), sebenarnya tidak ada urusan antara agama dengan kekerasan (teroris). Konflik agama dalam kasus-kasus tertentu hanya menambah sedikit bobot dari faktor-faktor kekerasan itu.

Yang membuat pemisah antara paham teroris itu adalah saat dimasukkannya kasus radikalisme agama yang sering merujuk pada masalah palestina dan israel sebagai justifikasi atas aksi kekerasan yang ada. kelompok-kelompok radikalis menganggap bahwa bom yang mereka ledakkan sebagai aksi balasan terhadap negara Barat dan Amerika serta para sekutu yang melakukan kekejaman terhadap saudara-saudara muslim di negara Islam.

Yang lebih parah, pelaku aksi teror menyatakan bahwa yang mereka lakukan sebagai jihad. Karena hal inilah muncul persepsi dan asumsi masyarakat awam yang menyebabkan Islamphobia semakin meningkat. Di indonesia, kelompok terorisme ini sering melakukan bom bunuh diri, yang notabene setiap agama melarang perilaku demikian.

Gerakan bermotif politik dan adicita dengan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok terorisme perlu dijinakkan dengan upaya-upaya yang menitikberatkan pada soft approach (upaya persuasif). Memang belum tentu efektif cara yang lunak dalam melawan kekerasan. Namun melihat kegagalan beberapa negara yang melawan terorisme dengan pendekatan fisik saja menyebabkan kelompok radikal ini semakin marah dan membabi buta.

Gerakan radikalisme memiliki tujuan yang menurut mereka baik. Namun tidak ada kadar yang pasti atau tolak ukur yang jelas terkait hal baik yang menurut mereka itu adalah sesuatu yang dicita-citakan.

Masyarakat awam harus bisa memilah berbagai narasi yang mengarah kepada kekerasan dalam mencapai suatu tujuan kelompok tertentu yang hanya mementingkan ideologi suatu kelompok saja. Meskipun awam, setidaknya masyarakat harus memiliki standar yang pasti seputar hal yang “baik” itu sesuai tempatnya.

ISIS yang merupakan salah satu bentuk organisasi terorisme yang mengelu-elukan ingin membuat negara Islam sering memanfaatkan media sosial dalam perekrutan anggotanya. Era digital seperti sekarang membuat kita harus memahami berbagai cara yang digunakan oleh kelompok-kelompok radikal, teroris, dan ekstremis dalam menyebarkan paham mereka.

Tulisan-tulisan dalam media online yang dibuat oleh ISIS menggambarkan bahwa paham yang mereka anut seperti Islam yang konservatif dan ingin membuat negara Islam seperti dahulu kala bisa disalahkan, karena faktanya mereka malah menggunakan kekerasan dalam mencapai tujuannya.

Berbagai narasi yang telah dibuat oleh ISIS tersebut harus dilawan melalui narasi kontra terorisme, radikalisme, dan ekstremisme brutal. Kita bisa membalas paham mereka itu dengan menyebarkan paham-paham bahwa Islam yang dikonsep oleh ISIS sebenarnya tidak sesuai dengan ajaran Islam yang damai.

Memunculkan kelemahan-kelemahan dari ideologi ISIS melalui penjelasan secara lengkap suatu hadis, ayat, ataupun dalil yang sering dipakai secara sepenggal oleh ISIS dalam menyebarkan jihad menurut mereka. Setelah memiliki argumen yang benar kemudian menunjukkan bahwa ISIS tidak sesuai dengan ajaran Islam sebenarnya, dunia akan tahu bahwa ajaran atau ideologi yang dibawa oleh ISIS itu melenceng dari Alquran, Hadis, Ijma’ ataupun sumber hukum Islam yang lainnya.

Penulis sependapat dengan Ansyaad Mbai dalam bukunya “Dinamika Jejaring Teror di Indonesia dan Keterkaitannya dengan Gerakan Radikalisme Transnasional”, yang menyebutkan beberapa cabang strategi yang efektif diterapkan menghadapi radikalisasi.

Selama ini dilakukan pendekatan lembut yang dijelaskan kedalam strategi, di antaranya dengan membuat kampanye anti terorisme yang menasional, melibatkan bekas teroris dalam kampanye tersebut, mengedepankan elite polisi dan didukung TNI, memimpin perjuangan melawan teroris, dan menindak para teroris secara bijaksana dan terbuka.

Butuh pemahaman yang pasti dan aksi nyata dalam melawan kelompok terorisme yang merupakan salah satu ekstremisme brutal dari kelompok radikal. Munculnya kelompok teroris secara masif harus dilawan dengan menguatkan paham agama yang damai dari keluarga sedini mungkin. Apabila keluarga menanamkan nilai-nilai moril kedamaian dan toleransi, otomatis negara memiliki masyarakat yang toleran dan menjunjung nilai-nilai kemanusiaan.

Pendeta, alim ulama, kyai, ustad, dan para pemuka agama serta kepala adat juga bisa memberikan kontribusi melawan terorisme. Terorisme, radikalisme, dan ekstremisme sudah jelas merupakan narasi yang harus kita lawan bersama.

Berceramah, mengajarkan, ataupun menyampaikan pesan-pesan kedamaian bisa menjadi salah satu cara efektif kontra terrorism. Efektif karena biasanya masyarakat membutuhkan tokoh yang dipercayai. Mereka adalah panutan di lapisan masyarakat itu sendiri. Sehingga ajaran kedamaian itu dianggap benar dan tidak melenceng dari ideologi bangsa.

Penerapan dan penegakan UU Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme harus menggambarkan aparat penegak hukumnya yang memiliki integritas dan profesionalitas. Betapa penting dan strategisnya peranan penegak hukum dalam mewujudkan hukum yang berkeadilan. Apabila sudah tercapai profesionalitas, rakyat suatu negara pastinya memiliki kepercayaan dengan para pemimpinnya dan tidak akan muncul paham-paham kebencian yang bisa menimbulkan radikalisme.

Jika berbagai upaya telah digulirkan, maka butuh bukti nyata agar tercapainya keberhasilan dalam menurunkan stock radikalisme yang mulai menyebar. Tak lain tujuannya adalah terbentuknya masyarakat yang toleran dalam beragama dan memeluk kepercayaan masing-masing individu. Sehingga kedamaian dan ketentraman dalam kehidupan dapat dirasakan bersama.

Para generasi muda sebagai pihak yang dijadikan sasaran oleh kelompok radikalisme sebagai subjek dalam menyebarkan paham-paham radikal, tentunya harus dibendung sedini mungkin. Kampus-kampus yang menolak NKRI perlu kita padamkan secara damai tanpa perlakuan yang berapi-api. Siapkah kita melakukannya demi negara tercinta? Tentu harus!