Akhir-akhir ini kita terlalu banyak berbicara tentang tuhan. Tuhan sendiri sebenarnya sudah muak dan bosan mendengar umatnya membicarakan hal yang tidak penting. 

Iya, tidak penting. Tuhan sama sekali tidak butuh namanya digosipkan, apalagi diperalat untuk kebutuhan politik dan ekonomi. Walaupun tuhan sudah muak, saya tetap akan menggosipnya di bawah ini; tapi bukan demi kebutuhan politik atau ekonomi, melainkan demi kenyamanan negeri Ini.

Kita adalah manusia bertuhan. Untuk mengimani tuhan, kita harus berada pada suatu kelompok yang disebut agama. 

Di dalam agama, kita diajarkan bagaimana menjadi seorang yang bertuhan dengan baik. Ajaran atau doktrin agama itu berkembang sesuai kebutuhan manusia hingga saat ini. Agama kemudian menjadi sebuah wadah legitimasi moral, pusat perkembangan peradaban, dan tempat tuhan bersemayam.

Berbagai agama telah mendefinisikan tuhan secara berbeda. Hanya demi nilai toleransi, manusia dari berbagai agama sepakat bahwa tuhan yang mereka maksud adalah sama—mahakuasa dan mahabesar. Namun sebagian dari kita tetap mempertahankan definisi primitif tentang tuhan—hanya mencintai pengikutnya saja—yang akhirnya menghilangkan nilai toleransi antar-sesama manusia. 

Perbedaan pemahaman tentang tuhan yang memunculkan berbagai agama telah membawa persoalan di mana-mana dan setiap saat; perang agama, penistaan agama, (terorisme dan radikalisme), pembakaran tempat ibadah, dan lain sebagainya.

Memang, tidak ada patokan sikap toleransi yang tepat untuk agama. Kita selalu merasa kebingungan pada saat ingin bersikap toleransi terhadap agama yang lain. 

Cara bertoleransi pun harus sesuai ajaran agama masing-masing. Barang siapa yang tidak mengikuti ajaran pemuka agamanya dikucilkan menjadi kafir, yang artinya; barang siapa yang terlalu toleran akan menjadi kafir hidup-hidup! Itulah sebabnya mengapa tuhan sudah muak dengan agama yang tiap saat membicarakan dirinya dengan pemahaman yang dangkal.

Tidak hanya masalah toleransi, banyak sekali persoalan di muka bumi ini yang berlatar belakang agama. Padahal tuhan tidak menginginkan persoalan itu muncul atas dasar namanya.

Supaya suci dan bersih dari noda dosa, kita mesti bertuhan dengan tekun. Saking tekunnya kita bertuhan, agama pun kita tuhankan dan tuhan kita agamakan. Agama kita letakkan di dalam hati, sementara tuhan kita letakkan jauh-jauh setelah kematian. 

Agama dan tuhan memang dua hal yang berbeda. Butuh kecerdasan untuk menyatukan dan memahaminya.

Menuntut Tuhan-Tuhan

Siapa yang bertanggung jawab atas kasus penistaan agama, pembubaran umat yang sedang berdoa, pembakaran tempat beribadah, dan persoalan agama lainnya? Hukum? Tidak bisa!

Hukum dan ayat-ayatnya, posisinya, berada jauh di bawah surat-surat suci beserta tetek bengek penafsirannya. Yang menafsir ayat-ayat itu pun derajat dan kecerdasannya jauh di atas hakim-hakim dan pemimpin negara.

Karena setiap agama menolak tuhan universal, maka tuhan dari setiap agama harus bertanggung jawab atas masalah ini. 

Tuhan dari setiap agama tidak perlu turun dari surganya masing-masing. Cukup menurunkan ayat-ayat pembaruan yang isinya pesan damai bagi semua umat. Karena bahasa tuhan sangat rumit, suruhlah pemuka agama menerjemahkan dan melakukan penafsiran yang tepat sesuai yang tuhan maksud.

Dalam tuntutan ini, saya meminta tuhan tidak perlu menggunakan pengacara untuk membela. Untuk membelamu, cukup dengan dukungan morel, yaitu berdoa. Tuhan tidak perlu menggerakkan massa untuk meneriakkan namamu di jalanan ke sana-ke sini. Suruh saja mereka pergi ke tempat ibadah untuk berdiskusi tentang masa depan bangsa.

Banyak persoalan bangsa yang terlupakan gara-gara manusia sibuk mengurusimu yang tidak butuh diurus. Lihat, bangsa Papua ingin memerdekakan diri gara-gara tidak diperhatikan dan gara-gara rasialisme. Suruhlah umatmu melakukan aksi damai melalui tindakan nyata. 

Perekonomian hampir tumbang yang katanya gara-gara Jokowi memimpin. Minta mereka berdoa bagi Jokowi. Suruh mereka jangan malas dan tidur-tiduran: kerja, kerja, kerja!

Tuhan harus bertanggung jawab atas masalah HAM yang belum tuntas, karena kepolisian sudah serahkan kepada Tuhan. Beritahu polisi itu: jangan nakal!

Tuntutan saya sudah berlebihan. Abaikan tuntutan tentang HAM. Saya hanya ingin tuhan kembali ke surga berbagai agama dan berdiam dengan tenang di sana.

Rekonsiliasi Tuhan dan Umat Beragama

Tuhan sungguh tidak suka atas semua peristiwa atas nama tuhan akhir-akhir ini. Di samping itu, tuhan harus bertanggung jawab atas dampak wabah agama yang menyertai nama tuhan sendiri.

Beratus tahun lalu Karl Marx meramal agama akan punah. Nyatanya sekarang agama justru kian menguat dan meracuni manusia hingga ke dalam tulang-belulang.

Sehingga sekarang terjadilah pertengkaran tuhan dan manusia beragama. Tuhan tidak menginginkan namanya diperalat untuk kepentingan politik, ekonomi, dan lainnya. Di lain pihak, manusia makin intens "menelanjangi" tuhan dan menyeretnya ke mana-mana. Pertikaian ini menolak hukum teologis.

Dari awal tulisan ini saya telah memanusiakan tuhan. Itu saya lakukan atas kecurigaan saya terhadap pemuka agama yang menuhankan diri dan agamanya. Oleh karena itu, rekonsiliasi tuhan dan manusia terjadi apabila terjadi dialog antara keduanya. 

Umat beragama tentu mengenal cara berkomunikasi dengan tuhan; berdoa. Konsep berdoa sudah banyak dikenal melalui berbagai macam perspektif. Konsep berdoa dari berbagai agama tentu sepakat bahwa bahwa berdoa merupakan cara mempererat hubungan manusia dan tuhan.

Selain berdoa, memanusiakan manusia lain merupakan tindakan atas nama tuhan. Tuhan sungguh senang apabila kita sibuk menolong sesama, mengajari sesama dengan penuh cinta kasih. 

Hubungan tuhan dan manusia tidak hanya terjalin sebatas ruang berdoa. Tindakan baik dan teladan manusia terhadap sesamanya merupakan wujud aksi atas nama tuhan.

Tuhan, agama, dan manusia adalah tiga unsur pembentuk peradaban manusia.  Kita harus memahami dan menjaganya.